Metode Hisab dalam Penetapan Bulan Hijriah – Sebuah Pengantar Risalah…

Bismillāh, wash-shalātu was-salāmu `alā rasūlillāh, wa `alā ālihi wa shahbihi wa man tabi`ahum bi ihsān ilā yawmil qiyāmah, amma ba`d:

Pada tahun ini, 1433 Hijriah atau 2012 Masehi, potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan dan `Idul Fithri kembali terjadi. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan bahwa awal Ramadhan jatuh hari Jumat, 20 Juli 2012, berdasarkan hisab hakiki wujud hilal. Sedangkan pemerintah baru akan menetapkannya melalui sidang itsbāt yang akan digelar pada Kamis malam, tanggal 19 Juli 2012.

Termasuk hal yang sangat disesalkan sekiranya kaum Muslim di satu negeri tidak dapat melaksanakan awal puasa dan hari raya secara bersama-sama. Idealnya, kebersamaan itu terwujud bagi seluruh kaum Muslim di seluruh penjuru bumi dalam naungan satu kekhilafahan Islam. Namun, sekiranya kondisi ideal ini belum terwujudkan, minimal kebersamaan tersebut terealisasi untuk satu negeri Muslim.

Kebersamaan dimaksud tidak dapat terwujudkan kecuali apabila para individu dan organisasi masyarakat Muslim mau merendahkan ego mereka dan berlapang dada untuk mengikuti keputusan pemerintahan Muslim dalam hal ini. Selama masih dalam ranah ijtihād yang diperkenankan, pendapat pribadi atau kelompok seharusnya dikalahkan dengan keputusan pemerintah Muslim. Hal ini sebagaimana kaidah fiqh yang menyatakan:

حُكْمُ الْحَاكِم إِلْزَامٌ وَيَرْفَعُ الْخِلاَف

Keputusan hakim (pemerintah Muslim) bersifat mengikat dan menyelesaikan perselisihan pendapat.” [Lihat misalnya al-Asybāh wa al-Nazhā-ir, karya al-Suyūthiy, hlm. 755, dan berbagai literatur lainnya.]

Kali ini saya tidak membahas tentang keharusan mengikuti pemerintah Muslim dalam penentuan awal Ramadhan dan hari raya. Artikel yang membahas hal tersebut secara detail sudah cukup banyak jumlahnya dan dapat dengan mudah ditemukan di dunia maya, alhamdulillāh. Di sini saya justru akan mengangkat pendapat individual tentang bagaimana seharusnya penentuan awal bulan Hijriah dilaksanakan, termasuk untuk bulan Ramadhān. Tentu saja pendapat individual ini sama sekali bukan untuk menafikan atau keluar dari keputusan pemerintah Muslim. Saya pribadi pun akan melaksanakan puasa dan hari raya dengan mengikuti keputusan otoritas pemerintah Muslim, sekalipun mungkin keputusan pemerintah itu tidak sejalan dengan fiqh yang saya anut.

Terkait penetapan awal bulan Hijriah dengan metode hisab, beberapa waktu lalu terdapat diskusi cukup hangat antara saya dan beberapa teman di Facebook mengenai masalah ini, khususnya untuk penetapan awal Ramadhan. Sejumlah teman berpandangan bahwa penetapan awal bulan Ramadhan harus menggunakan metode rukyat, sebagaimana pendapat mainstream (kalau boleh disebut demikian), sementara saya cenderung kepada pendapat yang menguatkan penggunaan metode hisab pada zaman modern ini.

Dahulu, saya juga mengikuti mainstream. Namun, seiring dengan penambahan pengetahuan dan referensi, pendapat saya pun berubah. Salah satu referensi yang mengubah pendirian saya adalah risalah ilmiah yang ditulis oleh Syaykh Ahmad Syākir rahimahullāh, seorang pakar hadits Mesir pada masanya, yang berjudul Awā-il al-Syuhūr al-`Arabiyyah, Hal Yajūzu Syar`an Itsbātuhā bi al-Hisāb al-Falakiy? [Permulaan Bulan-bulan Arab, Apakah dapat Ditetapkan dengan Hisab Falak?] Risalah ini ditulis pada bulan Dzul Hijjah tahun 1357 H atau bulan Februari 1939, atau lebih dari 70 tahun lalu!

Hasil scan risalah tersebut, dengan versi cetakan ke-2 Maktabah Ibn Taymiyyah, tahun 1407 H, dapat diunduh antara lain di alamat: http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=91477.

Risalah tersebut telah saya alihbahasakan, dan in syā-allāh akan dimuat di blog saya setelah tulisan ini. Bahkan, maksud utama dari tulisan ini hanyalah sebagai pengantar dari risalah ilmiah tersebut.

Mirip kejadian yang saya alami, Syaykh Ahmad Syākir pada mulanya menentang penggunaan metode hisab untuk penentuan awal bulan Ramadhan dan semisalnya. Namun, beliau kemudian justru berada di garda depan kalangan yang berpendapat tentang keharusan penggunaan metode hisab di zaman modern ini. Beliau mempersenjatai pendapatnya dengan berbagai argumentasi ilmiah dan logis, dengan tetap menjadikan Quran dan Sunnah sebagai sandaran. Jika lebih dari 70 tahun lalu beliau sudah menegaskan demikian, maka dapat dibayangkan jika beliau hidup di era sekarang yang jauh modern. Demikianlah dinamika keilmuan, ia tidak mengenal kebekuan. Al-’ilm la yaqbal al-jumūd.

Sebelum pembaca menikmati tulisan Syaykh Ahmad Syākir tersebut, mari kita bernostalgia ke masa lampau dan merenungkan beberapa hal.

Bayangkan jika Anda hidup dalam masyarakat Arab daerah gurun pasir pada abad ke-6 dan 7 Masehi. Kondisi sains yang berkaitan dengan astronomi pada zaman itu yang tentu saja masih sederhana dan terbatas. Adapun kondisi masyarakat, maka jangankan mengetahui sains secara mumpuni, mayoritas bangsa Arab masa itu bahkan buta huruf dan tidak dapat berhitung. Sains merupakan sesuatu yang asing bagi mereka. Ucapan para ilmuan yang memang langka jumlahnya tentu menjadi hal yang aneh dan sulit dipercaya oleh masyarakat, selain kondisi sains yang memang sangat terbatas pada masa tersebut.

Jika demikian kondisinya, maka penentuan awal bulan berdasarkan pengamatan langsung (baca: rukyat) merupakan suatu yang niscaya, praktis dan maslahat pada masa itu. Penerapan metode hisab dalam kondisi demikian tentu bukan merupakan pilihan yang tepat, dan bahkan menyulitkan.

Nabi r bersabda,

إِنَّا أُمَّة أُمِّيَّة، لاَ نْكُتْب وَلاَ نَحْسبُ، الشَّهْرُ هكَذَا وَهكَذَا

Kami adalah umat yang ummiy, tidak dapat membaca dan berhitung (melakukan hisab). Bulan itu begini dan begini.” Maksud beliau, terkadang satu bulan terdiri dari dua puluh sembilan hari atau tiga puluh hari. [HR al-Bukhāriy II/675/1184, Muslim II/759/1080, dan lain-lain.]

Zahir hadits tersebut jelas, bahwa Nabi r sangat memperhatikan kondisi masyarakat pada zamannya. Beliau adalah Nabi yang ummiy, yang berada di tengah kaum yang ummiy pula. Karena itulah diterapkanlah metode rukyat yang sejalan dengan kondisi masyarakat.

Redaksi hadits: “Kami adalah ummat yang ummiy…” merupakan `illat bagi penetapan awal bulan dengan metode rukyat, atau dengan penyempurnaan bilangan bulan ketika rukyat terhalang untuk dilakukan. Telah umum diketahui dalam kaidah Ushūl Fiqh bahwa penetapan hukum berlangsung seiring dengan eksistensi `illat-nya. Jika `illat-nya hilang, maka hukum tersebut menjadi tidak berlaku.

الْحُكْمُ إِذَا ثَبَتَ بِعِلَّةٍ زَالَ بِزَوَالِهَا

“Jika suatu hukum tertetapkan dengan `illat tertentu maka hukum itu menjadi tidak berlaku jika `illat-nya hilang. [Lihat al-Wajīz fī Īdlāh Qawā`id al-Fiqh al-Kulliyyah, karya Dr. Muhammad Shidqī ibn Ahmad ibn Muhammad al-Būrnū, cet. V Mu-assasah al-Risālah, Beirut, 1419 H/1998 M, hlm. 80 – 81. Lihat pembahasan yang cukup detail tentang `illat dalam Ushūl al-Fiqh al-Islāmiy, Prof. Dr. Wahbah al-Zuhayliy, cet. I Dār al-Fikr, Beirut, 1406 H/1986 M, vol. I, hlm. 652 – 695, dan berbagai literatur ushūl fiqh lainnya.]

Hal ini sejalan pula dengan kaidah fiqh:

الْعِبرَةُ لِلْغَالِبِ الشَّائِعِ لاَ لِلنَّادِرِ

“Yang menjadi acuan adalah kondisi mayoritas yang tersebar, dan bukan kondisi yang langka.” [Lihat misalnya al-Qawā`id al-Fiqhiyyah, karya Dr. `Abdul `Azīz Muhammad `Azzām, cet. Dār al-Hadīts, Kairo, 1426 H/2005 M, hlm. 189 – 190, dan berbagai literatur lainnya.]

Apa korelasi kaidah fiqh di atas dalam permasalahan ini? Kita tahu mayoritas masyarakat di zaman Nabi r adalah kaum ummiy (buta tulis dan hitung). Karena itu, yang menjadi acuan dalam penetapan hukum adalah kaum ummiy tersebut. Bagaimana dengan kondisi mayoritas masyarakat Muslim sekarang, apakah sama dengan dahulu? Tentu jawabannya tidak. Mayoritas kaum Muslim zaman ini merupakan bagian dari masyarakat sains dan teknologi. Nah, jika dahulu metode rukyat dipilih karena mengacu pada kondisi kaum ummiy,maka hisab adalah keniscayaan bagi masyarakat sains dan teknologi pada era modern.

Hadits di atas juga seolah-olah memberikan isyarat yang halus bagi generasi sekarang bahwa mereka tidak harus mengikuti praktek generasi pendahulu. Hadits itu seolah mengisyaratkan pernyataan berikut: “Metode rukyat dan penyempurnaan bulan itu berlaku bagi kami, kaum yang didominasi oleh orang-orang yang ummiy. Pada dasarnya, kebanyakan kami memang tidak dapat menulis dan berhitung (melakukan hisab). Karena itu, jika di masa mendatang nanti muncul generasi baru yang bukan ummiy, bahkan mereka mampu memperhitungkan posisi bulan secara pasti dan akurat (qath`iy), maka mereka dipersilakan meninggalkan metode rukyat dan beralih kepada hisab.”

Coba kita bayangkan seandainya Nabi r hidup di era sains dan teknologi sekarang. Saat manusia mampu memprediksi posisi bulan hanya dengan perhitungan semata secara akurat dan pasti (qath`iy). Tidak meleset sedikit pun. Bayangkan sekiranya beliau berada di tengah-tengah kondisi kita, apakah metode rukyat sebagaimana zaman dahulu tetap diberlakukan? Saya pribadi tidak meyakini kemungkinan tersebut.

Kenyataannya, saat ini kita menggunakan hisab dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari. Kita menggunakan hisab dalam penentuan waktu shalat, dan kita memercayainya seratus persen. Dan, memang hal itu sama sekali tidak salah. Jika dahulu, posisi matahari untuk penentuan waktu shalat diamati dengan mata telanjang atau rukyat, maka sekarang kita cukup melihat jam sebagai alat konversi dan memperhatikan jadwal shalat yang telah diperhitungkan jauh-jauh hari sebelumnya secara tepat (baca: hisab). Jika kita dapat menggunakan hisab untuk penentuan waktu shalat, maka demikian pula seharusnya untuk penentuan awal bulan. Tidak ada bedanya.

Kalangan yang tidak sependapat mungkin akan bersikeras mengatakan bahwa hisab tidak dapat digunakan karena bertentangan dengan praktek Nabi r dan dalil-dalil tekstual yang memerintahkan rukyat. Kami telah menjawabnya, bahwa kondisi yang melatarbelakangi praktek rukyat di zaman Nabi r jauh berbeda dengan kondisi zaman kita. Di sisi lain, dalil-dalil tekstual dalam hal ini memiliki `illat, yaitu bahwa Nabi r berada pada kaum yang ummiy, dan `illat tersebut menjadi tidak berlaku untuk zaman ini.

Pada kenyataannya, perbedaan pendapat yang terjadi dalam penentuan awal bulan bukan disebabkan oleh perbedaan terhadap validitas hasil hisab atas realitas posisi bulan. Perbedaan pendapat yang ada justru tentang apakah hisab dapat menjadi sarana yang dibenarkan oleh syariah untuk menghukumi realitas tersebut. Faktanya, perbedaan pendapat bukan terjadi di kalangan para astronom atau ahli sains, atau atas realitas ilmiah. Perbedaan justru terjadi di kalangan yang menisbatkan dirinya kepada syariah!

Saya kira kita semua sepakat bahwa baik hisab maupun rukyat hanyalah merupakan sarana (wasā-il), dan bukan tujuan. Adapun tujuannya, adalah untuk menentukan bahwa awal bulan baru telah terealisasi secara meyakinkan dan pasti. Karena itulah, pada zaman dahulu, dalam kondisi mendung yang meragukan, hadits-hadits memerintahkan untuk menyempurnakan bulan sebelumnya menjadi 30 hari. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqh:

الْيَقِيْنُ لاَ يَزُوْلُ بِالشَّكِّ

Suatu yang yakin tidak dapat hilang/digantikan dengan suatu yang meragukan.” [Lihat misalnya al-Qawā`id al-Fiqhiyyah, karya Dr. `Abdul `Azīz Muhammad `Azzām, cet. Dār al-Hadīts, Kairo, 1426 H/2005 M, hlm. 95 – 100, dan berbagai literatur lainnya.]

Kaidah fiqh juga menyatakan:

إِذَا تَعَارَضَتْ الْمَقَاصِدُ وَالْوَسَائِلُ تَعَيَّنَ تَقْدِيْمُ الْمَقَاصِدِ عَلَى الْوَسَائِلِ

“Jika terjadi kontradiksi antara sarana dan tujuan, maka dipastikan tujuan lebih dikedepankan dibandingkan sarana.” [Lihat misalnya al-Wajīz fī Īdlāh Qawā`id al-Fiqh al-Kulliyyah, karya Dr. Muhammad Shidqī ibn Ahmad ibn Muhammad al-Būrnū, cet. V Mu-assasah al-Risālah, Beirut, 1419 H/1998 M, hlm. 80 – 81 dan literatur lainnya.]

Dengan demikian, jika metode hisab (sarana) pada saat ini telah memberikan derajat keyakinan dan kepastian (qath`iy) terhadap penentuan awal bulan (tujuan), bahkan ia juga mendatangkan kemudahan dan kemaslahatan, maka berdasarkan kaidah fiqh tersebut, ia memiliki implikasi hukum yang valid.

Kalangan yang tidak sependapat sekali lagi akan menyatakan keberatannya dengan menggunakan alasan sebelumnya, bahwa meskipun hisab adalah sarana dan bukan tujuan, namun mereka bersikeras bahwa hisab adalah sarana yang dinafikan oleh Nabi r. Jawaban kami masih sama, bahwa penafian tersebut memiliki `illat dan latar belakang kondisi yang berbeda.

Sekiranya kita bisa mengompromikan serta mengharmonisasikan antara dalil dan realitas (juga sains), bukankah itu yang lebih utama untuk ditempuh? Toh semuanya berasal sumber yang satu: Dzat yang Maha Esa, Allah `Azza wa Jalla.

Jika kita bersikeras agar metode rukyat diterapkan pada zaman ini, saya khawatir orang-orang yang tidak suka dengan Islam akan mendapat amunisi untuk melakukan propaganda negatif dan stigmatisasi terhadap Islam. Bisa jadi mereka akan menyatakan bahwa Islam merupakan agama yang teralienasi dari sains, ilmu pengetahuan dan teknologi.

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sebagai fitnah (sasaran) bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS al-Mumtahanah/60: 5.]

Baik, sebelum pembaca menikmati sendiri tulisan Syaykh Ahmad Syākir rahimahullāh, untuk mempermudah pembaca ada baiknya saya sampaikan enam poin kesimpulan dari risalah beliau, yang saya pada umumnya setuju dengan pendapat-pendapat beliau tersebut.

Pertama: Penggunaan metode hisab dalam penentuan awal bulan Hijriah pada masa sekarang merupakan suatu keniscayaan.

Kedua: Metode rukyat masih berlaku bagi komunitas orang yang tidak sampai kepadanya informasi tentang penetapan awal bulan berdasarkan hisab, sementara di kalangan tersebut tidak terdapat individu yang kompeten untuk melakukan hisab. Misalnya kaum Muslim yang hidup di pedalaman atau pegunungan.

Ketiga: Metode hisab yang diberlakukan adalah hisab hakiki terhadap wujud hilal (sebagaimana halnya yang digunakan oleh organisasi Muhammadiyah di Indonesia).

Keempat: Lokasi acuan untuk penentuan awal bulan dengan metode hisab adalah kawasan Mekah, sebagaimana halnya Ka`bah menjadi kiblat bagi kaum Muslim. (Beliau memaparkan argumentasi yang sangat menarik untuk menjelaskan hal ini, dengan merujuk pada teks Quran dan Sunnah.)

Kelima: Penetapan awal bulan dimaksud berlaku untuk seluruh negeri Muslim.

Keenam: Kriteria imkān al-ru`yah (kriteria visibilitas rukyat; sebagaimana yang saat ini banyak didengungkan) adalah kriteria yang tidak perlu dianggap dalam metode hisab. Sebab, bulan baru terealisasi dengan semata wujud hilal, dengan tanpa memperdulikan kemungkinan apakah hilal itu terlihat atau tidak. (Menurut saya, penambahan kriteria imkān al-ru`yah, sebagai bentuk penggabungan metode rukyat dan hisab, justru merupakan paradoks. Kriteria imkān al-ru`yah juga berkorelasi erat dengan pendapat yang menyatakan bahwa metode hisab dapat digunakan hanya untuk penafian, dan bukan untuk penetapan, sebagaimana dianut oleh sejumlah ulama kontemporer. Ini juga paradoks. Wallāhu a`lam.)

Argumentasi dan paparan beliau untuk poin-poin di atas dapat dilihat langsung pada risalah beliau.

Sekiranya saja pendapat Syaykh Ahmad Syākir rahimahullāh dalam masalah ini dapat diterima oleh umat Islam, niscaya setiap Muslim di seluruh penjuru bumi akan bersatu padu dalam penetapan waktu Ramadhan, hari raya, dan lain sebagainya.

Demikian, saya juga berharap sekiranya saja ada penerbit buku-buku Islam yang bersedia menerjemahkan dan menerbitkan risalah ilmiah karya beliau untuk dapat dinikmati oleh khalayak ramai dan menjadi kekayaan khazanah literatur Islam di Indonesia.

إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ

Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan sesuai kesanggupanku. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” [QS Hūd/11: 88.]

Bekasi, Kamis sore menjelang Maghrib, 29 Sya`bān 1433 H, bertepatan dengan 19 Juli 2012,

~adni kurniawan http://adniku.com

****************************************

[Risalah ilmiah Syaykh Ahmad Syākir rahimahullāh: Awā-il al-Syuhūr al-`Arabiyyah... telah kami upload melalui artikel yang terpisah, beberapa saat setelah artikel ini terbit. Rencana awalnya, risalah tersebut kami jadikan satu dengan pengantar di atas. Namun dikarenakan panjangnya artikel, kami memilih untuk menyendirikan risalah beliau pada artikel yang terpisah.]

Be Sociable, Share!
Filed in: 10 Author's Choice, Fiqh, Isu-isu Kontemporer, Pengetahuan Keislaman, Puasa Tags: , , ,

You might like:

Terjemah: Awā-il al-Syuhūr al-`Arabiyyah… Karya Syekh Ahmad Syākir Terjemah: Awā-il al-Syuhūr al-`Arabiyyah… Karya Syekh Ahmad Syākir
Berpuasa Sunnah Sebelum Meng-qadha Ramadhan Berpuasa Sunnah Sebelum Meng-qadha Ramadhan
Menyempurnakan Puasa ‘Syawwal’ di Luar Bulan Syawwal? Menyempurnakan Puasa ‘Syawwal’ di Luar Bulan Syawwal?
Mengharamkan yang Halal Lebih Berat Dosanya Dibandingkan Menghalalkan yang Haram! Mengharamkan yang Halal Lebih Berat Dosanya Dibandingkan Menghalalkan yang Haram!

14 Responses to "Metode Hisab dalam Penetapan Bulan Hijriah – Sebuah Pengantar Risalah…"

  1. Muhammad says:

    Mulai berpuasa dan berbuka tetaplah berdasarkan peredaran matahari dan/atau bulan. Begitu juga dengan waktu-waktu shalat. Adapun jadwal waktu shalat abadi, kalender, atau jam; maka itu adalah alat bantu, bukan sebagai penentu.

    Ketika Allah ta’ala melalui lisan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa puasa dimulai ketika melihat bulan, dan berakhir dengan melihat bulan juga; maka Dia tidaklah lupa bahwa umatnya kelak akan mengenal jam, kalender, ilmu hitung, dan ilmu perbintangan. Dan perintah untuk melihat bulan bukanlah untuk mwnjawab keummian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya di waktu itu. Perintah ini mengandung hikmah yang besar sesuai dengan universalan Islam. Ia dapat dipahami dan dipraktekkan oleh semua orang yang berakal, di setiap tempat, dan di setiap waktu.

    Ketika Allah ta’ala mengatakan bahwa bangsa Arab (waktu itu) adalah bangsa yang ummi yang tidak bisa baca tulis, maka syari’at telah menganjurkankan mereka untuk membaca/menulis dan mempelajarinya. Allah tidaklah lupa untuk itu. Namun ketika syari’at memerintahkan untuk melihat bulan, maka ia tidak memerintahkan selain darinya (baca : ilmu hisab falakiy). Padahal Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berdoa untuk Mu’aawiyyah :

    اللهم علم معاوية الكتاب والحساب وقه العذاب

    “Ya Allah, anugerahkanlah kepada Mu’awiyah ilmu Al-Kitab (Al-Qur`an) dan Al-Hisab (ilmu hitung) serta jauhkanlah ia dari adzab.” [Diriwayatkan oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Albaaniy dalam Ash-Shahihah : 3227].

    Tidak ternukil satu riwayat dari beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Mu’aawiyyah untuk mempelajari ilmu hisab falakiy. Tidak ternukil pula riwayat dari Mu’aawiyyah hingga ia meninggal dunia, ia mempelajari ilmu hisab falakiy atau memerintahkan kaum muslimin untuk mempelajari ilmu hisab falakiy. Dan sekali lagi, Allah tidaklah lupa. Jika memang itu inti syari’at dalam penentuan ibadah (shalat atau puasa), niscaya Allah dan Rasul-Nya akan memerintahkannya…..

  2. Muhammad says:

    Berpuasa pada Hari Jum’at atau Hari Sabtu?

    Tanya:

    Ustadz, saya ingin menanyakan. Apakah puasa Ramadhan mulai pada hari Jum’at ataukah hari Sabtu? Apa dasarnya?

    Terima kasih.

    Di Jawab oleh Ustadz Dzulqarnain M Sunusi

    … Jawab:

    Untuk menjawab pertanyaan di atas, sebenarnya banyak hal yang perlu kami jelaskan. Telah ada niatan kami untuk menyusun sebuah buku tersendiri yang mengupas polemik yang berkaitan dengan metode penentuan masuk dan keluarnya bulan -baik Ramadhan maupun selainnya- karena keunikan negeri kita ini, negeri Indonesia, yang mungkin tidak terjadi pada negeri-negeri lain akan terjadinya silang pendapat dalam penentuan hari-hari penting umat Islam. Yang lebih disayangkan adalah bahwa silang pendapat ini hampir terjadi setiap tahun belakangan ini, termasuk pada tahun 1433 H ini. Semoga Allah mewujudkan niat tersebut pada masa mendatang.

    Namun, untuk pertanyaan di atas, kami akan menjawab secara ringkas dengan beberapa keterangan sebagai berikut.

    Pertama, dalam Islam, penentuan masuknya bulan Ramadhan dan bulan lainnya hanyalah dikenal dengan cara melihat hilal.

    Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

    فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

    “… Maka, barangsiapa di antara kalian yang menyaksikan bulan, hendaknya ia berpuasa ….” [Al-Baqarah: 185]

    Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُمِّيَ عَلَيْكُمْ الشَّهْرُ فَعَدُّوْا ثَلَاثِيْنَ

    “Berpuasalah kalian karena melihat (hilal) tersebut, dan ber¬bukalah kalian karena melihat (hilal) tersebut. Lalu, apabila tertutupi dari (pandangan) kalian, sempurnakanlah bulan (Sya’ban) tersebut menjadi tiga puluh (hari).” [1]

    Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

    «إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسُبُ، الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا» وَعَقَدَ الْإِبْهَامَ فِي الثَّالِثَةِ «وَالشَّهْرُ هَكَذَا، وَهَكَذَا، وَهَكَذَا» يَعْنِي تَمَامَ ثَلَاثِينَ

    “Sesungguhnya kami adalah umat ummiyah, kami tidak menulis dan tidak menghitung. Bulan itu begini, begini, dan begini -seraya beliau melipat ibu jarinya pada kali ketiga (yakni dua puluh sembilan hari)-. Bulan itu begini, begini dan begini -yakni tiga puluh hari secara sempurna -.” [2]

    Dari dua hadits di atas -dan banyak lagi hadits lainnya- dapat diketahui bahwa, dalam Islam, jumlah hari dalam sebulan hanyalah dua puluh sembilan atau tiga puluh hari. Tidaklah dikenal bahwa bulan Islam berakhir dengan tanggal 28 atau 31.

    Dari ayat dan hadits-hadits di atas, kita bisa mengetahui secara pasti bahwa penentuan masuknya bulan dalam Islam hanyalah dengan dua cara:

    Rukyat hilal, yaitu penampakan hilal setelah matahari terbenam pada tanggal 29.
    Ikmâl ‘penyempurnaan’, yaitu menyempurnakan bulan menjadi tiga puluh hari di kala hilal tidak terlihat pada tanggal 29 setelah matahari terbenam.

    Ibnu Hubairah berkata, “(Para ulama) bersepakat bahwa puasa Ramadhan menjadi wajib dengan rukyat hilal atau meng-ikmâl Sya’ban menjadi tiga puluh hari ketika tidak ada rukyat, sedang mathla’ kosong dari penghalang untuk melihat.”[3]

    Demikian pula dinukil kesepakatan oleh Ibnul Mundzir sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Hajar[4].

    Kedua, penentuan masuknya bulan dengan ilmu hisab atau ilmu falak adalah hal yang tidak dikenal dalam Islam.

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya kita mengetahui secara aksioma dalam agama Islam bahwa dalam rukyat hilal puasa, haji, iddah, îlâ`, dan selainnya berupa hukum-hukum yang berkaitan dengan hilal, beramal (padanya) dengan menggunakan berita ahli hisab -bahwa hilal dilihat atau belum- adalah tidak boleh. Nash-nash mustafîdhah dari Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tentang hal tersebut sangatlah banyak. Kaum muslimin telah bersepakat tentang (ketidakbolehan penggunaan berita ahli hisab) tersebut. Sama sekali tidaklah diketahui ada silang pendapat dalam hal tersebut – baik dahulu maupun belakangan-, kecuali sebagian orang-orang belakangan setelah abad ke-3 yang senang dengan ilmu fiqih. (Orang tersebut) menyangka bahwa ahli hisab boleh beramal dengan hisab untuk dirinya sendiri jika hisabnya menunjukkan rukyat. Bila tidak menunjukkan, hal tersebut tidak diperbolehkan. Pendapat ini -walaupun terbatas pada keadaan mendung dan terkhusus bagi si ahli hisab itu sendiri- adalah pendapat yang syâdz ‘aneh, ganjil’, telah diselisihi oleh ijma’ (kesepakatan ulama) sebelumnya. Adapun mengikuti (ilmu hisab) tersebut dalam keadaan (cuaca) tidak berawan atau memakai (ilmu hisab) sebagai hukum umum pada segala keadaan, hal tersebut tidaklah diucapkan oleh seorang muslim pun.”[5]

    Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa kerusakan penggunaan ilmu hisab dalam penentuan masuknya Ramadhan bisa disimpulkan pada empat perkara:

    Menyalahi ayat dan hadits-hadits yang menjelaskan bahwa masuknya bulan hanyalah dengan dua cara: rukyat hilal dan ikmâl.
    Membuang jalan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam penentuan masuknya bulan dengan memakai ilmu hisab sebagai pengganti (jalan) tersebut.
    Menentang jalan dan kesepakatan para shahabat radhiyallahu ‘anhum yang tidak pernah menggunakan ilmu hisab.
    Menyelisihi kesepakatan ulama yang telah diterangkan oleh Ibnu Taimiyah[6], Ibnu ‘Abdil Barr[7], dan selainnya.

    Hendaknya orang-orang yang mengumpulkan empat kerusakan di atas bersiap untuk menuai ancaman Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana dalam firman-Nya,

    وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا.

    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul, sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dia kuasai itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, sedang Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” [An-Nisâ`: 115]

    Namun, kami perlu mengingatkan bahwa keterangan di atas tidak menunjukkan akan keharaman penggunaan ilmu hisab dalam hal yang diperbolehkan. Kami hanya menegaskan kesalahan orang-orang yang menggunakan ilmu hisab sebagai penentu final masuknya bulan.

    Keempat, hilal adalah bulan sabit kecil yang muncul pada awal bulan.

    Orang Arab menyebut bulan sabit kecil pada malam pertama, kedua, dan ketiga dengan nama hilal. Adapun bulan yang muncul pada malam keempat dan seterusnya, orang Arab menyebutnya dengan nama qamar (bulan).[8]

    Hilal, yang dianggap sebagai tanda awal bulan, adalah bulan sabit kecil yang tampak setelah matahari terbenam. Telah datang sejumlah atsar dari para shahabat yang menunjukkan bahwa hilal yang teranggap sebagai awal bulan adalah yang terlihat setelah matahari terbenam[9]. Bahkan, Ibnu Hazm menukil kesepakatan ulama tentang hal tersebut[10].

    Dari penjelasan di atas, bisa diketahui dua kesalahan yang sering terjadi:

    Menganggap bahwa hilal mungkin terlihat sebelum matahari terbenam.

    Anggapan tersebut telah kita jumpai pada kejadian Kamis sore kemarin, 19 Juli 2012, yaitu bahwa seseorang orang menganggap telah melihat hilal pada pukul 17:53, padahal waktu Maghrib di wilayah tersebut masih beberapa menit lagi.

    2. Pembatasan bahwa tinggi hilal ketika dilihat hanya sah bila berada pada dua derajat atau lebih.

    Ini adalah pembatasan yang tidak benar karena Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memberi tuntunan dengan hitungan ketinggian dua derajat, tetapi beliau memberi tuntunan umum bagi siapa saja yang melihat hilal, yakni pada ketinggian berapapun setelah matahari terbenam.

    Kelima, penentuan masuknya bulan adalah wewenang pemerintah (Ulil Amri).

    Imam Ibnu Jamâ’ah Asy-Syâfi’iy menjelaskan tentang wewenang pemerintah, yang merupakan kewajibannya kepada rakyat, “Wewenang Ketiga: penegakan simbol-simbol Islam, seperti shalat-shalat wajib, shalat Jum’at, shalat berjamaah, adzan, iqamah, khutbah, dan keimaman. Juga mengawasi urusan puasa, berbuka, hilal, haji ke Baitullah, dan umrah. Juga memperhatikan hari-hari Id ….”[11]

    Oleh karena itu, saat pemerintah Indonesia telah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada Sabtu, 21 Juli 2012 M, karena seluruh titik pemantauan hilal dari lembaga pemerintah maupun pihak-pihak lainnya tidak melihat hilal pada Kamis sore, 19 Juli 2012 M, maka pemerintah menetapkan ikmâl Sya’ban menjadi tiga puluh hari. Putusan tersebut telah benar dan telah berdasarkan petunjuk Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam dalam penentuan masuknya bulan.

    Kewajiban kita, selama pemerintah tidak memerintah dalam hal yang mungkar, adalah taat kepada mereka dalam hal yang ma’ruf. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman,

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

    “Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah, serta taatlah kepada Rasul-Nya dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisâ`: 59]

    Dari ‘Ubâdah bin Ash-Shâmit radhiyallâhu ‘anhu, beliau berkata,

    ((دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ، فَقَالَ فِيْمَا أَخَذَ عَلَيْنَا: أَنْ بَايَعْنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا، وَمَكْرَهِنَا، وَعُسْرِنَا، وَيُسْرِنَا، وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحاً عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ)).

    “Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam memanggil kami, lalu kami membaiat beliau, dan di antara (janji) yang beliau ambil atas kami adalah, ‘Kami berbaiat untuk mendengar dan menaati (pemimpin) dalam keadaan semangat dan terpaksa, serta dalam keadaan mudah dan susah, meski terjadi pementingan hak pribadi terhadap kami, serta kami tidak boleh menggugat perkara itu dari pemiliknya, kecuali bila kalian melihat kekufuran yang sangat nyata, yang kalian memiliki argumen tentang (kekufuran) itu di sisi Allah.’.”[12]

    Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

    ((إِسْمَعْ وَأَطِعْ فِيْ عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ، وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ، وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ، وَإِنْ أَكَلُوْا مَالَكَ، وَضَرَبُوْا ظَهْرَكَ إِلَّا أَنْ يَكُوْنَ مَعْصِيَةً)).

    “Dengar dan taatlah pada waktu susah dan mudah serta dalam keadaan bersemangat dan terpaksa, meski terjadi pementingan hak pribadi terhadapmu, juga walaupun mereka memakan hartamu dan memukul punggungmu, kecuali jika hal tersebut merupakan suatu maksiat.” [13]

    Hadits-hadits yang semakna dengan hadits di atas sangatlah banyak.

    Keenam, terjadi silang pendapat di kalangan ulama bahwa, bila hilal telah terlihat pada suatu negeri, apakah rukyat hilal tersebut berlaku juga untuk penduduk negeri yang lain?

    Terdapat silang pendapat di kalangan ulama baik terdahulu maupun belakangan- tentang hal tersebut. Walaupun pendapat yang menyatakan rukyat hilal tersebut berlaku untuk seluruh negeri itu lebih kuat, hal tersebut lebih berlaku tatkala seluruh kaum muslimin dipimpin oleh seorang pemimpin atau pada keadaan-keadaan tertentu.

    Adapun keberadaan pemerintah kita yang telah menetapkan masuknya Ramadhan berdasarkan rukyat hilal dan telah diikuti oleh kebanyakan manusia, tidak ada alasan bagi rakyat untuk menyelisihi ketetapan tersebut. Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ

    “Puasa itu adalah hari kalian berpuasa. Berbuka itu adalah hari kalian berbuka. Adh-hâ itu adalah hari kalian ber-udh-hiyah.” [14]

    Setelah meriwayatkan hadits di atas, Imam At-Tirmidzy berkata, “Sebagian ulama menafsirkan hadits ini dengan perkataannya, ‘Sesungguhnya maknanya adalah bahwa berpuasa dan berbuka itu (dilaksanakan) bersama jamaah dan kebanyakan manusia.’.”

    Pada akhir jawaban ini, kami mengingatkan kaum muslimin akan etika dan adab agung dari para ulama dalam hal berbeda pendapat.

    Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan radhiyallâhu ‘anhu, beliau mengerjakan shalat di Mina secara sempurna tanpa mengqashar. Oleh karena itu, Abdullah bin Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu berbeda pendapat dengan Utsman seraya berargumen bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam serta Abu Bakr dan Umar radhiyallâhu ‘anhumâ mengerjakan shalat dengan qashar. Namun, ketika Utsman mengimami shalat, Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu -yang bermakmum kepada Utsman- ikut mengerjakan shalat secara sempurna bersama Utsman. Ketika hal tersebut ditanyakan kepada Ibnu Mas’ûd radhiyallâhu ‘anhu, beliau menjawab,

    الْخِلَافُ شَرٌّ

    “Perbedaan pendapat adalah kejelekan.” [15]

    Juga perhatikanlah bagaimana Ali bin Abi Thalib melaksanakan haji Qirân karena diperintah oleh Utsman bin Affan, padahal Ali sendiri berpendapat dengan haji Tamattu’[16].

    Semoga Allah menyatukan kaum muslimin di atas Al-Qur`an dan As-Sunnah, serta menghindarkan mereka dari segala sebab perselisihan dan perpecahan. Amin.

    [1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallâhu ‘anhumâ. Diriwayatkan pula oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu.

    [2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim dari Abdullah bin Umar radhiyallâhu ‘anhumâ.

    [3] Al-Ifshâh 4/89 dengan perantara makalah Al-Hisâb Al-Falaky fî Dhuhûl Ramadhân wa Khuhûjihi Qaulun Syâdzun Muthrah karya Dr. Abdul Aziz Ar-Rayyis.

    [4] Fath Al-Bâry 4/123.

    [5] Majmû Al-Fatâwâ 25/132-133.

    [6] Sebagaimana yang telah berlalu.

    [7] At-Tamhîd 14/352

    [8] Ash-Shihâh 4/1851 dan Al-I’lâm 5/172 karya Ibnul Mulaqqin.

    [9] Bacalah atsar-atsar shahabat tersebut dalam buku Ma’rifah Auqâth Al-‘Ibâdât 2/12-13, 16 karya Khalid Al-Musyaiqîh.

    [10] Al-Muhallâ 6/239.

    [11] Tahrîr Al-Ahkâm Fî Tadbîr Ahl Al-Islâm hal. 66.

    [12] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim.

    [13] Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbân dari Ubâdah bin Ash-Shâmit radhiyallâhu ‘anhu.

    [14] Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu. Dikuatkan oleh Al-Albany dalam Ash-Shahîhah no. 224 dan dalam Irwâ`ul Ghalîl 4/13.

    [15] Diriwayatkan oleh Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahîh Sunan Abi Dawûd.

    [16] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim.

    Sumber: http://www.facebook.com/SALAFIYUNPAD

  3. Edi says:

    Mohon maaf, saya masih awam. Pertama, Dikatakan bahwa hadist “Kami adalah umat yang ummiy, tidak dapat membaca dan berhitung (melakukan hisab). Bulan itu begini dan begini” adalah illat dari hadist yang menyuruh kita berpuasa dengan rukyat. Pertanyaan saya, kriteria apa yang membuat sampai pada kesimpulan bahwa hadist yang satu menjadi illat pada hukum hadist yang lain? Saya menjadi bingung karena sementara pada kasus yang lain, saya ambilkan contoh pada hadist yang menyuruh kita untuk memelihara jenggot dan menyukur kumis dikatakan pula oleh Rasulullah dalam konteks menyelisihi kaum musyrikin tetapi kenyataan sekarang banyak orang kafir yang juga memelihara jenggot (bahkan ikon kaya Santa Klaus jenggotnya lebat) tetapi perintah memanjangkan jenggot tetap dikatakan wajib.

    Kedua, saya juga menjadi bingung apa benar kondisi kaum muslimin yang umiy jadi illat rukyat yang disebut Nabi karena seperti kita yang kita ketahui pada zaman Nabi tidak semuanya Sahabat tidak bisa membaca dan berhitung, buktinya ada penulis wahyu. Dan tentunya, bisa saja Nabi menyuruh salah satu diantara Sahabatnya yang pandai membaca dan berhitung untuk melakukan hisab seperti pada kasus penulisan wahyu. Pertanyaannya, mengapa itu tidak dilakukan?

    Ketiga, seandainya kondisi kaum muslimin yang umiy jadi ilat berarti metode hisab sejatinya pernah dilakukan pada masa dimana kaum muslimin sudah mulai banyak yang bisa membaca dan menghitung; Science & teknologi itukan berkembang sesuai dengan zaman, dalam bayangan saya kemampuan “berhitung” umat Islam juga tentunya bertambah dari masa ke masa apalagi umat Islam pernah mengalami masa yang jauh lebih maju dari umat-umat lainnya. Pada masa khulafur rasyidin, tentunya kemampuan menghitung dan membaca umat Islam lebih baik dari masa Nabi -terbukti pembukuan Al Qur’an- dan juga pada masa Dinasti Umayah. Pertanyaan saya, apakah pada masa itu terdapat berita yang menerangkan bahwa para Sahabat atau para Tabi’in menyuruh menggunakan hisab? Mohon dijelaskan.

    Terima Kasih

    • Adni says:

      Terima kasih, saudara2ku sekalian…

      Saya coba tanggapi secara ringkas yaa… di antaranya dengan cara bertanya balik….

      Terkait dengan `illat, saya melihat bahwa mmg di situlah pangkal masalahnya: apakah redaksi hadits: “Kami adalah ummat yang ummiy…” dapat menjadi `illat atau tidak. Pembahasan ttg `illat sejatinya dibahas cukup panjang dalam disiplin ilmu ushul fiqh. Kenapa bahwa hal itu menjadi `illat? Karena ia bicara tentang konteks hukum yang sama, yaitu penetapan bulan dengan rukyat atau dengan penyempurnaan jumlah hari sebulan.

      Bagaimana `illat dalam hukum jenggot? Bagi kalangan yang mewajibkan memelihara jenggot, penyelisihan terhadap non Muslim bukan semata `illat untuk memelihara jenggot. Tapi, karena ada alasan lainnya, yaitu hal tersebut termasuk dalam sunnah-sunnah fithrah (sunanul fithrah). Sehingga, jika non Muslim memelihara jenggot berarti ia kembali kepada fithrah-nya, dan seorang Muslim tidak harus meninggalkan fithrahnya untuk tampil berbeda.

      Bagaimana dengan kondisi sebagian orang di zaman dahulu yang mengerti baca tulis dan bahkan hisab astronomis? Saya jawab dengan kaidah fiqh yang juga telah saya sebutkan di atas: “Yang menjadi patokan hukum adalah kondisi mayoritas, bukan kondisi minoritas/jarang/langka.” Adanya sebagian orang yang bisa membaca dan menulis tidak serta menjadikan generasi Nabi `alayhish-shalatu was-salam dan para Sahabat keluar dari kondisi ke-ummiy-an. Bahkan, beliau sendiri yang menegaskan bahwa umatnya adalah umat yang ummiy. Sebagaimana halnya, adanya ada sebagian kecil kaum Muslim yang buta huruf pada zaman sekarang ini, tidak menjadikan umat Muslim sekarang ini kembali lagi menjadi umat yang ummiy.

      Saya juga perlu bertanya balik, samakah kondisi sains, ilmuan, dan juga sikap masyarakat terhadap sains, pada zaman beliau, Sahabat dan Tabi`in dengan zaman sekarang, baik secara kualitas maupun kuantitas, baik akuntabilitas maupun reliabilitas? Jawabnya tentu saja berbeda. Jika demikian, saya ingin bertanya balik, kalau kondisinya berbeda, mengapa kita masih menjadikan kondisi zaman itu sebagai alasan untuk menghukumi kondisi sekarang?

      Selanjutnya, sebagaimana pertanyaan saya di atas, bagaimana kita memosisikan metode rukyat pada zaman itu, sebagai sarana atau tujuan (yaitu untuk memastikan masuknya bulan baru)? Kalau sarana, ia berlaku padanya hukum sarana, sebagiamana halnya dahulu orang berangkat haji dengan mengendarai unta atau jalan kaki, apakah sekarang juga harus demikian? Apakah sekarang orang harus shalat dengan memperhatikan posisi matahari dan/atau bayangan benda, sebagaimana zaman dahulu? Apakah jika seseorang meninggalkan sarana yang dilakukan oleh Nabi `alayhish-shalatu was-salam generasi terdahulu, sebagaimana contoh tersebut, maka ia divonis menyelisihi sunnah? Tentu saja tidak saklek demikian. Jika hisab memberikan faidah kepastian (qath`iy), sebagiamana halnya rukyat dengan mata telanjang pada zaman dahulu juga memberikan faidah kepastian (qath`iy), maka mengapa hisab harus ditinggalkan? Jika jawabnya adalah karena Nabi alayhish-shalatu was-salam dahulu tidak mengerjakan hal tersebut, maka diskusinya kembali lagi ke permasalahan-permasalahan sebelumnya di atas…

      Terakhir untuk menjadi renungan kita bersama dalam menyikapi perbedaan. Pada kenyataannya, saya pun menyadari bahwa antara pendapat kalangan yang berpegang dengan zahir teks (literalis) dan pendapat kalangan yang mencari makna di balik teks akan sulit dipertemukan. Nyatanya, khilaf yang sejenis dengan ini juga pernah di kalangan Sahabat. Masih ingat hadits shahih yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan lain-lain bahwa Nabi `alayhish-shalatu was salam pernah memerintah Sahabat untuk tidak shalat `Ashr kecuali setelah sampai di Bani Qurayzhah. Sebagian Sahabat mengerjakan sebagaimana zahir perintah beliau (literalis). Mereka tidak shalat `Ashar kecuali setelah sampai di Bani Qurayzhah meskipun sudah keluar dari waktu `Ashar. Sementara sebagian lagi melaksanakan shalat `Ashr di perjalanan, karena mereka memahami perintah tersebut adalah untuk bersegera, dan bukan untuk mengakibatkan shalat di luar waktunya. Ketika hal tersebut diadukan kepada Nabi `alayhis-shalatu was salam, beliau tidak menyalahkan salah satu dari kedua kalangan tersebut.

      Wallahu min wara-il qashd wa huwa a`lamu bish-shawab….

      • Edi says:

        Mas Adni, terima kasih atas tanggapannya..
        Sekarang saya mulai memahami jalan berpikir Mas Adni…Sebagai seorang awam, saya ingin menggali lebih mendalam lagi agar dalam ibadah saya nanti benar-benar bernilai, mohon dibantu yah Mas.
        Kalau saya tidak salah menangkap, sepertinya ada perbedaan “definisi operasional” ibadah ramadhan antara Mas Adni dengan buku-buku puasa yang saya baca. Mas Adni, sepertinya memandang ibadah Ramadhan tidak mencakup “tata cara” penentuan 1 Ramadhan itu sendiri sementara buku-buku puasa yang saya baca memandang “tata cara” penentuan Ramadhan itu sebagai bagian dari Ibadah Ramadhan.
        Apabila “tata cara” penentuan 1 Ramadhan itu bukanlah bagian dari “ritual” Ramadhan, maka “tata cara” tersebut memang hanyalah soal “sarana” untuk mencapai “tujuan” dan “sarana” tersebut tentunya bisa saja Rukyat atau Hisab yang penting bisa memberikan “kepastian” bahwa hari tertentu itu adalah 1 Ramadhan. Di sisi lain, apabila “tata cara” penentuan ramadhan dipandang sebagai bagian dari “ritual” Ramadhan itu sendiri sehingga sejatinya ia bukan “sarana” tetapi juga “tujuan” meskipun ia dapat menjadi “sarana” menuju ritual-ritual lain di dalam ibadah Ramadhan, seperti di dalam shalat itu ada gerakan-gerakan dan tentunya gerakan yang satu akan mengantarkan pada gerakan yang lain, setiap gerakan adalah “tujuan” meskipun ia menjadi “sarana” untuk tercapainya gerakan yang lain. Lebih lanjut, kalau ia bagian dari “ritual” berarti masuklah hukum-hukum yang berkaitan dengan Ritual yang sederhananya kita perlu mempertanyakan “bagaimana Rasulullah melakukannya?” “bagaimana Sahabat memahaminya?” Apabila jawabannya Rasullullah melakukan dengan cara ini dan Sahabat memahaminya dengan cara ini dan tidak dengan cara itu, tentunya kita tidak perlu berbeda pendapat lagi. Pertanyaannya, “definisi operasional” siapa yang lebih tepat?
        Menurut hemat saya dan tentunya ini dibarengi dengan rasa hormat yang tinggi terhadap pendapat Mas Adni, menjadikan “tata cara” penentuan Ramadhan sebagai bagian dari “ritual” Ramadhan lebih bisa diterima. Mengapa? Pertama, Mas Adni memberikan contoh berkendara dalam ibadah haji untuk menjelaskan sarana yang mungkin “ditafsirkan” berbeda-beda untuk satu masa dengan masa yang lainnya. Pada konteks Ibadah Ramadhan, Rasullullah menjelaskan “tata cara” menentukan 1 Ramadhannya berbeda dengan konteks “berkendara” pada Ibadah Haji dimana Rasullullah tidak menjelaskan. Tentu saja, kita harus mempertanyakan mengapa Rasulullah menjelaskan yang satu sementara tidak menjelaskan yang lain; bukankah keduanya memiliki fungsi yang sama?. Kasus ini tentunya mirip seperti wudhu sebelum shalat. Sudah sepantasnya, seseorang yang menghadap Allah tentunya dalam kondisi suci dan wudhu merupakan sarana untuk mewujudkan “kesucian” itu. Lalu, mengapa Rasullullah perlu menjelaskan tata cara bersuci? Tidak lain, karena ia juga suatu “ritual”.
        Kedua, Mas Adni juga memberikan contoh soal “penentuan waktu shalat”, pemaknaan penentuan waktu Shalat –menurut hemat saya- tentunya berbeda dengan pemaknaan penentuan 1 Ramadhan. Makna penentuan waktu Shalat dalam konteks hadist-hadist yang ada, apabila dilihat gaya bahasanya, hanya mengabarkan bahwa kondisi seperti apa yang dapat kita mulai shalat tanpa ada perintah yang menyuruh kita setiap mau shalat lakukan ini dan itu. Sementara apabila kita baca hadist-hadist penentuan awal Ramadhan itu sepertinya mengandung dua makna: (1) perintah untuk melihat bulan setiap mau berpuasa, berbeda dengan penentuan waktu Shalat dimana Rasulullah tidak “menyuruh” melihat matahari atau bayangan. Ini berarti “melihat bulan” setiap mau puasa sendiri merupakan “ritual” beda dengan “melihat matahari/bayangan” setiap mau shalat. Makna kedua menggabarkan bagimana kondisi 1 Ramadhan itu, yaitu “terlihatnya bulan”, makna ini sama seperti makna dalam hadist penentuan waktu shalat.
        Ketiga, mengapa saya berpikir “tata cara” penentuan Ramadhan adalah “ritual” bukan sekedar sarana untuk menentukan 1 Ramadhan adalah seperti yang disampaikan Mas Adni sendiri bahwa ada Sahabat yang bisa menulis dan membaca..Apabila “tata cara” penentuan Ramadhan bukan “ritual” tentunya Rasullullah sekali waktu akan mengajar dengan cara yang ini dan waktu yang lain menggunakan cara yang lain pula seperti contohnya memakai cincin, sekali waktu di kiri sekali waktu di kanan. Keberadaan Sahabat yang bisa membaca dan menulis, ini tentunya mengindikasikan kemungkinan hisab bisa dilakukan [konon pada masa Rasul, bangsa Arab memang sudah bisa hisab tapi saya belum memverifikasi data ini] tetapi mengapa tidak dilakukan hisab. Tentu saja, jawabanya karena itu “ritual”
        Keempat, teknologi berkembang untuk memenuhi kebutuhan manusia. Teknologi yang berkembang di masa kita tentunya akan menjadi “kuno” pada masa yang jauh akan mendatang dan mungkin orang di masa itu akan memandang betapa “repotnya” kehidupan kita di masa ini. Tetapi, kita berpikir bahwa teknologi kita telah memudahkan kita dan cukup canggih. Kondisi yang sama juga terjadi saat ini, tentunya kita memandang orang-orang di masa Khulafur Rasyidin sangat “kerepotan” tetapi orang-orang di masa itu pun telah mengembangkan teknologi yang bisa membantunya dan kenyataannya pada masa itulah kaum Muslimin Berjaya dibanding kaum kuffar. Pertanyaannya, mengapa tidak ada berita bahwa kaum muslimin saat itu menggunakan hisab, bukankah tidak ada halangan. Saya memaknai itu karena mereka memaknai tata cara penentuan 1 Ramadhan sebagai “ritual”.
        Pertanyaan selanjutnya, lalu bagaimana memaknai “Kami adalah umat yang ummiy, tidak dapat membaca dan berhitung (melakukan hisab). Bulan itu begini dan begini”. Dalam pandangan saya, tentu saja mencari makna di balik kata-kata akan menjadi subjektif, tetapi menggabungkan dengan kabar-kabar yang lain akan membuat makna yang ditangkap tidak bias seperti dalam penelitian kita melakukan uji reliabilitas –konsistensi-. Saya memaknainya hadist ini boleh jadi illat boleh jadi “penegasan”. Saya cenderung meyakini bahwa makna dibalik hadist tersebut adalah “penegasan”. Hal ini seperti perintah yang melarang kita memakan riba berlipat ganda, yang dimaksud bukanlah sesuatu dianggap riba karena berlipat ganda tetapi “penegasan” atau juga ayat yang menjelaskan soal anak tiri yang dalam peliharaan. Rasullullah memberikan perintah melihat hilal sebelum berpuasa, dan itu diikuti para Sahabat lalu ada “penegasan” bahwa salah satu hikmahnya adalah “Kami adalah umat yang ummiy, tidak dapat membaca dan berhitung (melakukan hisab). Bulan itu begini dan begini” untuk menunjukkan tingginya Islam dan bahwa setiap perintah pasti “mudah” bagi setiap orang sehingga selaras dengan ayat-ayat yang senada dengan itu. Kenyataannya, teknologi tidak selalu bernilai murah dan suatu Negara tidaklah perlu berinvestasi besar-besaran pada teknologi untuk “mengetahui” 1 Ramadhan karena hikmah melihat bulan adalah “memudahkan”. Lebih baik investasi itu dibangunkan untuk kebutuhan yang lain.
        Mas Adni, mohon maaf tanggapan saya panjang dan parti “tidak berisi” karena memang saya akui saya “tidak mengerti dan itu bukan bidang saya”, menanggapi tulisan Mas Adni ini “semata-mata” untuk keperluan pengembangan pengetahuan diri saya sendiri dan berharap agar ada perbaikan pada ibadah saya di waktu-waktu mendatang. Terakhir, saya bekerja di sebuah lembaga ilmu pengetahuan sebagai seorang peneliti di bidang “social” yang kerjanya focus pada perilaku “manusia dan kelompok” dan “kerjanya” diantaranya memberi “makna” pada “gerak-gerik”, “tutur kata”, “mimic muka”, “tulisan”, “hasil-hasil kerja” ditarik dengan “konteksnya”, sehingga bisa diambil suatu pola-pola tertentu yang dianggap sebagai “makna” dibalik “penampakan”. Saya mohon maaf apabila terdapat kata-kata saya yang keliru atau kurang berkenan karena “terbawa” kebiasaan berdiskusi sesuai latar belakang saya dan Saya memohon ampun kepada Allah. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah taufik kepada kita. Semoga sukses Ramadannya Mas. Terima Kasih.

  4. Muhammad says:

    Oh ya, ustadz Adni. Kalo boleh tau, sejak kapan illat ummiy itu hilang? Kemudian, sejak kapan ilmu hisab itu mulai ada? Siapakah ulama yang pertama kali untuk menganjurkan pakai hisab ? Sejak zaman kapan?

    Syukron atas jawabannya.

  5. abu abyan says:

    kl menurut antum, ada tidak dari kalangan para sahabat yg menguasai ilmu hisab?

    kl tidak ada, lantas siapa yg pertama kali membuat kalender hijriah?

    kl ada, lantas kenapa rosulullah tidak meminta bantuan sahabat tersebut untuk menghitung awal bulan ketika akan masuk ramadhan?

    • Imrahmad says:

      sebelum menanggapi lebih jauh saya mau bertanya kepada antum, pada masa itu apakah pengetahuan para sahabat sudah cukup mumpuni untuk membuat suatu kalender? apakah nantinya kalender yang mereka buat akurat dan valid dan bisa dijadikan pegangan?
      tentang perhitungan (hisab) waktu Allah SWT berfirman dalam Surat Ar-Rahman ayat 5 disebutkan bahwa “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan”. kemudian dalam surat Yunus ayat 5 disebutkan “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu)”. sebelum saya memberikan pendapat lebih lanjut saya mohon maaf karena saya bukan seorang ahli tafsir, tapi dengan melihat konteks kalimat dalam kedua ayat tersebut, Allah telah memberikan petunjuk bahwa perjalanan waktu bisa dihisab, karena memang Dia telah menetapkan tempat orbitnya sehingga bagaimanapun bulan dan matahari itu berputar maka kita bisa mengetahui kedudukannya, kedudukan kedua benda langit itulah yang menjadi perbedaan umat islam saat ini dalam menentukan awal bulan. dengan melihat perkembangan IPTEK saat ini maka menentukan penanggalan hijriah dengan pasti bukan merupakan suatu hal yang tidak mungkin.
      Saya rasa tidak perlu menjelaskan lebih panjang lebar tentang hadis yang menjadi patokan sebagian kalangan umat islam tentang “keharusan” menggunakan metode rukyat karena telah diulas cukup jelas oleh mas Adni, dari hadis itu saya berpendapat bahwa itulah bukti kecerdasan dan kebijakan seorang Muhammad SAW dalam memberikan solusi dalam keterbatasan pengetahuan kaummnya pada saat itu untuk menjalankan petunjuk Allah SWT dalam firmanNya seperti tersebut diatas. sebagaimana keterbatasan itu diakuinya dalam hadis yang lain yang telah di paparkan oleh mas Adin diatas. dan sekarang dengan melihat perkembangan dalam bidang astronomi, apakah “sesat” jika kita memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menggunakan metode hisab (perhitungan) seperti yang difirmankan Allah SWT. wallahuwallam.

  6. Adni says:

    Kepada rekan2 sekalian… saya ucapkan jazakumullah khayran dan terima kasih atas seluruh masukan, kritik dan pertanyaan2nya. Untuk sejumlah pertanyaan, sebenarnya ada yang jawabannya sudah tercantum secara implisit dalam artikel di atas, dan ada sebagian jawaban lagi yang, kalaupun terjawab, tidak memberikan konsekuensi hukum apapun terhadap pembahasan kita.

    Terlepas dari agree or disagree, in sya-allah semua itu dapat menjadi masukan berharga untuk perbaikan artikel ini ke depan. Semoga Allah Ta`ala memberikan kemudahan untuk melakukan perbaikan tersebut.

    Wallahu a`lam bish-shawab wa huwa min wara-il qashd…

  7. Adni says:

    Sekedar informasi tambahan, terkait dengan alasan kenapa Salaf dan Fuqaha terdahulu menolak hisab, jawabannya bisa ditemukan antara lain melalui risalah ilmiah berikut: http://galash.blogspot.com/2012/01/ebook.html

    Sebenarnya hal yang sama juga telah disebutkan oleh Syaykh Ahmad Syakir dalam risalahnya. Namun karena risalah beliau itu sifatnya ringkas, banyak kutipan yang tidak beliau sebutkan.

    Membaca artikel itu, tempak bahwa alasan penolakan hisab tersebut menjadi tidak relevan lagi untuk digunakan pada zaman ini. Ia juga memuat kutipan menarik bahwa ternyata banyak fuqaha klasik yang bahkan menolak penggunaan hisab dalam penentuan waktu shalat. Sesuatu yang saat ini kita “langgar” baik untuk kalangan yang pro dan kontra. Padahal alasan mereka menolak hisab dalam penentuan awal bulan maupun penentuan shalat adalah sama.

    Sepertinya ke depan, artikel saya di atas perlu dilengkapi dengan beberapa bagian dari risalah ilmiah tersebut.

  8. tobone says:

    Intermezzo :
    kata Orang NU“Orang selalu salah paham terhadap NU yang mengedepankan rukyah. Di zaman modern kok rukyah, bukan hisab. Itu kan tradisional. Orang seperti itu tidak tahu, justru NU itu gudangnya ahli hisab.
    Demikian dinyatakan Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama KH A. Ghazali Masroeri di hadapan pengurus lajnah, banom, dan lembaga NU, serta para wartawan dari berbagai media, di gedung PBNU, (18/7) dengan tema Menyambut Ramadlan 1433 H. Kiai Ghazali menjelaskan bahwa NU menggunakan metode rukyah yang berkualitas, didukung dengan ilmu hisab modern. “Kenapa kata “rukyah didahulukan? Karena dalam Al-Quran dan haditsnya begitu,” jelasnya.

    ———————————————————————

    Terkait pembahasan Ust Adni

    Pertanyaan :
    Siapa yang punya otoritas sebagai penentu awal bulan tersebut?
    Hisab yang seperti apa yang diinginkan? bukankah mereka para ahli hisab sendiri kadang berbeda satu sama lain Contoh nyata adalah kriteria/derajat-derajat?
    kalimat terakhir Hadis ini mau dikemanakan ? “……………………………….Maka jika ia tertutup awan bagimu, maka sempurnkanlah bilangan Sya’ban tiga puluh.”
    Jika semua pertanyaan tidak bisa dijawab, lalu Pertanyaan pokok apa maslahatnya tulisan ini?

    • Adni says:

      Terima kasih.

      Otoritas penentuan awal bulan ada di tangan pemerintah Muslim, karena itu di awal pembahasan telah disebutkan kaidah fiqh: “keputusan pemerintah menyelesaikan perbedaan pendapat.” Perbedaan di kalangan ahli hisab bukan terkait dengan fakta posisi bulan, tapi mengacu pada perbedaan yang terjadi di kalangan ahli syariah/fiqh terkait penggunaan metode wujud hakiki hilal atau visibilitas rukyat, kemudian ttg parameter visibilitas rukyat tsb (jk mnggunakan metode visibiltas rukyat). Tkait hadits2 rukyat, maka sdh disebutkan di atas bhw ia memiliki `illat: “kami adalah umat yg ummiy.” Sementara kaidah mnyatakan bhw eksistensi hukum seiring dg eksistensi `illat-nya. Wallahu a`lam.

  9. Tonny says:

    Assalamu’alaikum Pak Ustad, artikelnya sangat menarik, karena saya masih sering bertanya-tanya apa dasarnya metode Hisab, namun maaf saya kurang sependapat dengan paradigma yang pak Ustad jelaskan, Allah telah menerangkan didalam Qur’an bahwa Agama Islam telah disempurnakan, artinya berbagai aturan yang merupakan suatu prinsip tidak mungkin dapat diubah. Kalau memang acuannya adalah karena keterbatasan umat di jaman Rasul, sehingga saat ini bisa merubah metode yang rasul ajarkan, berarti kalau begitu masih banyak hadist Rasul yang bisa kita ubah dikarenakan rasul bersabda disaat umatnya yang masih belum faham akan sains, mungkin gerakan shalat juga dapat kita ubah karena mengingat banyak gerakan yang lebih menyehatkan karena hasil penelitian. Mohon maaf ya Pak Ustad, itu hanya pandangan saya. Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.

    • Adni says:

      wa`alaykumussalam warahmatullah…
      terimak kasih, Pak. menurut saya pembahasan hisab/rukyat tidak bisa dikaitkan gerakan shalat, karena gerakan shalat itu sifatnya `ibadah mahdhah, `illat-nya tidak dapat dinalar (ghayr ta`aqquliy)… sedangkan pembahasan ttg konteks perubahan hukum umumnya berkaitan dg hukum2 `illat-nya yg dapat dinalar (ta`aqquly), dg segala perbedaan pandangan yg mungkin terjadi di dalamnya. intinya, keduanya adalah hal yg sangat berbeda.

Leave a Reply

Submit Comment

© 2014 in between…. All rights reserved. XHTML / CSS Valid.
Proudly designed by Theme Junkie.
Follow

Get every new post on this blog delivered to your Inbox.

Join other followers: