<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>in between...</title>
	<atom:link href="http://adniku.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adniku.com</link>
	<description>blog adni kurniawan</description>
	<lastBuildDate>Thu, 07 Mar 2013 17:18:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Membincang Fenomena &#8216;Pemaksaan&#8217; Anak Masuk Pesantren (Terlebih Pada Usia Dini)</title>
		<link>http://adniku.com/2013/01/paksa_anak_ke_pesantren/</link>
		<comments>http://adniku.com/2013/01/paksa_anak_ke_pesantren/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jan 2013 01:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[10 Author's Choice]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Isu-isu Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[pesantren]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=885</guid>
		<description><![CDATA[Kita sama-sama mengetahui bahwa Islam menempatkan orang yang berilmu, khususnya ilmu agama, pada posisi yang tinggi. Banyak sekali teks keagamaan yang mewartakan hal tersebut. Di antaranya adalah sabda Nabi—shallāllāhu `alayhi... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2013/01/paksa_anak_ke_pesantren/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2013/01/Membincang-Fenomena-Pemaksaan-Anak-Masuk-Pesantren-Khususnya-Pada-Usia-Dini.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-886" title="Membincang Fenomena Pemaksaan Anak Masuk Pesantren, Khususnya Pada Usia Dini" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2013/01/Membincang-Fenomena-Pemaksaan-Anak-Masuk-Pesantren-Khususnya-Pada-Usia-Dini-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Kita sama-sama mengetahui bahwa Islam menempatkan orang yang berilmu, khususnya ilmu agama, pada posisi yang tinggi. Banyak sekali teks keagamaan yang mewartakan hal tersebut. Di antaranya adalah sabda Nabi—<em>shallāllāhu `alayhi wa sallam—</em>yang masyhur,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Sungguh, ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham. Namun mereka mewariskan ilmu. Siapa yang mengambil warisan tersebut, maka ia telah mengambil bagian yang banyak</em>.” [HR Abū Dāwūd II/341/3641, Ibn Mājah I/81/223, A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad V/196/21763, dan lain-lain, dengan sanad yang valid.]</p>
<p style="text-align: justify;">Ilmu yang diwariskan oleh para Nabi tentu bukan Matematika, Fisika, Kimia, Geografi, atau yang semisalnya, melainkan ilmu agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Quran juga menyebutkan:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat</em>.” [QS al-Mujādilah/58: 11.]</p>
<p style="text-align: justify;">Kesadaran dan semangat untuk menuntut ilmu agama saat ini telah menjadi <em>trend</em> yang berkembang di kalangan sebagian masyarakat. Hal tersebut tentu merupakan fakta yang patut disyukuri. <em>Al<span style="text-decoration: underline;">h</span>amdulillāh</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu dampak dari <em>trend</em> tersebut adalah adanya fenomena sebagian orang tua yang terkesan ‘memaksa’ anak ke pesantren. Harapannya adalah sang anak menjadi ustadz atau ulama. Tidak ada yang salah dengan harapan tersebut, bahkan itu sangat mulia.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau saja keinginan orang tua tersebut sejalan dengan keinginan anak maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan. Namun, bagaimana jika tidak selaras?</p>
<p style="text-align: justify;">Saya ingin sedikit bercerita terkait dengan hal ini. Kebetulan saya dulu sempat ‘<em>mampir</em>’ di salah satu pondok pesantren.</p>
<p style="text-align: justify;">Pernah suatu ketika sejumlah santri merasa resah. Koleksi bukunya terus menyusut. Bukan hanya buku yang raib, beberapa benda berharga juga ikut-ikutan lenyap. Akhirnya, tim kecil pun dibentuk untuk mengusut kasus pencurian ini. Saya jadi bagian dari tim tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, dengan sejumlah trik dan teknik investigasi (<em>ala</em> Sherlock Holmes, <em>hehe</em>), pencuri pun tertangkap. Kami lalu menginterogasi si pelaku, dan juga sempat melakukan wawancara dengan orang tuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terkuak fakta bahwa pelaku sebenarnya sejak awal tidak berniat masuk pesantren. Ia ingin bersekolah umum (STM). Namun, bapaknya memaksa agar ia masuk pesantren untuk mendalami ilmu agama. Karena sejak awalnya kurang niat belajar di pesantren, pelaku pun melakukan perbuatan yang seharusnya tidak terjadi. Singkat kata, ia pun dikeluarkan dari pesantren.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada kisah lain yang berseberangan secara diametral dengan cerita di atas, yang terjadi di pesantren yang sama, pada waktu yang hampir bersamaan. Ini adalah cerita tentang seorang sahabat saya yang luar biasa.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang ternama, namun memutuskan untuk keluar kuliah dan masuk pesantren. Ia ingin ‘<em>banting setir</em>’, beralih dari belajar ilmu umum (yang telah dijalaninya sekian lama), ke ilmu agama. Keinginan tersebut awalnya tidak disetujui oleh keluarganya, yang mengharapkan ia segera menyelesaikan kuliahnya, mendapat pekerjaan yang bagus, dan kemudian membantu penghidupan keluarga.</p>
<p style="text-align: justify;">Kakaknya yang sebenarnya juga telah diterima di salah satu PTN bahkan sampai rela tidak kuliah, dan kemudian bekerja demi memberikan kesempatan kuliah kepadanya. Namun, sahabat ini tetap bergeming pada keputusannya, dengan tetap meminta restu dan memberi pengertian yang baik kepada keluarganya.</p>
<p style="text-align: justify;">Rupanya ia tak butuh waktu lama di pesantren, karena tak lama kemudian ia diterima di universitas keagamaan terkemuka di luar negeri. Saat ini (ketika artikel ini ditulis), ia tengah menempuh jenjang doktoral di universitas tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Di saat-saat liburan, ia sering pulang ke tanah air untuk memberikan pengajian ke berbagai daerah. Namanya dikenal baik oleh banyak kalangan. Ia juga mengisi di radio dan televisi dakwah. Penghidupannya baik, dan ia mampu membantu keluarganya, mungkin lebih baik daripada yang dulu diharapkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kisahnya merupakan pembenaran dari sabda Nabi—<em>shallāllāhu `alayhi wa sallam</em>,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاء الله جَلَّ وَعَزَّ إِلاَّ أَعْطَاكَ اللهُ خَيْرًا مِنْهَ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena ketakwaan kepada Allah, melainkan Allah memberimu yang lebih baik darinya</em>.” [HR A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad V/78/20758 dan al-Bayhaqi<span style="text-decoration: underline;">y</span> dalam <em>al-Syu`ab</em> V/53/5748. Syekh al-Arnā-uth menyatakan sanadnya valid.]</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, kisah pertama adalah tentang orang tua yang memaksa anaknya belajar agama di pesantren namun sang anak sebenarnya lebih suka belajar umum (teknik). Sedangkan kisah kedua adalah tentang orang tua yang (awalnya) berharap anaknya menyelesaikan kuliah umum, namun ternyata sang anak lebih suka belajar agama.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada juga beberapa kawan lain saya yang ingin pindah dari kuliah umum ke pesantren, tapi orang tuanya tidak mengijinkan. Sebagai gantinya, orang tua memberikan fasilitas yang cukup agar ia dapat belajar ilmu agama dengan baik, di samping ia tetap belajar ilmu umum. Hasilnya, lahir individu profesional dengan pengetahuan agama yang mumpuni. Sebagian kawan lain bahkan ada yang kuliah agama setelah ia menyelesaikan kuliah umumnya dengan prestasi yang baik. Tapi, memang dibutuhkan kemampuan yang memadai untuk bisa demikian.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang ingin saya tegaskan dari cerita di atas adalah, pemaksaan seringkali tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Menjadi ustadz atau ulama, atau masuk pesantren tentu merupakan hal yang baik. Tidak ada yang meragukan hal tersebut. Tetapi memaksakan keinginan tersebut pada anak bisa jadi berakibat buruk.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin banyak orang tua menganggap bahwa anaknya belum cukup dewasa untuk dapat memproduksi keputusan yang tepat bagi kehidupannya, sehingga mereka pun mengambil alih tugas pengambilan keputusan tersebut (baca: memaksakan keinginannya).</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, patut diingat bahwa keterpaksaan seringkali menghasilkan kekecewaan. Selain itu, tekanan dari luar (baca: paksaan) umumnya lebih lemah dan lebih temprorer dibandingkan dorongan dari dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, sebagai ganti dari pemaksaan keinginan terhadap anak, lebih baik anak diberikan penjelasan, pengertian, dorongan, motivasi, serta penjelasan tentang manfaat dan risiko dari keinginan orang tua. Dengan melakukan hal-hal tersebut, diharapkan keinginan orang tua akan selaras dengan keinginan anak. Ini memang lebih sukar, tetapi dampaknya lebih baik. Dan, di situlah letak tantangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekiranya ada yang bilang: “Bukankah sesuatu yang awalnya dipaksakan itu bisa berubah menjadi kegemaran dan kesadaran pribadi?” Jawabnya, saya juga tidak menafikan adanya probabilitas itu, seberapa pun kecilnya peluang tersebut. Tetapi, jika dimungkinkan untuk membangun kesadaran dan inisiatif pribadi, maka bukankah itu lebih baik ketimbang pemaksaan?</p>
<p style="text-align: justify;">Efek destruktif yang mungkin timbul dari pemaksaan tersebut juga tidaklah ringan. Fakta bahwa tidak sedikit anak pesantren yang ‘rusak’ saat di luar pesantren atau segera setelah lulus pesantren bisa jadi karena pemaksaan dimaksud. Mereka menjadi generasi yang rentan terhadap godaan dunia. Hasil imunitas yang diharapkan orang tua melalui program sterilisasi (baca: pemaksaan masuk pesantren) jauh panggang dari api. Dunia publik menjadi sarang pelarian dimana ‘belenggu’ dipatahkan dan ‘tirani’ dirobohkan. <em>Na`udzu billah min dzalik</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi jika anak yang dipaksa masuk pesantren itu masih berusia sangat dini. Kondisi yang demikian ini dapat dikaitkan dengan hadits Nabi—<em>shallāllāhu `alayhi wa sallam</em>:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">مَنْ فَرَّقَ بَيْنَ الْوَالِدَةِ وَوَلَدِهَا فَرَّقَ اللَّهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَحِبَّتِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ</span></p>
<p style="text-align: justify;"> “<em>Siapa  yang memisahkan antara ibu dan anaknya, maka Allah akan memisahkan antara dirinya dan orang-orang yang dicintainya pada hari Kiamat</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">[HR al-Tirmidzi<span style="text-decoration: underline;">y</span>  IV/134/1566, A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad V/412/23546, dan lain-lain, dari Abū Ayyūb al-Anshāri<span style="text-decoration: underline;">y</span>. Abū `Isā al-Tirmidzi<span style="text-decoration: underline;">y</span> berkata, “Dalam bab ini terdapat riwayat dari `Ali<span style="text-decoration: underline;">y</span>. Ini adalah hadits <em><span style="text-decoration: underline;">h</span>asan gharīb</em>. Hadits tersebut diamalkan oleh ulama dari Sahabat Nabi—<em>shallāllāhu `alayhi wa sallam</em>—dan selainnya. Mereka membenci pemisahan antara tawanan, [yaitu] antara ibu dan anak, bapak dan anak, dan antara sesama saudara.” Hadits dimaksud dinyatakan <em><span style="text-decoration: underline;">h</span>asan</em> oleh Syekh al-Albani<span style="text-decoration: underline;">y</span>.]</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam hadits lain disebutkan:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">عَنْ عُبَادَة بْنِ الصَّامِتِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، يَقُوْلُ: نَهَى رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُفرقَ بَيْنَ الْأُمِّ وَوَلَدِهَا . فَقِيْلَ: يَا رَسُوْلَ الله إِلَى مَتَى؟ قال: حَتَّى يَبْلُغَ الْغُلاَمُ، وَتَحِيْضُ الْجَارِيَة.</span></p>
<p style="text-align: justify;">Dari `Ubādah ibn al-Shāmit, <em>radliyallāhu `anhu</em>, ia mengisahkan bahwa Rasulullāh—<em>shallāllāhu `alaihi wa sallam</em>—melarang pemisahan antara ibu dan anaknya. Ada yang bertanya pada beliau, “Wahai Rasulullah, sampai kapan?” Beliau menjawab, “<em>Sampai anak laki-laki mencapai baligh dan anak perempuan mencapai haid</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">[HR al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>akim dalam <em>al-Mustadrak</em> II/64/2335 dan al-Dāruquthni<span style="text-decoration: underline;">y</span> dalam <em>Sunan</em>-nya III/68/258. Imam Ibn <span style="text-decoration: underline;">H</span>ajar berkata dalam <em>al-Talkhīsh</em>, vol. III, hlm. 16, “Di dalam sanad hadits yang dibawakan keduanya tersebut terdapat `Abdullāh ibn `Amr al-Wāqifi<span style="text-decoration: underline;">y</span>. Ia adalah perawi yang lemah, (bahkan) `Ali<span style="text-decoration: underline;">y</span> ibn al-Madīni<span style="text-decoration: underline;">y</span> menganggapnya pendusta.”]</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits di atas termasuk salah satu keindahan ajaran Islam yang melindungi hubungan kasih sayang antar ibu dan anak. Para ahli fiqh memasukkan hadits tersebut dalam pembahasan tentang <em><span style="text-decoration: underline;">h</span>adlānah</em> (pemeliharaan anak), jual beli (<em>buyū`</em>), dan sejumlah permasalahan lainnya. Salah satu yang mereka simpulkan dari hadit tersebut misalnya larangan untuk memisahkan budak wanita dan anaknya yang belum baligh dalam hal penjualan. [Periksa misalnya: <em>al-Mughni<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, Ibn Qudāmah, vol. IV, hlm. 260.]</p>
<p style="text-align: justify;">Terdapat rincian dan perbedaan pendapat di kalangan ulama, khususnya ahli fiqh, dalam memahami hadits tersebut, seperti tentang apakah larangan pemisahan tersebut juga berlaku untuk bapak-anak serta kakak-adik, sampai kapan batas usia anak yang dimaksud, dan lain sebagainya. Namun, bukan di sini tempat yang tepat untuk memaparkannya. Yang jelas, keumuman redaksi hadits di atas menunjukkan larangan untuk memisahkan ibu dari anaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada kenyataannya, banyak orang tua (khususnya ibu) yang sangat bersedih ketika berpisah dengan anaknya yang masuk pesantren. Demikian pula halnya dengan sang anak. Akibatnya orang tua tidak dapat beraktivitas dengan tenang, sementara sang anak tidak dapat belajar dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Di sisi lain, perlu diingat bahwa seseorang hanya akan mencapai potensi terbaiknya apabila ia melakukan hal yang sesuai dengan <em>passion</em> dan keinginannya. Saya tidak mengetahui ada orang yang bisa mencapai derajat ulama yang mumpuni, sementara ia dalam kondisi terpaksa mendalami ilmu agama, atau bahwa ia sebenarnya tidak tertarik untuk itu. Sependek yang saya ketahui kejadian semacam itu tidak ada, dan saya yakin tidak akan pernah ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa orang tua bersikeras memasukkan anak ke pesantren? Banyak sekali ragam alasannya. Yang jelas, hampir tidak ada orang tua yang menginginkan keburukan bagi anaknya. Semuanya menginginkan kebaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang tua yang mungkin ‘merasa terlambat’ belajar agama sehingga ingin anaknya jauh lebih baik daripada dirinya. Mereka juga berharap bahwa dengan menjadikan anaknya sebagai ustadz, maka terwujudlah anak saleh yang memberi manfaat kepada orang tua, baik pada saat mereka masih hidup dan khususnya setelah wafat. Ada pula yang merasa inferior (baca: minder) dengan kondisi dirinya, sehingga dianggap lebih baik pendidikan anak diserahkan kepada yang lebih kompeten. Tidak ada yang salah dengan alasan maupun upaya tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekali lagi masalahnya adalah, bagaimana jika anak memiliki keinginan yang berbeda dari orang tua? Jika anak punya cita-cita yang jelek, seperti jadi koruptor misalnya, tentu orang tua wajib menghalangi, memberi pengertian dan bahkan memaksa anak untuk mengganti cita-citanya tersebut. Namun, bagaimana jika anak ingin menjadi ilmuwan, astronom, pengusaha, dan lain sebagainya? <em>Why not</em>?</p>
<p style="text-align: justify;">Seringkali, pilihan di sini bukanlah tentang baik dan buruk, tetapi tentang mana yang dianggap lebih baik dari sekian banyak hal yang baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjadi ulama dan ustadz tentu merupakan kebaikan. Namun demikian, tidaklah tertutup kemungkinan seseorang meraih kebaikan yang lebih tinggi meskipun ia bukan pada posisi tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi—<em>shallāllāhu `alayhi wa sallam</em>—bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya</em>.” [HR al-Thabrani<span style="text-decoration: underline;">y</span> dalam <em>al-Awsath</em>, vol. VI, hlm. 58, dan dinyatakan <em><span style="text-decoration: underline;">h</span>asan</em> oleh Syekh al-Albani<span style="text-decoration: underline;">y</span> dalam <em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-Jāmi`</em> no. 6662.]</p>
<p style="text-align: justify;">Bukankah tidak tertutup kemungkinan bahwa ada seorang pemimpin yang saleh, pengusaha yang saleh, atau profesi lainnya, yang lebih memberikan manfaat, dampak dan <em>influence</em> bagi umat dibandingkan seorang ulama?</p>
<p style="text-align: justify;">Tentu saja tiap muslim berkewajiban untuk belajar tentang agamanya, yaitu untuk mengetahui hal-hal yang Allah <em>Ta`ālā</em> wajibkan atau haramkan terhadap dirinya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Menuntut ilmu adalah kewajiban tiap muslim</em>.” [HR Ibn Mājah I/81/224 dan lain-lain, dengan sanad yang valid.]</p>
<p style="text-align: justify;">Namun demikian, tidak semua muslim wajib memiliki ilmu agama yang sangat mendalam, menghafal dalil, menguasai pendapat ahli fiqh, dan sebagainya, sebagaimana halnya yang dilakukan ulama dan ustadz.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita melihat kondisi pada para Sahabat Nabi—<em>shallāllāhu `alayhi wa sallam</em>, niscaya kita dapati keberagaman kondisi mereka. Tingkatan ilmu agama mereka pun bermacam-macam. Ada yang menjadi ulama, pengajar atau mufti; dan ada pula yang tidak. Meskipun demikian, mereka semua berserikat dalam kebaikan dan keutamaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya ingin menutup artikel ini dengan kisah Imam Mālik—<em>ra<span style="text-decoration: underline;">h</span>imahullāh</em>:</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika, `Abdullāh ibn `Abd al-`Azīz al-`Umari<span style="text-decoration: underline;">y</span>, seorang ahli ibadah pada masa itu, menulis surat untuk Imam Mālik. Ia mengajak untuk menggiatkan ibadah, menyepi dan menghindari berkumpul dengan orang-orang di majelis ilmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Mālik kemudian menulis jawaban atas surat tersebut, yang bunyinya:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إن الله تعالى قسم بين عباده الأعمال كما قسم الأرزاق. فرب رجل فتح له في الصلاة، ولم يفتح له في الصوم، وآخر فتح الله له في الجهاد، ولم يفتح له في الصلاة، وآخر فتح له في الصدقة، ولم يفتح له في الصيام. وقد علمت أن نشر العلم وتعليمه من أفضل أعمال، وقد رضيت بما فتح الله لي فيه، وقسم لي منه، وما أظن ما أنا فيه بدون ما أنت فيه من العبادة، وكلانا على خير إن شاء الله</span></p>
<p style="text-align: justify;">“Sesungguhnya Allah <em>Ta`ālā</em> telah membagi-bagikan amal di antara para hamba-Nya, sebagaimana Dia membagikan rizki. Ada yang dibukakan pintu shalat (sunnah), namun tidak dibukakan baginya pintu puasa (sunnah); ada juga yang dibukakan pintu jihad, tetapi tidak dengan pintu shalat (sunnah); dan ada pula yang dibukakan pintu sedekah, namun tidak dengan pintu puasa (sunnah). Engkau telah mengetahui bahwa menyebarkan ilmu dan mengajarkannya termasuk amal yang paling utama. Saya ridha dengan pintu yang Allah bukakan bagi saya, dan bagian yang diberikan untuk saya. Saya kira kondisi saya yang demikian ini tidak lebih rendah dibandingkan dengan kondisi ibadah yang engkau lakukan. Kita berdua sama-sama di atas kebaikan, <em>in syā-allāh</em>.” [Lihat: <em>al-Istidzkār</em>, Ibn `Abd al-Barr, vol. V, hlm. 146.]</p>
<p style="text-align: justify;">Intinya, menjadi orang yang berilmu agama secara mumpuni merupakan pilihan yang baik, bahkan sangat baik. Namun itu tidaklah menafikan keutamaan dan keunggulan dari pilihan-pilihan baik lainnya. Selanjutnya, keterpaksaan dalam penentuan pilihan-pilihan tersebut perlu dihindari sedapat mungkin. Sebagai gantinya, yang perlu ditumbuhkan adalah dorongan, kesadaran, kegemaran serta inisiatif pribadi. Ini memang tidak mudah.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga ada manfaatnya. <em>Wallahu a`lam bish-shawab</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam,</p>
<p style="text-align: justify;">adni kurniawan (<a href="http://adniku.com">http://adniku.com</a>)</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://ahkath.files.wordpress.com/2011/06/masjid_21.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2013/01/paksa_anak_ke_pesantren/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Brand Gardening dan Doa Nabi Ibrahim</title>
		<link>http://adniku.com/2012/10/brand-gardening-dan-doa-nabi-ibrahim/</link>
		<comments>http://adniku.com/2012/10/brand-gardening-dan-doa-nabi-ibrahim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Oct 2012 02:47:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[10 Author's Choice]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[brand]]></category>
		<category><![CDATA[umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=857</guid>
		<description><![CDATA[Ahad lalu (30/09/2012) saya mengikuti seminar tentang Brand Gardening (Building) yang diselenggarakan oleh komunitas Tangan di Atas (TDA). Seminar dengan pemateri Bp. Handoko itu cukup menarik bagi saya yang sedang... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2012/10/brand-gardening-dan-doa-nabi-ibrahim/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2012/10/branding-praswck.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-858" title="brand gardening" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2012/10/branding-praswck-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Ahad lalu (30/09/2012) saya mengikuti seminar tentang <em>Brand Gardening (Building)</em> yang diselenggarakan oleh komunitas Tangan di Atas (TDA). Seminar dengan pemateri Bp. Handoko itu cukup menarik bagi saya yang sedang belajar <em>enterpreneurship</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Faktanya, kesuksesan seorang <em>enterpreneur</em> berbanding lurus dengan keberhasilannya dalam membangun <em>brand</em>. Ia dituntut untuk dapat membangun <em>brand</em> yang baik, yaitu yang jujur apa adanya dan penuh nilai (<em>values</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Kebohongan dari suatu produk atau <em>brand</em> dapat dengan mudah terdeteksi di era digital ini. Informasi melimpah ruah. Media sosial demikian menggurita. <em>Customer</em> yang merasa dibohongi akan dengan mudah memprovokasi orang lain untuk memboikot produk atau <em>brand</em> tertentu.</p>
<p style="text-align: justify;">Selain jujur, <em>brand</em> tersebut harus sarat nilai. Mungkin kita sama-sama tahu bahwa dunia pemasaran terus bergerak dari <em>product oriented</em>, menjadi <em>customer oriented</em>, dan kemudian saat ini menjadi <em>value oriented</em> (atau yang diistilahkan Hermawan Kertajaya dengan Marketing 3.0). <em>Value</em> adalah pembeda dan penentu untuk memenangkan kompetisi.</p>
<p style="text-align: justify;">Cara terbaik untuk memasarkan <em>brand</em> adalah dengan mengemasnya dalam bentuk cerita (<em>story telling</em>), bukan dengan gaya jualan. Cerita relatif lebih tidak menimbulkan resistensi ketimbang jualan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Brand</em> adalah aset tak berwujud (<em>intangible asset</em>) yang sangat berharga. Berapa banyak pengusaha yang telah bangkrut, seperti Donald Trump, namun kemudian dapat bangkit lagi dikarenakan <em>personal brand</em> yang bagus. Mereka tetap dipercaya. Sebaliknya, berapa banyak orang yang bisnisnya merugi karena <em>personal brand</em>-nya jatuh. Skandal artis contohnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Brand</em> adalah warisan (<em>legacy</em>), yang dengannya pemiliknya tetap dikenal meskipun ia telah tiada. Pepatah mengatakan, “Gajah mati meninggalkan gading; harimau mati meninggalkan belang; manusia mati meninggalkan nama.”</p>
<p style="text-align: justify;">Itu adalah sekilas tentang apa yang saya dapatkan dari seminar tersebut. Lantas apa hubungannya dengan doa Nabi Ibrahim, seperti judul di atas? <em>Hmm</em> apa <em>yaa</em>&#8230;. Yang jelas, saat mengikuti seminar itu, saya teringat dengan doa Nabi Ibrahim <em>`alayhis-salam</em> yang diabadikan dalam Quran:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ، وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>(Ibrahim berdoa): ‘Ya Rabbku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, <strong>dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian</strong></em>.’” [QS al-Syu`arā’/26: 83 – 85.]</p>
<p style="text-align: justify;">Inti dari <em>brand gardening</em> adalah dengan apa Anda ingin dikenal, juga dikenang. Melalui ayat di atas, Quran mengisahkan bahwa salah satu doa Nabi Ibrahim adalah agar beliau memiliki ‘<em>personal brand image</em>’ yang dikenang oleh orang-orang setelahnya dengan kebaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Ibrahim merupakan teladan kita. Dengan demikian <em>personal brand</em> yang penuh dengan kebaikan seharusnya juga menjadi harapan kita. Tentunya, tak satu pun dari kita yang ingin dikenal dan dikenang sebagai koruptor, perampok, penipu, serta berbagai pelaku kriminal lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal tersebut jangan dikontradiksikan dengan keikhlasan. Berbuat amal saleh dengan keikhlasan (bukan dalam rangka pamer) adalah satu hal, dan memohon kepada-Nya agar dikenang sebagai orang baik adalah hal lain lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat di atas justru mengingatkan kita tentang keikhlasan, yang merupakan nilai yang tidak boleh dilupakan oleh setiap Muslim, bahkan ketika <em>brand</em> <em>gardening</em> sekalipun. Amal kebajikan (khususnya yang terkait dengan amal ukhrawi) seharusnya bukan dalam rangka pamer atau pencitraan semata, namun lahir dari keikhlasan dan mengharap ridha-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau kita perhatikan redaksi ayat di atas, kita dapati bahwa Nabi Ibrahim tidak berusaha merealisasikan ‘<em>personal brand</em>’ dengan semata upayanya sendiri, yaitu melalui amal kebajikan yang beliau lakukan. Namun, ia meminta hal itu kepada Allah <em>`Azza wa Jalla</em>, agar Allah menjadikannya teladan kebaikan bagi sepeninggalnya. Artinya, beliau mengerjakan amal kebajikan dengan ikhlas, dan menyerahkan urusan ‘<em>personal brand</em>’-nya kepada Allah <em>Ta`ālā</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin ada baiknya di sini saya kutipkan sebuah hadits yang menegaskan urgensi keikhlasan:</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abū Hurayrah, Nabi ` bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَىٰ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ، رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ. فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّىٰ اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ: كَذَبْتَ. وَلٰكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِيءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ حَتَّىٰ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ. فَأُتِيَ بِهِ. فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَـٰكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ. وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ حَتَّىٰ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللّهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ. فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ. وَلَـٰكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ. ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Sesungguhnya manusia yang pertama kali diadili pada hari Kiamat (ada tiga); <strong>(1) Orang yang mati syahid</strong>. Ia didatangkan lalu disebutkanlah nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengakuinya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tadi?’ Ia menjawab, ‘Aku berperang di jalan-Mu hingga terbunuh.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya disebut pemberani, dan itu sudah terealisasi. Lalu diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya, hingga dilemparkan ke neraka. <strong>(2) Orang yang mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca Quran</strong>. Ia didatangkan lalu disebutkanlah nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengakuinya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tadi?’ Ia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu di jalan-Mu dan akupun mengajarkannya, serta aku membaca Quran di jalan-Mu.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau belajar supaya disebut `ālim, dan itu sudah terealisasi. Engkau juga membaca al-Qur’ān supaya disebut dia qāri’ dan hal itu sudah terealisasi.’ Lalu diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya, hingga dilemparkan ke neraka. <strong>(3) Orang yang diberi kelapangan oleh Allah dan diberikan segala jenis harta</strong>. Ia didatangkan lalu disebutkanlah nikmat-nikmatnya, maka ia pun mengakuinya. Selanjutnya Allah bertanya, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat-nikmat tadi?’ Ia menjawab, ‘Tidaklah ada suatu sarana yang Engkau suka agar diinfakkan di dalamnya melainkan aku berinfak di dalamnya untuk-Mu.’ Allah berkata, ‘Engkau dusta! Engkau melakukannya supaya disebut dermawan, dan hal itu sudah terealisasi.’ Lalu diperintahkan agar ia diseret atas wajahnya, hingga dilemparkan ke neraka</em>.” [Riwayat Muslim III/1304/1678.]</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh menyeramkan akibatnya kalau perbuatan baik hanya dilandasi oleh niat pamer semata dan kosong dari keikhlasan. Semoga kita semua dilindungi dari hal tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, selain jujur dan penuh nilai kebaikan, jangan lupakan keikhlasan dalam <em>brand gardening</em>. Ketika berderma, misalnya, janganlah diniatkan untuk pamer dan pencitraan, namun niatkanlah untuk mencari ridha-Nya dengan menolong sesama. Kalaupun kegiatan berderma tersebut dilakukan secara terang-terangan, dan ini hukumnya boleh-boleh saja [periksa misalnya: QS al-Baqarah/2: 274, al-Ra`d/13: 22, Ibrāhim/14: 31, Fāthir/35: 29], maka niatkanlah agar hal itu dapat dicontoh oleh orang lain, sehingga pemberi contoh juga mendapat pahala dan lebih banyak orang yang terbantu. <em>Just do the best and let God do the rest</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Menjaga keikhlasan dalam <em>brand gardening</em> pastinya bukan merupakan hal mudah. Di situlah letak tantangan tambahannya!</p>
<p style="text-align: justify;">Tabik,</p>
<p style="text-align: justify;">adni kurniawan (<a href="http://adniku.com">http://adniku.com)</a></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://1.bp.blogspot.com/-_ZLiP9dH5XM/T68ILEgEleI/AAAAAAAAA4s/BJheBY7o4nc/s1600/branding-praswck.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2012/10/brand-gardening-dan-doa-nabi-ibrahim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terjemah: Awā-il al-Syuhūr al-`Arabiyyah&#8230; Karya Syekh Ahmad Syākir</title>
		<link>http://adniku.com/2012/07/terjemah-awa-il-al-syuhur-al-arabiyyah-karya-syekh-ahmad-syakir/</link>
		<comments>http://adniku.com/2012/07/terjemah-awa-il-al-syuhur-al-arabiyyah-karya-syekh-ahmad-syakir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jul 2012 09:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[10 Author's Choice]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Isu-isu Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[hisab]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=821</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang telah saya singgung pada artikel sebelumnya, berikut ini adalah alih bahasa yang saya lakukan terhadap risalah ilmiah Syekh Ahmad Muhammad Syākir yang berjudul: Awā-il al-Syuhūr al-`Arabiyyah Hal Yajūzu... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2012/07/terjemah-awa-il-al-syuhur-al-arabiyyah-karya-syekh-ahmad-syakir/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2012/07/hisab-hilal._crop.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-823" title="hisab-hilal._crop" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2012/07/hisab-hilal._crop.jpg" alt="" width="258" height="192" /></a>Seperti yang telah saya singgung pada artikel sebelumnya, berikut ini adalah alih bahasa yang saya lakukan terhadap risalah ilmiah Syekh A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad Syākir yang berjudul: <em>Awā-il al-Syuhūr al-`Arabiyyah Hal Yajūzu Syar`an Itsbātuhā bi al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>isāb al-Falaki<span style="text-decoration: underline;">y</span>. </em></p>
<p style="text-align: justify;">Versi hasil <em>scan</em> dari risalah yang berbicara tentang penggunaan metode hisab untuk penentuan awal Hijriah ini dapat diunduh antara lain melalui alamat: <a href="http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=91477">http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=91477</a> (versi cetakan ke-2 Maktabah Ibn Taymiyyah, tahun 1407 H).</p>
<p style="text-align: justify;">Versi teks Arab dari risalah tersebut (dapat dilihat di: <a href="http://ahmadmuhammadshakir.blogspot.com/">http://ahmadmuhammadshakir.blogspot.com/</a>) juga saya cantumkan di bawah, setelah edisi bahasa Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga Allah menjadikan usaha saya untuk mengalihbahasakan risalah ini sebagai amal saleh yang memberi manfaat kepada umat pada umumnya, dan juga khususnya bagi diri saya sendiri kelak pada hari Kiamat. <em>Āmīn</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">~adni kurniawan, <a href="http://adniku.com">http://adniku.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;"><strong>PENGGUNAAN METODE HISAB UNTUK PENENTUAN AWAL BULAN HIJRIAH </strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">*******</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Judul Asli: </strong><em>Awā-il al-Syuhūr al-`Arabiyyah Hal Yajūzu Syar`an Itsbātuhā bi al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>isāb al-Falaki<span style="text-decoration: underline;">y </span></em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Karya:   </strong>Syekh<strong> </strong>A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad Syākir <em>ra<span style="text-decoration: underline;">h</span>imahullāh</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Alih Bahasa: </strong>Adni Kurniawan<strong> </strong>[<a href="http://adniku.com">http://adniku.com</a>, <a href="mailto:adni.kurniawan@gmail.com">adni.kurniawan@gmail.com</a>]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Keterangan Lainnya</strong>: Cetak tebal (<em>bold</em>) adalah dari penerjemah</p>
<p>*******</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Bismillāhirra<span style="text-decoration: underline;">h</span>mānirra<span style="text-decoration: underline;">h</span>īm.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Mahkamah Tinggi Syariah di Mesir menetapkan bahwa permulaan bulan Dzul <span style="text-decoration: underline;">H</span>ijjah tahun ini (1357 H) jatuh pada hari Sabtu, sehingga `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a jatuh pada hari Senin (30 Januari 1939).</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari kemudian, dipublikasikan di al-Muqattam bahwa pemerintah Arab Saudi belum menetapkan bahwa hari Sabtu sebagai permulaan bulan Dzul <span style="text-decoration: underline;">H</span>ijjah [karena hilal belum terlihat di sana], sehingga awal bulan jatuh pada hari Ahad. Dengan demikian, wuquf di `Arafah jatuh pada hari Senin, sedangkan `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a jatuh pada hari Selasa (31 Januari 1939).</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari Jumat, 21 Dzul <span style="text-decoration: underline;">H</span>ijjah (10 Februari 1939) surat kabar al-Balāgh mempublikasikan kabar dari korespondennya di Bombay, India, bahwa pada awal Februari 1939 kaum Muslim di Bombay berbeda pendapat tentang hari `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a. Kemudian ditetapkanlah `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a itu jatuh pada hari Rabu, berbeda dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya. Maknanya adalah, kaum Muslim di sana belum dapat menetapkan bahwa awal bulan jatuh pada hari Sabtu maupun Ahad [karena hilal belum terlihat], sehingga ditetapkanlah bahwa awal bulan jatuh pada hari Senin.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah yang terjadi pada kebanyakan bulan-bulan yang terkait dengan musim-musim ibadah, di mana kaum Muslim merukyat hilal di berbagai negeri-negeri Islam.  Kadang, hilal tersebut terlihat di salah satu negeri, namun negeri yang lain belum dapat merukyatnya. Akibatnya, terjadi perbedaan penentuan waktu pelaksanaan musim ibadah di negeri-negeri kaum Muslim. Sebagian negeri berpuasa ketika sebagian lain sedang berbuka. Sebagian negeri melaksanakan `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a ketika sebagian lain sedang berpuasa hari `Arafah.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ulama telah menuliskan pembahasan yang sangat berharga tentang mekanisme penetapan hilal, baik melalui literatur tafsir, hadits, fiqh maupun selainnya. Kalimat mereka sepakat, atau hampir sepakat, bahwa yang menjadi patokan dalam penetapan bulan hanyalah rukyat semata</strong>; dan bahwa metode hisab posisi bulan maupun perhitungan <em>munajjim</em> (ahli nujum, ahli perbintangan) tidak dapat dianggap. Hanya saja, dihikayatkan adanya suatu pendapat dalam madzhab Syāfi`i<span style="text-decoration: underline;">y</span> bahwa boleh bagi ahli hisab atau <em>munajjim</em> untuk mengamalkan hasil hisabnya itu bagi dirinya sendiri. Ada pula pendapat lain di kalangan mereka bahwa diperbolehkan bagi selain ahli hisab dan <em>munajjim</em> untuk bertaklid kepada keduanya; serta ada pula yang menyatakan bahwa yang boleh diikuti adalah ahli hisab, sementara <em>munajjim</em> tidak boleh diikuti. <span style="color: #ff0000;">[Lihat: <em>al-Majmū`</em>, karya al-Nawawi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, vol. VI, hlm. 279 – 280.]</span></p>
<p style="text-align: justify;">Yang menjadi pegangan dalam bab ini adalah hadits-hadits shahih yang tidak diragukan lagi validitasnya:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنَّ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Berpuasalah kalian ketika melihat hilal dan berbukalah ketika kalian melihatnya. Jika kondisi mendung menghalangi kalian, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya`bān menjadi tiga puluh hari.” </em><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">لاَ تَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ.<em></em></span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal, dan jangan kalian berbuka hingga kalian melihatnya. Jika kondisi mendung, maka perhitungkanlah.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Terdapat redaksi hadits-hadits shahih lainnya yang semakna dengan hadits di atas. <span style="color: #ff0000;">[Lihat: <em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-Bukhāri<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, vol. III, hlm. 27 – 28, cet. al-Sulthāniyyah; <em>Nayl al-Awthār</em>, vol. IV, hlm. 258 – 267, karya al-Syawkāni<span style="text-decoration: underline;">y</span>; <em>Nashb al-Rāyah</em> vol. II, hlm. 437 – 440; dan <em>Thar<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-Tatsrīb</em>, vol. IV, hlm. 111 -  114.]</span></p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian terdapat perbedaan di kalangan ulama terkait hal ini: apakah perbedaan <em>mathla`</em> itu diperhitungkan atau tidak? Artinya, apabila hilal terlihat di suatu negeri, apakah hukum rukyat tersebut juga berlaku bagi negeri lainnya atau tidak, meskipun jarak kedua negeri tersebut jauh, dan <em>mathla`</em> keduanya berbeda? Ataukah, masing-masing negeri memiliki rukyat sendiri-sendiri, sehingga hasil rukyat yang ada di Mesir dapat berbeda dengan Hijaz, Irak dan selainnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Kalangan madzhab Syāfi`i<span style="text-decoration: underline;">y</span> berpendapat bahwa setiap negeri memiliki rukyat masing-masing. Namun mereka berselisih tentang perhitungan dekat dan jauhnya jarak antar negeri yang berimplikasi pada perbedaan rukyat: apakah yang menjadi patokan adalah perbedaan <em>mathla`</em>, atau perbedaan musim, atau jarak yang menyebabkan seorang dapat meng-<em>qashr</em> shalat?</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Nawawi<span style="text-decoration: underline;">y</span> berkata dalam <em>al-Majmū`</em>, setelah merinci perbedaan pendapat dimaksud, “Cabang: Tentang Madzhab Ulama Jika Penduduk Suatu Negeri Melihat Hilal sementara Negeri yang Lain Tidak Melihatnya. Kami telah menyebutkan rincian pendapat dalam madzhab kami mengenai hal tersebut. Ibn al-Mundzir menukil dari `Ikrimah, al-Qāsim, Sālim dan Is<span style="text-decoration: underline;">h</span>aq ibn Rāhawayh bahwa rukyat hilal tersebut tidak melazimkan penduduk negeri lainnya; sedangkan dinukil dari al-Layts, al-Syāfi`i<span style="text-decoration: underline;">y</span>, dan A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad bahwa mereka berpendapat sebaliknya. Ia berkata, ‘Saya tidak mengetahui hal itu kecuali merupakan pendapat ahli Madinah dan ahli Kūfah.’ Maksud beliau adalah Imam Mālik dan Abū <span style="text-decoration: underline;">H</span>anīfah.” <span style="color: #ff0000;">[Lihat: <em>al-Majmū`</em>, vol. VI, hlm. 273 – 274. Lihat pula: <em>Ma`ālim al-Sunan</em>, vol. II, hlm. 98, karya al-Khaththābiy; dan <em>Tafsīr al-Qurthūbi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, vol. II, hlm. 274 – 276.]</span></p>
<p style="text-align: justify;">Terdapat banyak sekali diskusi berulang mengenai permasalahan tersebut pada tahun-tahun belakangan ini, dikarenakan kecepatan komunikasi antar berbagai belahan bumi, dengan adanya sarana telepon dan telegraph pada awalnya, yang kemudian dilanjutkan dengan adanya radio. Ini menyebabkan negeri-negeri Islam seolah-olah menjadi satu negeri dalam hal kecepatan sampainya kabar tentang penetapan bulan baru maupun penafiannya. Orang-orang pun menjadi tidak sabar atas kegaduhan bertahun-tahun sehubungan dengan masalah syariah yang krusial ini. Mereka ingin keluar dari problema tersebut, selama masih ada jalan untuk penyatuan kalimat.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya ingat, setahun atau dua tahun lalu, ada pertanyaan rinci dari India kepada ulama al-Az-har yang mulia tentang hal ini. Salinan surat itu lantas dikirimkan juga kepada para ulama senior, agar masing-masing mereka dapat memberikan pendapatnya. Ayah saya juga menerima salinannya. Namun saya tidak tahu bagaimana kelanjutan nasib surat tersebut. Yang jelas, ayah saya terhalang oleh penyakitnya sehingga beliau tidak dapat menulis atau memberikan pendapatnya. Semoga Allah menyembuhkan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembahasan ini telah menyita pikiran saya dalam jangka waktu yang lama setelah saya menguatkan suatu pendapat, yang saya harap pendapat itu benar. Kemudian, terjadilah perbedaan penetapan hari `Arafah pada tahun ini, hari haji akbar dan musim ibadah Islam yang paling agung. Bulan Dzul <span style="text-decoration: underline;">H</span>ijjah adalah bulan yang paling riskan, karena hari `Arafah, hari kesembilan dalam bulan Dzul <span style="text-decoration: underline;">H</span>ijjah, adalah waktu yang sangat terbatas untuk melaksanakan rukun ibadah Haji, yaitu wuquf di `Arafah. Ini tidak terjadi melainkan hanya sekali dalam setahun. Di sisi lain, mayoritas pelaku ibadah Haji tidak melaksanakan ibadah ini melainkan hanya sekali seumur hidup. Karena itu, tampaknya mereka khawatir bahwa jika mereka meleset dalam pelaksanaan wuquf dari hari yang sebenarnya, maka kewajiban ibadah Haji mereka menjadi tidak tertunaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal itulah yang memotivasi saya untuk menuliskan pendapat saya tentang penetapan hilal, untuk saya tampilkan kepada para pakar dan ahli ilmu, baik dari kalangan ahli fiqh, ahli hadits dan lain-lain, di berbagai penjuru dunia Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Termasuk hal yang tidak diragukan lagi, bangsa Arab sebelum kedatangan Islam dan juga pada masa awal kedatangan Islam tidaklah mengetahui ilmu-ilmu falak secara ilmiah dan mumpuni. Mereka adalah kaum yang buta huruf, tidak dapat menulis dan berhitung. Kalaupun ada di antara mereka yang mengetahui ilmu falak, maka itu hanya dasarnya atau kulitnya saja, yang pengetahuannya itu didapatkan dari pengamatan dan observasi, atau dari mendengar dan pengabaran, dan bukan pengetahuan yang dibangun di atas kaidah matematis atau bukti-bukti empiris yang berasal dari premis yang pasti. </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Karena itulah, Rasulullah </strong>r<strong> menjadikan rujukan penetapan bulan dengan perkara yang pasti dan terindera, yang hal ini mampu dilakukan oleh setiap orang dari mereka, atau mayoritas mereka, yaitu rukyat hilal dengan mata telanjang. Hal ini lebih bijaksana dan lebih tepat untuk penetapan waktu syiar dan ibadah mereka. Hal itulah yang sampai pada derajat yakin dan percaya yang mampu mereka lakukan. Dan Allah tidaklah membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Tidaklah sejalan dengan hikmah pembuat syariat apabila menjadikan pijakan penetapan hilal dengan hisab dan ilmu falak, sementara mereka tidak mengetahui sedikit pun tentang hal itu di kota-kota tempat tinggal mereka. Terlebih lagi, banyak dari mereka yang merupakan orang-orang Badui, yang tidak sampai kepadanya kabar dari kota, kecuali selang beberapa masa kemudian, bahkan terkadang membutuhkan waktu yang cukup lama. Sekiranya dijadikan penetapan hilal itu dengan ilmu hisab dan falak maka tentulah hal tersebut akan memberatkan mereka. Tidaklah mengetahui tentang ilmu hisab dan falak melainkan segelintir orang yang langka di daerah pedalaman, itu pun berasal dari kabar yang datang. Penduduk kota pun tidak mengetahui ilmu hisab dan falak kecuali dengan bertaklid kepada sebagian ahli hisab, yang mayoritasnya, atau bahkan seluruhnya, berasal dari kalangan Ahli Kitab. </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, kaum Muslim menaklukkan dunia, memegang kendali pengetahuan dan mengembangkan setiap jenis ilmu. Mereka menerjemahkan literatur generasi terdahulu, mendalaminya, mengungkapkan rahasia terpendamnya, serta mewariskannya untuk generasi setelahnya, termasuk ilmu falak, astronomi dan hisab. <span style="color: #ff0000;">[Lihat kitab <em>`Ilm al-Falak wa Tārīkhuhu `Inda al-`Arab</em>, cet. Roma, tahun 1911.]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dahulu, mayoritas ahli fiqh dan ahli hadits tidak mengetahui tentang ilmu falak, atau mereka hanya mengetahui beberapa dasarnya. Sebagian, atau bahkan banyak dari mereka, yang tidak percaya kepada orang yang mengetahui ilmu tersebut. Bahkan, sebagian mereka menuduh orang yang belajar ilmu ini dengan penyimpangan dan kebid`ahan. Hal ini karena persangkaan mereka bahwa ilmu itu menyebabkan pemiliknya mengklaim pengetahuan ilmu ghaib </strong>(<em>tanjīm</em>/astrologi)<strong>. Dan, memang benar bahwa sebagian orang yang mempelajari ilmu falak melakukan hal yang dituduhkan tersebut. Hal itu membuat dirinya dan ilmu yang dipelajarinya menjadi tercemar. Para ahli fiqh tersebut memiliki udzur dalam hal ini. </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebagian ahli fiqh dan ulama yang mengetahui ilmu ini tidak mampu menegaskan penempatan posisinya secara tepat terhadap agama dan fiqh. Namun, ia hanya memberi isyarat untuk itu dengan sikap khawatir (hati-hati).</p>
<p style="text-align: justify;">Perhatikan misalnya Taqiyuddīn al-Subki<span style="text-decoration: underline;">y</span>. Ia menyebutkan dalam <em>Fatāwā</em>-nya <span style="color: #ff0000;">[vol. I, hlm. 219 – 220]</span> bahwa apabila hisab yang memiliki premis yang pasti menunjukkan ketiadaan kemungkinan rukyat hilal maka persaksian orang-orang yang melihatnya menjadi tertolak. Persaksian itu dinilai sebagai kedustaan atau kekeliruan. Kemudian ia berkata,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">لأن الحساب قطعي، والشهادة والخبر ظنيان، والظن لا يعارض القطع، فضلاً عن أن يقدم عليه، والبينة شرطها أن يكون ما شهدت به ممكناً حساً وعقلاً وشرعاً، فإذا فرض دلالة الحساب قطعاً على عدم الامكان استحال القبول شرعاً، لاستحالة المشهود به، والشرع لا يأتي بالمستحيلات</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Sebab, hisab itu pasti (qath`i<span style="text-decoration: underline;">y</span>), sedangkan persaksian dan pengabaran itu bersifat zhanni<span style="text-decoration: underline;">y</span> (dugaan yang memungkinkan adanya kesalahan). Dugaan tidak mungkin melawan kepastian, apalagi untuk lebih diunggulkan. Syarat bukti adalah hal yang dipersaksikan itu memungkinkan baik secara indera, akal maupun syariah. Jika terdapat penunjukan hisab yang sifatnya pasti terhadap ketidakmungkinan rukyat, maka secara syariah rukyat tersebut tidak dapat diterima, karena kemustahilan persaksian tersebut. Karena syariah tidak datang dengan hal-hal yang mustahil</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, beliau berkata,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">واعلم انه ليس من مرادنا بالقطع ههنا الذي يحصل بالبرهان الذي مقدماته كلها عقلية، فإن الحال هنا ليس كذلك، وانما هو مبني على ارصاد وتجارب طويلة، وتسيير منازل الشمس والقمر، ومعرفة حصول الضوء الذي فيه. بحيث يتمكن الناس من رؤيته، والناس يختلفون في حدة البصر. الى آخر كلامه.</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Ketahuilah, bukan maksud kami bahwa yang dimaksud dengan ‘kepastian’ di sini adalah dalil yang seluruh premisnya bersumber dari akal. Kondisinya dalam hal ini tidaklah seperti itu. Ia dibangun atas dasar observasi dan percobaan yang panjang, pergerakan posisi matahari dan bulan, dan pengetahuan terhadap cahaya bulan, sehingga dengan hal itu orang-orang dapat merukyat hilal dengan tepat, sekalipun mereka berbeda-beda dalam hal ketajaman penglihatan</em>.” Demikian seterusnya ucapan beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Perhatikan ucapan Imam Besar Taqiyuddīn Ibn Daqīq al-`Īd. Beliau berkata dalam <em>Syar<span style="text-decoration: underline;">h</span> `Umdah al-A<span style="text-decoration: underline;">h</span>kām</em>, vol. II, hlm. 206,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">والذي أقول به ان الحساب لا يجوز ان يعتمد عليه في الصوم بمفارقة القمر للشمس، على ما يراه المنجمون من تقدم الشهر بالحساب على الشهر بالرؤية بيوم او يومين، فإن ذلك احداث لسبب لم يشرعه الله تعالى، وأما اذا دل الحساب على ان الهلال قد طلع من الافق على وجه يرى لولا وجود المانع، كالغيم مثلاً -: فهذا يقتضي الوجوب، لوجود السبب الشرعي، وليس حقيقة الرؤية بمشروطةٍ في اللزوم، لأن الاتفاق على ان المحبوس في المطمورة اذا علم بالحساب باكمال العدة، أو بالاجتهاد بالأمارات، ان اليوم من رمضان: وجب عليه الصوم، وإن لم ير الهلال ولا أخبره من رآه.</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Yang menjadi pendapatku, hisab tidak dapat dijadikan sebagai sandaran dalam hal penetapan puasa dengan berpisahnya bulan terhadap matahari (setelah konjugasi matahari dan bulan), sebagaimana pandangan ahli nujum (perbintangan), bahwa penetapan awal bulan dengan hisab lebih cepat sehari atau dua hari dibandingkan rukyat. Ini adalah hal mengada-ada (i<span style="text-decoration: underline;">h</span>dāts) karena tidak disyariatkan oleh Allah Ta`ālā. Adapun jika hisab menunjukkan bahwa hilal telah terbit di ufuk dengan kondisi yang memungkinkan untuk dilihat sekiranya tidak terdapat penghalang seperti mendung misalnya, maka ini berimplikasi pada kewajiban puasa, dikarenakan adanya sebab syar`i. Dan tidaklah rukyat hakiki dipersyaratkan dalam kelaziman tersebut. Karena, orang yang tertahan dalam penjara, jika ia mengetahui dengan hisab untuk menyempurnakan bulan Sya`bān, atau berijtihad dengan (mengamati) berbagai indikasi, bahwa hari itu telah masuk Ramadhān maka ia wajib berpuasa, meskipun ia sendiri tidak melihat hilal ataupun mendapat kabar dari orang yang melihat hilal</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[Ibn Daqīq al-`Īd termasuk Imam madzhab Māliki<span style="text-decoration: underline;">y</span> dan madzhab Syāfi`i<span style="text-decoration: underline;">y</span>, bahkan merupakan sandaran bagi kedua madzhab tersebut. Beliau lahir tahun 625, dan wafat di Kairo tahun 702. Biografi beliau termuat secara apik dalam <em>al-Thāli` al-Sa`īd</em> hlm. 317, <em>Tadzkirah al-Huffāzh</em>, vol IV, hlm. 262, <em>Fawāt al-Wafayāt</em>, vol. II, hlm. 305, dan <em>Thabaqāt al-Syāfi`iyyah</em>, vol. VI, hlm. 2.]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Demikianlah kondisi ulama. Hal ini mengingat ilmu alam dahulu tidaklah tersebar sebagaimana ilmu-ilmu agama, sementara kaidah-kaidah ilmu alam tersebut belum mencapai derajat kepastian menurut ulama. </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Akan tetapi, ini adalah syariah yang cemerlang, lapang dan kekal, sampai dengan Allah mengizinkan kemusnahan kehidupan dunia. Ini adalah syariah untuk setiap umat dan setiap masa. Karena itu, kita melihat pada teks-teks Quran dan Sunnah terdapat berbagai isyarat yang halus atas perkara-perkara yang akan terjadi. Jika datang saat kebenarannya, hal-hal itu akan mampu ditafsirkan dan diketahui, meskipun generasi pendahulu menafsirkannya secara tidak sesuai dengan hakikatnya. </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sungguh, Sunnah yang valid telah mengisyaratkan apa yang sedang kita bahas.</strong> Al-Bukhāri<span style="text-decoration: underline;">y</span> telah meriwayatkan dari hadits Ibn `Umar, dari Nabi r, bahwa beliau bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّّةٌ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسبُ، الشَّهْرُ هكَذَا وَهكَذَا. يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَة وَعِشْرِيْن، وَمَرَّةً ثَلاَثِيْنَ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Sesungguhnya kami adalah umat yang buta huruf. Kami tidak menulis dan tidak pula berhitung. Bulan itu demikian dan demikian. Maksud beliau, kadang dua puluh sembilan hari dan kadang tiga puluh hari</em>.” <span style="color: #ff0000;">[<em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-Bukhāri<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, vol. III, hlm. 27 – 28, cet. al-Sulthāniyyah, <em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span> Muslim</em>, vol. I, hlm. 299, cet. Būlāq, <em>Sunan Abū Dāwūd</em>, vol. II, hlm. 266 – 267 (dari <em>Syar<span style="text-decoration: underline;">h</span> `Awn al-Ma`būd</em>), dan <em>Sunan al-Nasā-i<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, vol. I, hlm. 302 – 303.]</span></p>
<p style="text-align: justify;">Juga diriwayatkan oleh Mālik dalam <em>al-Muwaththa’</em> [vol. I, hlm. 269], juga al-Bukhāri<span style="text-decoration: underline;">y</span>, Muslim, dan lain-lain, dengan redaksi:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الشَّهْرُ تِسْعَةٌ وَعِشْرُوْنَ، فَلاَ تَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْا الْهِلاَلَ، وَلاَ تُفْطِرُوْا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوْا لَهُ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Bulan itu dua puluh sembilan hari. Karena itu, janganlah kalian berpuasa hingga kalian hilal, dan jangan kalian berbuka hingga kalian melihatnya. Jika kondisi mendung, maka perhitungkanlah</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh, telah benar ulama kita terdahulu, <em>ra<span style="text-decoration: underline;">h</span>imahumullāh</em>, dalam menafsirkan makna hadits, namun mereka keliru dalam takwilnya. Pernyataan yang paling komprehensif mengenai pendapat ulama terdahulu dapat ditemukan antara lain pada ucapan al-Hāfizh Ibn <span style="text-decoration: underline;">H</span>ajar [dalam <em>Fat-<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-Bārī</em>, vol. IV, hlm. 108 - 109],</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">المراد بالحساب هنا حساب النجوم وتسييرها، ولم يكونوا يعرفون من ذلك الا النزر اليسير. فعلق الحكم بالصوم وغيره بالرؤية، لرفع الحرج عنهم في معاناة التسيير، واستمر الحكم في الصوم ولو حدث بعدهم من يعرف ذلك. بل ظاهر السياق ينفي تعليق الحكم بالحساب أصلاً. ويوضحه قوله في الحديث الماضي: فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين. ولم يقل فسلوا أهل الحساب. والحكمة فيه كون العدد عند الاغماء يستوي فيه المكلفون، فيرتفع الاختلاف والنزاع عنهم. وقد ذهب قوم الى الرجوع الى اهل التسيير في ذلك، وهم الروافض، ونقل عن بعض الفقهاء موافقتهم. قال الباجي: واجماع السلف الصالح حجة عليهم. وقال ابن بزيزة: وهو مذهب باطل، فقد نهت الشرعية عن الخوض في علم النجوم، لأنها حدث وتخمين، ليس فيها قطع ولا ظن غالب، مع انه لو ارتبط الامر بها لضاق، اذ لا يعرفها إلا القليل</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Yang dimaksud dengan hisab pada permasalahan ini adalah hisab perbintangan dan garis edarnya. <strong>Mereka dahulu tidak mengetahuinya kecuali hanya sedikit saja. Karena itu,</strong> <strong>hukum penentuan waktu puasa dan selainnya dikaitkan dengan rukyat, untuk menghilangkan kesulitan mereka terhadap (perhitungan) garis edar</strong>, dan hukum ini terus berlaku meskipun pada generasi setelah mereka terdapat orang-orang yang memiliki pengetahuan terhadap hisab tersebut. Bahkan, zahir redaksi hadits menafikan keterkaitan hukum tersebut dengan hisab secara prinsip. Hal ini ditegaskan oleh perkataan Nabi </em><em>r, ‘Jika kondisi mendung, maka sempurnakanlah bilangan bulan itu menjadi tiga puluh hari.’ Nabi </em><em>r tidak berkata, ‘Tanyakanlah hal itu kepada ahli hisab.’ Hikmahnya adalah, terdapat kesetaraan antara para mukallaf pada penentuan bilangan dalam kondisi mendung tersebut, sehingga tidak terjadi perbedaan dan perselisihan pendapat. Ada suatu kaum yang berpendapat agar merujuk kepada ahli astronomi dalam hal tersebut, yaitu kaum Rāfidhah<span style="color: #ff0000;">[1]</span>, dan terdapat nukilan dari sebagian ahli fiqh bahwa mereka menyetujui hal itu. Al-Bāji berkata, ‘Ijma` kaum Salaf yang shalih menjadi hujjah yang menentang pendapat mereka.’ Ibn Bazīzah berkata, ‘<strong>Ini adalah pendapat yang batil, karena syariat telah melarang untuk mendalami ilmu nujum (perbintangan), karena itu tidak lain adalah dugaan dan spekulasi. Ilmu itu tidak memberikan kepastian, maupun prediksi yang kuat (zhann ghālib). Di sini lain, apabila perkara ini dikaitkan dengan ilmu tersebut, maka tentu akan menyulitkan, karena tidak yang menguasai ilmu itu kecuali segelintir orang.’</strong>”  </em></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[1. <em>Catatan</em>: Kami tidak mengetahui siapakah yang dimaksud oleh al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>āfizh Ibn <span style="text-decoration: underline;">H</span>ajar tentang kaum Rāfidhah tersebut. Jika yang beliau maksud adalah Syi`ah Imāmiyyah, maka yang kami ketahui adalah mereka berpendapat bahwa ilmu hisab tidak diperkenankan. Namun jika yang beliau maksud adalah sekte yang lain, maka kami tidak tahu tentang mereka.]</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tafsir di atas benar, bahwa yang menjadi patokan adalah rukyat dan bukan hisab. Namun, takwilnya keliru, yaitu bahwa sekiranya pun ada orang yang mengetahui ilmu hisab, hukum penentuan puasa dengan rukyat tetap berlaku. Sebab, perintah untuk bersandar hanya kepada rukyat memilki <em>`illat</em> yang tercantum secara tekstual, bahwa umat di masa Nabi r adalah umat yang <em>ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em> (buta huruf), tidak menulis dan tidak pula berhitung. Sementara, eksistensi <em>‘illat </em>itu menyertai eksistensi hukum, baik dalam hal penetapan maupun penafian.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Oleh karena itu, jika umat ini telah keluar dari kondisi ke-<em>ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>-annya, dan menjadi melek huruf serta mampu berhitung; maksud saya, umat ini secara komunal telah menguasai ilmu-ilmu tersebut; dan di sisi lain masyarakat, baik orang awam maupun para pakarnya, mampu mencapai derajat keyakinan dan kepastian dalam penentuan awal bulan secara hisab, sehingga mereka percaya dengan hasil hisab tersebut sebagaimana mereka percaya dengan hasil rukyat, atau bahkan kepercayaan dengan hasil hisab itu lebih kuat; apabila demikian halnya kondisi umat ini secara komunal dan <em>`illat</em> ke-<em>ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>-an itu telah hilang, maka merupakan keharusan untuk merujuk kepada hal yang yakin dan tetap, serta mengambil hisab semata dalam penentuan hilal, dan tidak merujuk kepada rukyat kecuali dalam kondisi ilmu hisab itu sulit diterapkan. Misalnya untuk kondisi masyarakat yang hidup di desa atau pedalaman yang tidak terjangkau oleh informasi dari ahli hisab. </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan demikian, menjadi keniscayaan untuk merujuk kepada hisab semata dikarenakan hilangnya <em>`illat</em> yang melarangnya. <strong>Merupakan keharusan pula untuk merujuk pada penerapan hisab hakiki terhadap hilal, dengan membuang kriteria kemungkinan atau ketidakmungkinan rukyat </strong>(<em>imkān al-ru’yah</em>, visibilitas rukyat). Oleh karena itu,<strong> permulaan bulan yang hakiki adalah malam tanpa hilal setelah tenggelamnya matahari, meskipun itu hanya terjadi sesaaat.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Negeri kami ini, Mesir, merupakan sentra penelitian yang menakjubkan. Di dalamnya terdapat ulama falak dan ahli astronomi, baik dari kalangan universitas al-Az-har maupun selainnya, yang mampu memperhitungkan posisi bulan setelah tenggelamnya matahari secara akurat pada setiap waktu dan setiap bulan. Mereka memproduksi keputusan yang pasti dan valid yang memberikan konsekuensi wajib untuk diyakini, menurut istilah ulama. Kenapa kita harus khawatir untuk percaya pada hasil hisab mereka untuk masalah penentuan awal bulan, padahal di sisi lain kita percaya dengan hasil hisab mereka untuk penentuan waktu-waktu shalat dan ibadah lainnya? Kenapa pula kita harus khawatir, sementara kita bisa percaya dengan informasi dari telegraph, telepon atau radio mengenai bahwa suatu negeri, seperti Mesir, Sudan atau yang lain, telah menetapkan hilal dengan rukyat?</p>
<p style="text-align: justify;">Dahulu, sejak lebih dari dua puluh tahun lalu, ketika menjabat sebagai ketua Mahkamah Agung Syariah, <em>Grand Master</em> Syekh al-Maraghi<span style="text-decoration: underline;">y</span> berpendapat bahwa persaksian saksi yang melihat hilal tertolak apabila hasil hisab memastikan ketidakmungkinan rukyat tersebut, sebagaimana pendapat Taqiyuddīn al-Subki<span style="text-decoration: underline;">y</span> yang saya nukil di sini. Pendapat beliau ini kemudian menimbulkan kontroversi dan perdebatan yang sengit. Dahulu, saya, ayah saya dan sebagian saudara saya termasuk kalangan yang menentang pendapat beliau. Namun sekarang, saya tegaskan bahwa beliau benar. Dan, saya (bahkan) menambahkan tentang keharusan penetapan hilal dengan hisab untuk setiap kondisi, kecuali bagi orang-orang yang tidak terjangkau oleh ilmu ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat saya ini bukanlah pendapat yang baru dan mengada-ada (bid`ah), karena perbedaan kondisi <em>mukallaf</em> dapat menyebabkan perbedaan hukum. Hal semacam ini banyak terdapat di dalam syariat, sebagaimana yang umum diketahui oleh ulama dan selainnya. Salah satu contohnya adalah permasalahan kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits: “<em>Jika kondisi mendung, maka perhitungkanlah</em>,” diriwayatkan dengan beberapa redaksi lain, yang sebagiannya berbunyi: “<em>Jika kondisi mendung, maka sempurnakanlah bilangan bulan itu menjadi tiga puluh hari</em>.” Ulama menafsirkan kata yang bersifat global: “<em>perhitungkanlah</em>” dengan periwayatan yang lebih spesifik: “<em>sempurnakanlah bilangan bulan itu</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Namun demikian, terdapat seorang imam yang agung dari kalangan madzhab Syāfi`i<span style="text-decoration: underline;">y</span>, yaitu Abū al-`Abbās A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad ibn `Umar ibn Surayj<span style="color: #ff0000;">[2]</span> yang menggabungkan kedua riwayat tersebut. Beliau jadikan masing-masing dari keduanya untuk dua kondisi yang berbeda. Redaksi: “<em>perhitungkanlah</em>” bermakna: “<em>perhitungkanlah sesuai posisi bulan</em>,” dan ini berlaku bagi orang-orang yang diberikan oleh Allah kekhususan dengan ilmu tersebut, sedangkan redaksi: “<em>sempurnakanlah bilangan bulan itu</em>” berlaku untuk orang-orang awam <span style="color: #ff0000;">[3]</span>.</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[2. Abū al-`Abbās Ibn Surayj wafat tahun 306 H. Terdapat banyak kesalahan penulisan dalam berbagai buku cetakan sehingga tertulis “Syuray<span style="text-decoration: underline;">h</span>”. Ibn Surayj adalah murid Imam Abū Dāwūd, penyusun kitab <em>Sunan</em>. Abū Is-<span style="text-decoration: underline;">h</span>aq al-Syirāzi<span style="text-decoration: underline;">y</span> berkata tentang beliau, dalam <em>Thabaqāt al-Fuqahā’</em>, “Beliau termasuk pembesar madzhab Syāfi`i<span style="text-decoration: underline;">y</span> dan imam kaum Muslim. Beliau lebih diunggulkan atas seluruh sahabat Imam al-Syāfi`i<span style="text-decoration: underline;">y</span>, bahkan atas al-Muzani<span style="text-decoration: underline;">y</span> sekalipun.” Biografi beliau cukup banyak, antara lain <em>Tārikh al-Baghdād</em>, karya al-Khathīb al-Baghdādi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, vol IV, hlm. 278 – 290; Ibn Khallikān vol I, hlm. 21; dan <em>Thabaqāt al-Syāfi`iyyah</em>, karya Ibn al-Subkiy, vol II, hlm. 67 – 96.]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[3. Lihat misalnya penjelasan al-Qādhi<span style="text-decoration: underline;">y</span> Abū Bakr ibn al-`Arabi<span style="text-decoration: underline;">y</span> terhadap <em>Sunan al-Tirmidzi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, vol. III, hlm. 207 – 208; <em>Thar<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-Tatsrīb</em>, vol. IV, hlm. 111 – 113; dan <em>Fat-<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-Bārī</em>, vol IV, hlm. 104.]</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat saya hampir mirip dengan pendapat Ibn Surayj. Hanya saja, pendapat beliau khusus untuk kondisi mendung yang menyebabkan hilal tidak dapat dirukyat. Beliau jadikan hisab berlaku untuk golongan minoritas orang-orang yang mengetahui hisab pada masa beliau, dimana kondisi ucapan dan hasil perhitungan ahli hisab saat itu sulit untuk dipercayai, sementara informasi penetapan hilal dari negeri lain tidak dapat diterima dengan segera. <strong>Adapun pendapat saya (justru terbalik), metode hisab yang teliti dan terpercaya berlaku umum untuk setiap orang, karena kecepatan penyebaran informasi saat ini. Menjadikan rukyat sebagai sandaran (pada masa sekarang justru) berlaku bagi kalangan minoritas yang tidak terjangkau oleh informasi dan tidak terdapat orang yang kompeten terhadap ilmu falak dan astronomi di kalangan mereka</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memandang pendapat saya merupakan pendapat yang paling adil (pertengahan), paling dekat terhadap fiqh yang selamat, dan merupakan pemahaman yang benar terhadap hadits-hadits yang terkait dengan bab ini.</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya tersisa satu permasalahan detail yang merupakan derivasi dari pendapat kami. Ini sebenarnya telah kami isyaratkan di awal pembahasan, yaitu masalah perbedaan <em>mathla’</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Termasuk hal yang umum diketahui bahwa (secara realitas) terdapat perbedaan <em>mathla`</em> sesuai posisi (daerah tertentu) terhadap garis lintang dan garis bujur. Kondisi perbedaan <em>mathla`</em> tersebut berlaku baik untuk penetapan bulan berdasarkan rukyat maupun hisab. Kami juga telah menjelaskan perbedaaan pendapat ulama terdahulu sehubungan dengan perbedaan <em>mathla`</em> ini. Bahkan, yang tampak bagi kami dari penukilan sejumlah ulama, mayoritas ahli fiqh tidak menjadikan perbedaan <em>mathla`</em> sebagai sandaran (ia tidak memiliki implikasi hukum). Ini sebagaimana nukilan al-Nawawi<span style="text-decoration: underline;">y</span> dari Ibn al-Mundzir. Dari nukilan tersebut dapat dipahami bahwa itulah yang menjadi pendapat Empat Imam dan al-Layts ibn Sa`d, meskipun para pengikut mereka berbeda pendapat pada era berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula halnya yang dinyatakan oleh al-Qarāfi<span style="text-decoration: underline;">y</span> di dalam <em>al-Furūq </em><span style="color: #ff0000;">[vol. II, hlm. 203 – 204, cet. Tunisia, dan lembar 132 dari manuskrip yang kami miliki]</span>: “<em>Sesungguhnya madzhab Māliki<span style="text-decoration: underline;">y</span> menjadikan rukyat hilal di suatu negeri menjadi sebab bagi kewajiban puasa bagi setiap penjuru bumi dan ini disepakati oleh madzhab <span style="text-decoration: underline;">H</span>anbali<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Namun selanjutnya al-Qarāfi<span style="text-decoration: underline;">y</span> menguatkan pendapat yang menyelisihi madzhabnya sendiri, padahal beliau bermadzhab Māliki<span style="text-decoration: underline;">y</span>. Ia berkata, “<em>Jika telah terdapat kesepakatan bahwa terdapat perbedaan waktu shalat sesuai dengan perbedaan ufuk, dan bahwa tiap kaum memiliki waktu fajar, zawāl dan waktu lainnya masing-masing, maka konsekuensinya adalah hal yang sama juga berlaku untuk masalah hilal. Sebab, bisa jadi hilal dapat dirukyat oleh negeri-negeri sebelah Barat, sedangkan ia tidak dapat dirukyat oleh negeri-negeri sebelah Timur. Ini adalah salah satu sebab perbedaan rukyat hilal di antara sebab-sebab lain yang disebutkan dalam ilmu alam yang bukan tempatnya untuk disebutkan di sini. Namun yang saya sebutkan hanyalah untuk mempermudah pemahaman. Jika kondisi hilal itu berbeda sesuai dengan perbedaan ufuk, maka wajib bagi tiap kaum untuk melaksanakan rukyat hilal masing-masing, sebagaimana halnya tiap kaum memiliki waktu fajar sendiri-sendiri, demikian pula waktu-waktu shalat lainnya. Ini adalah kebenaran yang nyata dan pasti. Adapun kewajiban puasa atas seluruh penjuru bumi dengan rukyat hilal di salah satu daerah, maka hal ini jauh dari kaidah, dan dalil-dalil yang ada pun tidak menuntut konsekuensi tersebut</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pendapat al-Qarāfi<span style="text-decoration: underline;">y</span> ini telah didahului oleh al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>āfizh Abū `Amr ibn Abd al-Barr, bahkan ia mengklaim adanya <em>ijmā`</em> atas hal tersebut untuk kondisi negeri-negeri yang sangat berjauhan. Sedangkan, al-`Allāmah al-Syawkāni<span style="text-decoration: underline;">y</span> menukilkan perbedaan pendapat ulama masalah ini <span style="color: #ff0000;">[Lihat:  <em>Nayl al-Awthār</em>, vol. IV , hlm. 267 - 269]</span>. Kemudian beliau berkata, “<em>Yang seharusnya menjadi sandaran adalah pendapat yang menyatakan bahwa apabila penduduk suatu negeri merukyat hilal, maka hukumnya berlaku untuk seluruh negeri. Ini adalah pendapat madzhab Māliki<span style="text-decoration: underline;">y</span>, jamaah dari Zaydiyyah dan pilihan al-Mahdi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, serta nukilan al-Qurthubi<span style="text-decoration: underline;">y</span> dari guru-guru beliau. Tidak perlu dihiraukan pernyataan Ibn `Abd al-Barr bahwa pendapat di atas menyelisihi ijmā`, dimana ia berkata, ‘Karena mereka telah sepakat bahwa rukyat tidak berlaku untuk negeri yang jauh, seperi Khurasān dan Spanyol.’ Pernyataan ini tidak dianggap karena ijmā` yang beliau klaim tidak sempurna (terealisasi), sementara terdapat penyelisihan dari jamaah ulama.</em>”</p>
<p style="text-align: justify;">Merupakan aksioma, yang tidak memerlukan dalil, bahwa <strong>penentuan awal bulan tidak menjadi berbeda hanya karena perbedaan tempat atau jauhnya tempat yang satu dengan yang lain. Meskipun tempat terbitnya bulan antara satu tempat dan yang lain (pastilah) berbeda. Jika bulan tidak mewujud setelah terbenamnya matahari, maka bulan baru telah dimulai.</strong> Adapun korelasi kewajiban ibadah dengan rukyat, maka telah kami jelaskan sebelumnya bahwa hal tersebut dikarenakan <em>`illat</em> tertentu yang tercantum secara tekstual di dalam Sunnah yang valid, sedangkan eksistensi hukum tergantung dari eksistensi <em>`illat</em>-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun ulama yang berpendapat bahwa perbedaan <em>mathla`</em> memiliki implikasi hukum, dan bahwa setiap negeri memiliki rukyat masing-masing, maka mereka membangun pendapatnya itu atas pemberlakuan metode rukyat. Sebab, itulah kadar kesanggupan pada saat itu (menurut mereka).  Perbedaan <em>mathla’</em> bukan merupakan patokan untuk penentuan awal bulan, yang menyebabkan setiap negeri memiliki bulan sendiri, sebagaimana halnya setiap negeri memiliki rukyat masing-masing.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbedaan <em>mathla`</em> tersebut, menurut pemahaman kami, hanyalah merupakan keterkaitan perintah <em>taklīf</em> kepada para <em>mukallaf</em>. Artinya, siapa yang sampai kepadanya ilmu tentang kewajibannya, dengan melalui jalan yang dijadikan oleh pembuat syariat sebagai sebab untuk mendapatkan ilmu tersebut, misalnya rukyat bagi kaum yang <em>ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, maka ia terkena dan dituntut untuk melaksanakan beban <em>taklīf</em> tersebut sesuai waktu yang telah ditentukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun ulama yang berpendapat bahwa perbedaan <em>mathla`</em> tidak dianggap dan bahwa hasil rukyat di suatu negeri berlaku untuk seluruh negeri di penjuru bumi, maka mereka hanya semata-mata mempertimbangkan realitas, yaitu awal bulan untuk satu bumi haruslah merupakan satu hari (yang sama). Ini adalah kebenaran yang tidak diragukan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya, perincian sebelumnya (tentang apakah perbedaan <em>mathla`</em> berimplikasi terhadap penentuan hukum awal bulan) menjadi tidak logis (relevan) jika disandingkan dengan penggunaan metode hisab, sebagaimana pendapat yang kami pilih dan kuatkan. Dengan metode hisab, hari pertama dari tiap bulan Hijriah adalah satu hari (yang sama) bagi seluruh penjuru bumi. Tidak ada perbedaan antara satu tempat dengan yang lain, meskipun satu sama lain saling berjauhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, ada perkara detail yang menjadi <em>concern</em> saya: <strong>apakah penentuan awal bulan dengan metode hisab dapat didasarkan pada setiap tempat di penjuru bumi atau harus merujuk pada satu titik tertentu?</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pendapat yang salah pillih adalah hal tersebut harus merujuk kepada satu titik tertentu, yaitu Mekah,</strong> sebagaimana diisyaratkan oleh dua pegangan pokok dalam syariat: Quran dan Sunnah.</p>
<p style="text-align: justify;">Perhatikan Firman Allah <em>Ta`ālā</em>:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah: ‘Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji</em>.’” (QS al-Baqarah/2: 189.)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah memberikan petunjuk kepada manusia tentang faidah dari posisi-posisi bulan dan perubahan bentuk hilal, baik membesar atau mengecil, bahwa semua itu untuk menunjukkan waktu bagi manusia terhadap setiap urusan mereka, serta untuk penentuan waktu hari-hari pelaksanaan ibadah haji.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya memandang penyebutan masa pelaksanaan ibadah haji secara khusus setelah penyebutan waktu secara umum memberikan isyarat halus bahwa <strong>penetapan waktu berkaitan dengan satu tempat, yaitu tempat pelaksanaan haji: Mekah.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Adapun dalil Sunnah, al-Tirmidzi<span style="text-decoration: underline;">y</span> meriwayatkan dalam <em>Sunan</em>-nya <span style="color: #ff0000;">[<em>Sunan al-Tirmidzi<span style="text-decoration: underline;">y</span> </em>dengan <em>Syar<span style="text-decoration: underline;">h</span></em> <em>Tu<span style="text-decoration: underline;">h</span>fah al-Ahwadzi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, vol. II, hlm. 37; dan dengan <em>Syar<span style="text-decoration: underline;">h</span> Ibn al-`Arabi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, vol. III, hlm. 216]</span>, dari jalur Is-<span style="text-decoration: underline;">h</span>āq ibn Ja`far ibn Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad ibn al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>usayn, yakni suami dari Sayyidah Nafīsah bint al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>asan ibn Zayn al-`Ābidīn, dari `Abdullāh ibn Ja`far al-Makhrami<span style="text-decoration: underline;">y</span> al-Zuhri<span style="text-decoration: underline;">y</span>, dari `Utsmān ibn Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad al-Akhnasi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, dari al-Maqbari<span style="text-decoration: underline;">y</span>, dari Abū Hurayrah, bahwa Nabi r bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ.</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Puasa adalah hari kalian berpuasa; `Īdul Fithri adalah hari kalian berbuka; dan `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a adalah hari kalian berkurban.</em>”</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Tirmidzi<span style="text-decoration: underline;">y</span> berkata, “Ini adalah hadits <em>gharīb <span style="text-decoration: underline;">h</span>asan</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kami katakan: Bahkan, ini adalah hadits shahih. Sesungguhnya al-Tirmidzi<span style="text-decoration: underline;">y</span> (sendiri) telah menshahihkan hadits dari riwayat al-Mu`allā ibn Manshūr, dari `Abdullāh ibn Ja`far, dengan <em>isnād</em> tersebut. <span style="color: #ff0000;">[Lihat: <em>Tu<span style="text-decoration: underline;">h</span>fah al-Ahwadzi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, vol. I, hlm. 279; dan <em>Syar<span style="text-decoration: underline;">h</span> Ibn al-`Arabi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, vol. II, hlm. 141 – 142.]</span></p>
<p style="text-align: justify;">Selain itu, Is-<span style="text-decoration: underline;">h</span>āq ibn Ja`far tidak bersendirian dalam riwayat di atas. Hadits itu juga diriwayatkan oleh Abū Sa`id Maulā Banī Hāsyim dan Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad ibn `Umar al-Wāqidi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, keduanya dari `Abdullāh ibn Ja`far al-Makhrami<span style="text-decoration: underline;">y</span> dengan <em>isnad</em> tersebut. <span style="color: #ff0000;">[Riwayat Abū Sa`īd tersebut terdapat dalam <em>al-Sunan al-Kubrā</em>, karya al-Bayhaqi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, vol. IV, hlm. 252. Sementara riwayat al-Wāqidi<span style="text-decoration: underline;">y</span> terdapat dalam <em>Sunan al-Dāruquthni<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, hlm. 231. Menurut kami, al-Wāqidi<span style="text-decoration: underline;">y</span> adalah perawi yang <em>tsiqah</em> (terpercaya), berbeda dengan pendapat ulama yang melemahkannya.]</span></p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, `Abdullāh ibn Ja`far al-Makhrami<span style="text-decoration: underline;">y</span> juga tidak bersendirian. Al-Wāqidiy juga meriwayatkannya, dari Dāwūd ibn Khālid, Tsābit ibn Qays dan Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad ibn Muslim, ketiganya dari al-Maqbari<span style="text-decoration: underline;">y</span>, dari Abū Hurayrah <span style="color: #ff0000;">[Riwayat dimaksud juga tercantum dalam <em>Sunan al-Dāruquthni<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>]</span>. Karena itu, dalam <em>Syar<span style="text-decoration: underline;">h</span></em>-nya terhadap <em>Sunan al-Tirmidzi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, al-Qādhi<span style="text-decoration: underline;">y</span> Abū Bakr ibn al-`Arabi<span style="text-decoration: underline;">y</span> merajihkan bahwa hadits ini shahih.</p>
<p style="text-align: justify;">Abū Dāwūd juga meriwayatkan dalam <em>Sunan</em>-nya <span style="color: #ff0000;">[Lihat: <em>Syar<span style="text-decoration: underline;">h</span> `Awn al-Ma`būd</em>, vol. II, hlm. 269]</span>, dari jalur <span style="text-decoration: underline;">H</span>ammād ibn Zayd, dari Ayyūb, dari Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad ibn al-Munkadir, dari Abū Hurayrah secara <em>marfū`</em> (sampai kepada Nabi r):</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ، وَكُلُّ عَرَفَة مَوْقِف، وَكُلُّ مِنى مِنْحَرٌ، وَكُلُّ فِجَاجِ مَكَّةَ مِنْحَرٌ، وَكُلُّ جمعٍ مَوْقِفٌ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>`Īdul Fithri kalian adalah hari kalian berbuka dan `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a adalah hari kalian berkurban. Seluruh `Arafah adalah tempat wuquf. Seluruh mina adalah tempat menyembelih. Segenap penjuru Mekah adalah tempat menyembelih. Seluruh Muzdalifah adalah tempat wuquf.</em>”</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian pula al-Dāruquthni<span style="text-decoration: underline;">y</span> meriwayatkan dari jalur di atas, dan dari jalur Raw<span style="text-decoration: underline;">h</span> ibn al-Qāsim, dari Ibn al-Munkadir. Al-Bayhaqi<span style="text-decoration: underline;">y</span> juga meriwayatkan dalam <em>al-Sunan al-Kubrā</em>, vol. IV, hlm. 251 &#8211; 252, dari jalur `Abd al-Wārits dan Rūh ibn al-Qāsim, dari Ibn al-Munkadir. Beliau juga meriwayatkan <span style="color: #ff0000;">[dalam <em>al-Sunan al-Kubrā</em>, vol. V, hlm. 175]</span> dari jalur <span style="text-decoration: underline;">H</span>ammad ibn Zayd, seperti halnya riwayat Abū Dāwūd.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Dāruquthni<span style="text-decoration: underline;">y</span> dan al-Bayhaqi<span style="text-decoration: underline;">y</span> juga meriwayatkan dari jalur Ismā`īl ibn `Ulayyah dan `Abdul Wahhāb al-Tsaqafi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, dari Ayyūb, dari Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad ibn al-Munkadir, dari Abū Hurayrah secara <em>mawqūf</em> <span style="color: #ff0000;">[yakni merupakan ucapan Abū Hurayrah. Lihat: <em>al-Sunan al-Kubrā</em>, vol. IV, hlm. 251 - 252]</span>, bahwa beliau berkata:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إنما الشهر تسع وعشرون فلا تصوموا حتى تروه، ولا تفطروا حتى تروه، فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين. فطركم يوم تفطرون، وأضحاكم يوم تضحون، وكل عرفة موقف، وكل منى منحر، وكل فجاج مكة منحر.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Sesungguhnya bulan itu adalah dua puluh sembilan hari. Karena itu, janganlah kalian berpuasa sampai kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka sampai kalian melihat hilal. Jika kondisi mendung, maka sempurnakanlah bilangan bulan menjadi tiga puluh hari. `Īdul Fithri kalian adalah hari kalian berbuka dan `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a adalah hari kalian berkurban. Seluruh `Arafah adalah tempat wuquf. Seluruh mina adalah tempat menyembelih. Segenap penjuru Mekah adalah tempat menyembelih.</em>”</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Mājah juga meriwayatkan dalam <em>Sunan</em>-nya, vol. I, hlm. 262, dari jalur <span style="text-decoration: underline;">H</span>ammad ibn Zayd, dari Ayyūb, dari Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad ibn Sīrīn, dari Abū Hurayrah, beliau mengatakan bahwa Rasulullāh r bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ، وَالأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّوْنَ.</span></p>
<p style="text-align: justify;">“`<em>Īdul Fithri kalian adalah hari kalian berbuka dan `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a adalah hari kalian berkurban.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh <em>isnād</em> di atas shahih. Satu sama lain saling menguatkan. Hal ini membantah pernyataan al-Tirmidzi<span style="text-decoration: underline;">y</span> bahwa hadits tersebut <em>gharīb</em>, karena ia datang dari berbagai jalur yang shahih.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, apa makna hadits di atas?</p>
<p style="text-align: justify;">Ulama klasik menafsirkan hadits tersebut dengan berbagai makna. Kadang ditafsirkan dengan makna yang merupakan zahir redaksi hadits. Al-Tirmidzi<span style="text-decoration: underline;">y</span> berkata dalam <em>Sunan</em>-nya, “<em>Sebagian ulama menafsirkan hadits ini dengan mengatakan bahwa makna hadits ini adalah puasa dan `Īdul Fithri dilaksanakan bersama jamaah dan mayoritas manusia</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Al-Khaththābi<span style="text-decoration: underline;">y</span> berkata <span style="color: #ff0000;">[dalam <em>Ma`ālim al-Sunan</em>, vol. II, hlm. 95 - 96]</span>,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">معنى الحديث: أن الخطأ موضوع الناس فيما كان سبيله الاجتهاد، فلو أن قوماً اجتهدوا فلم يروا الهلال إلا بعد الثلاثين فلم يفطروا حتى استوفوا العدد، ثم ثبت عندهم ان الشهر كان تسعاً وعشرين، فإن صومهم وفطرهم ماض، فلا شيء عليهم من وزر أو عتب.</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Makna hadits ini adalah, kesalahan manusia yang disebabkan oleh ijtihād itu dihapuskan. Misalkan saja ada suatu kaum yang telah ber-itjtihād (bersungguh-sungguh) untuk merukyat hilal. Namun mereka tidak dapat melihat hilal kecuali setelah tiga puluh hari. Akibatnya, mereka tidak melaksanakan `Īdul Fithri kecuali setelah tiga puluh hari tersebut. Ternyata, selanjutnya diketahui bahwa sebenarnya jumlah hari puasa tersebut hanyalah dua puluh sembilan hari. Pada kondisi tersebut, puasa dan `Īdul Fithri mereka tetap berlaku, dan tidak ada dosa atau celaan bagi mereka</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Taqiyuddīn al-Subki<span style="text-decoration: underline;">y</span> berkata dalam <em>Fatāwā</em>-nya <span style="color: #ff0000;">[vol. I, hlm. 225]</span>, “<em>Maksud dari hadits di atas adalah apabila kaum Muslim sepakat untuk hal tersebut (puasa dan hari raya). Sebab, kaum Muslim tidak mungkin sepakat di atas kesesatan. Di sisi lain, ijmā` adalah hujjah</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ada juga ulama yang menafsirkan hadits di atas dengan riwayat al-Tirmidzi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, dari hadits Ma`mar, dari Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad ibn al-Munkadir, dari `Āisyah, dari Nabi r, bahwa beliau berkata,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّى النَّاسُ.</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Īdul Fithri adalah hari dimana manusia berbuka dan `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a adalah hari dimana manusia berkurban.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Al-Tirmidzi<span style="text-decoration: underline;">y</span> berkata, “Ini adalah hadits <em><span style="text-decoration: underline;">h</span>asan gharīb s<span style="text-decoration: underline;">h</span>ahī<span style="text-decoration: underline;">h</span></em>, dari perwajahan ini.”</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #ff0000;">[Lihat: <em>Tu<span style="text-decoration: underline;">h</span>fah al-A<span style="text-decoration: underline;">h</span>wadzi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, vol. II, hlm. 71 dan <em>Syar<span style="text-decoration: underline;">h</span> Ibn al-`Arabi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, vol. IV, hlm. 14. Al-Bayhaqi<span style="text-decoration: underline;">y</span> juga meriwayatkannya secara makna dari ucapan `Āisyah dengan sanad yang lain, vol. IV, hlm. 353.]</span></p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya, namun kita mengetahui bahwa banyak dari kalangan perawi yang meringkas hadits, dan sebagian hadits tersebut diriwayatkan secara makna (bukan dengan mengutip redaksi hadits yang sebenarnya). Karena itulah para penghapal dan kritikus hadits mengumpulkan berbagai riwayat yang berbeda-beda, mengingat sering kali makna hadits yang ringkas dijelaskan dan ditafsirkan oleh hadits yang panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kita dapati bahwa hadits `Āisyah di atas diriwayatkan juga oleh al-Bayhaqi<span style="text-decoration: underline;">y</span> <span style="color: #ff0000;">[dalam <em>al-Sunan al-Kubrā</em>, vol. V, hlm. 175]</span>, dari jalur Sufyān al-Tsawri<span style="text-decoration: underline;">y</span>, dari Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad ibn al-Munkadir, dari `Āisyah, beliau mengatakan bahwa Rasulullāh r bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">عَرَفَةُ يَوْمَ يُعَرِّفُ الْإِمَامُ، وَالأَضْحَى يَوْمَ يُضَحِّي الإِمَامُ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ الْإِمَامُ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>`Arafah adalah hari dimana Imam melakukan wukuf `Arafah. `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a adalah hari dimana Imam melaksanakan kurban. `Īdul Fithri adalah hari dimana Imam berbuka.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sanad</em>-nya shahih. Riwayat ini menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan “manusia” adalah “Imam”, dimana Imam adalah orang yang diikuti oleh mayoritas manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, pada kumpulan riwayat yang kami nukil, dari hadits Abū Hurayrah dan `Āisyah, kita dapati suatu irisan pada banyak redaksi hadits yang perlu diteliti dan direnungkan, yaitu penyebutan “`Arafah” sebagai hari dan juga sekaligus tempat, serta penyebutan Mekah, Mina dan Muzdalifah: <em>“Seluruh `Arafah adalah tempat wukuf; `Arafah adalah hari dimana Imam melaksanakan wukuf `Arafah; Setiap Mina adalah tempat menyembelih; Segenap penjuru Mekah adalah tempat menyembelih; dan Seluruh Muzdalifah adalah tempat wukuf.”</em> Dalam riwayat al-Bayhaqi<span style="text-decoration: underline;">y</span> secara <em>mursal</em>, dari jalur al-Syāfi`i<span style="text-decoration: underline;">y</span>, disebutkan: <em>“`Arafah adalah hari dimana kalian melakukan wukuf di `Arafah.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Menurut saya, penyebutan tempat-tempat dan waktu haji dalam banyak riwayat hadits tersebut, bahkan pada mayoritasnya, menguatkan bahwa hadits itu terjadi pada perisitiwa haji <em>wadā`</em>, yaitu ketika Nabi r mengajarkan syiar-syiar haji kepada manusia, dan beliau berkhutbah di `Arafah, Mina dan selainnya. Selain saat haji <em>wadā`</em>, tidak terdapat rekaman bahwa beliau mengajarkan syiar-syiar haji.</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini dikuatkan bahwa Jabir ibn `Abdillāh menyifatkan haji <em>wadā`</em> dalam hadits panjang yang terkenal di kalangan ahli hadits. Dalam hadits itu terdapat redaksi yang mirip dengan redaksi hadits Abū Hurayrah. Jābir menyebutkan: Nabi r menyembelih sembelihan dan memakan sebagiannya, kemudian beliau berkata, “<em>Aku menyembelih di sini, dan seluruh Mina adalah tempat penyembelihan</em>.” Nabi r wukuf di `Arafah lalu beliau berkata, “<em>Aku wukuf di sini, dan seluruh `Arafah adalah tempat wukuf</em>.” Beliau juga wukuf di Muzdalifah, lalu beliau berkata, “<em>Aku wukuf di sini, dan seluruh Muzdalifah adalah tempat wukuf</em>.” <span style="color: #ff0000;">[Lihat: <em>Musnad al-Imām A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad</em>, vol. III, hlm. 320 – 321; <em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span> Muslim</em>, vol. I, hlm. 346 – 348; <em>`Awn al-Ma`būd</em>, vol. II, hlm. 122 – 131; serta <em>al-Bidāyah wa al-Nihāyah</em>, karya Ibn Katsīr, vol. V, hlm 147 – 149.]</span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dengan demikian, hadits Abū Hurayrah yang <em>marfū`</em>: “<em>`Īdul Fithri adalah hari kalian berbuka … dst.</em>,”ditujukan kepada mitra bicara orang-orang yang mengerjakan ibadah haji di tempat pelaksanaan haji. Demikian pula halnya dengan riwayat-riwayat lain yang telah disebutkan sebelumnya</strong>, termasuk hadits `Āisyah dan selainnya. Seluruhnya merupakan riwayat yang terkait dengan haji <em>wadā`</em>. Adapun redaksi hadits: “<em>`Īdul Fithri adalah hari dimana manusia berbuka</em>,” atau “<em>`Īdul Fithri adalah hari dimana Imam berbuka</em>,<em>” </em>maka itu merupakan periwayatan secara makna, dan hadits asalnya ditujukan bagi orang-orang yang berada di tempat ibadah haji.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Dari penjelasan di atas, kita dapat memahami makna hadits-hadits di atas, bahwa puasa, `Īdul Fithri dan `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a adalah hari dimana penduduk Mekah dan kawasan sekitarnya melakukan puasa, `Īdul Fithri dan `Īdul Adl<span style="text-decoration: underline;">h</span>a. Tempat itulah yang menjadi sandaran untuk penetapan hilal, sehingga kaum Muslim dari seluruh penjuru bumi mengikuti <em>mathla`</em> hilal Mekah. </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah isyarat yang halus terhadap hikmah dan makna pengkhususan penyebutan haji setelah penyebutan waktu secara umum pada Firman Allah <em>Ta`ālā</em>:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadah) haji</em>.” (QS al-Baqarah/2: 189.)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sekiranya kita (semua) sependapat dengan pandangan dan pemahaman saya, niscaya kalimat kaum Muslim bersatu padu dalam penetapan bulan-bulan Islam.</strong> Mekah adalah mata air Islam, tempat turunnya wahyu, dan tempat pertemuan kaum Muslim setiap tahun, seolah-olah mereka saling berjanji untuk bertemu di sana. Mekah adalah tempat kaum Muslim saling mengenal dan mencintai. Di Mekah, terdapat Baytullāh yang kaum Muslim menghadap kepadanya di dalam shalat, sebagai simbol persatuan mereka. Dengan demikian, Mekah merupakan sentral untuk penentuan waktu bagi kaum Muslim.</p>
<p style="text-align: justify;">*******</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Wa ba` d</em>:</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Pembahasan ini tidaklah saya tulis melainkan setelah melalui proses perenungan, pemikiran dan penelitian, berdasarkan metodologi Salaf yang saleh dari kalangan ulama, (yaitu) untuk mengambil dari Quran dan Sunnah, serta membuang taklid dan fanatisme</strong>. Semoga saya menepati kebenaran, dengan pertolongan dan taufik dari Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Saya kemukakan pembahasan ini untuk dicermati oleh ulama dan para peneliti. Saya ucapan terima kasih atas kritik maupun dukungan, yang dengannya kebenaran dan hakikat menjadi terungkap dan teruji. Saya tidak menutut kecuali agar asas pembahasan itu adalah Quran dan Sunnah, serta <em>istinbāth</em> dan fiqh (pemahaman) dari keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun hanya melontarkan pendapat dengan pernyataan-pernyataan kosong yang dibangun atas dasar pikiran semata dan hawa nafsu, sebagaimana yang dilakukan oleh mereka yang menamakan dirinya sebagai “para pembaharu” (<em>mujaddidūn</em>), maka yang demikian itu tidak akan menghasilkan pembahasan ilmiah terperinci untuk menegakkan kebenaran dan menghilangkan kebatilan.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun berpegang dengan pendapat para ahli fiqh, yang oleh sebagian mereka disebut sebagai nash, dimana mereka menyangka bahwa itu menjadi hujjah atas kami dan manusia, maka pendapat-pendapat tersebut, atau mayoritasnya, berada dalam genggaman dan penglihatan kami, dan kami tidak mendebat orang-orang yang berhujjah dengan pendapat itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Na`am</em>, saya tidak dapat menghalangi siapapun untuk berpendapat sesuai kehendaknya. Namun, saya dapat mencegah pena saya dari sikap ikut-ikutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada Allah saya memohon perlindungan dan taufik.</p>
<p style="text-align: justify;">Ditulis oleh,</p>
<p style="text-align: justify;">A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad Syākir &#8211; Hakim Syariah</p>
<p style="text-align: justify;">24 Dzul Hijjah 1357 H atau 13 Februari 1939</p>
<p style="text-align: justify;">====================================</p>
<p style="text-align: justify;">Berikut versi teks Arab dari risalah ilmiah tersebut (didapat dari internet, dengan sedikit editing dari versi <em>scan</em>-nya):</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">أوائل الشهور العربية هل يجوز شرعاً إثباتها بالحساب الفلكي</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">كتبه الشيخ أحمد محمد شاكر رحمه الله تعالى</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">__________________________</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ثبت في مصر لدى المحكمة العليا الشرعية أن أول شهر ذي الحجة من هذا العام (سنة 1357هـ) يوم السبت، فكان عيد الأضحى يوم الاثنين (30 يناير سنة 1939م).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">بعد بضعة أيام، نشر في المقطم أن حكومة المملكة العربية السعودية لم يثبت عندها ان السبت أول ذي الحجة، فصار أوله الأحد، فكان وقوف الحجيج بعرفة يوم الاثنين، والعيد يوم الثلاثاء  (31  يناير سنة 1939م).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وفي يوم الجمعة 21 ذي الحجة (10 فبراير سنة 1939م) نشرت جريدة البلاغ عن مراسلها في بومباي احتفلوا بعيد الأضحى في هذا العام &#8220;يوم الأربعاء، خلافاً لما أعلن في الممالك الإسلامية الأخرى&#8221;. ومعنى هذا أنه لم يثبت لدى مسلمي الهند ان أول الشهر السبت ولا الأحد، فاعتبروا أوله يوم الاثنين.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وهكذا في أكثر اشهر المواسم، يتراءى الناس الهلال في البلاد الإسلامية، فيرى في بلد ولا يرى في بلد آخر، ثم تختلف مواسم العبادات في بلاد المسلمين، فبلد صائم وبلد مفطر، وبلد مضح وبلد يصوم أهله عرفة.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">قد كتب العلماء والفقهاء في اثبات الاهلة ابحاثاً قيمة نفيسة، في كتب التفسير والحديث والفقه وغيرها، واتفقت كلمتهم – أو كادت – على ان العبرة في ثبوت الشهر بالرؤية وحدها، وأنه لا يعتبر حساب منازل القمر ولا حساب المنجم، إلا شيئاً يحكى في مذهب الشافعي: أنه يجوز للحاسب أو المنجم ان يعمل في نفسه بحسابه، والا شيئاً آخر عندهم: أنه يجوز لغيرهما تقليدهما، أو يجوز تقليد الحاسب دون المنجم. [انظر: المجموع للنووي (ج 1 ص 279 – 280).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">والعمدة في الباب الأحاديث الصحيحة التي لا شك في صحتها: &#8220;صوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته، فإن غم عليكم فأكملوا شعبان ثلاثين&#8221;. &#8220;لاتصوموا حتى تروا الهلال ولا تفطروا حتى تروه فإن غم عليكم فاقدروا له&#8221;. وما جاء في هذا المعنى من الفاظ الأحاديث الصحيحة. [انظر صحيح البخاري (ج 3 ص 27 – 28 من الطبعة السلطانية)، ونيل الأوطار (ج 4 ص 258 – 267)، ونصب الراية (ج 2 ص 437 – 440) وطرح التثريب (ج 6 ص 111 – 114).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ثم اختلف العلماء: هل يعتبر اختلاف المطالع أو لا يعتبر؟ أي انه اذا رؤى الهلال في بلد، هل يسري حكم الرؤية وثبوت الشهر على غيره من البلاد، وان بعد ما بينها، وان اختلف المطلع في كل منهما؟ او يكون لكل بلد رؤيته، فيكون في مصر على غير ما في الحجاز أو العراق أو نحو ذلك؟</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">اما الشافعية فإنهم ذهبوا الى ان لكل بلد رؤيتهم، على خلاف عندهم فيما يعتبر به البعد والقرب: أهو اختلاف المطالع، أم اتحاد الاقاليم واختلافها، أم مسافة القصر؟!</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">قال النووي في المجموع بعد ان فصّل ذلك[1]: &#8220;فرع في مذاهب العلماء فيما إذا رأى الهلال أهل بلد دون غيرهم: قد ذكرنا تفصيل مذهبنا. ونقل ابن المنذر عن عكرمة والقاسم وسالم واسحاق بن راهويه: انه لا يلزم غير اهل بلد الرؤية، وعن الليث والشافعي وأحمد: يلزم، قال: ولا أعلمه إلا قول المدني والكوفي. يعني مالكاً وأبا حنيفة[2]&#8220;.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. المجموع (ج 6 ص 273 – 274).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[2. انظر أيضا معالم السنن للخطابي (ج 2 ص 98) وتفسير القرطبي (ج 2 ص 274 – 276).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وقد كثر الكلام في هذه السنين في هذا المعنى وتكرر، من أجل سرعة الاتصال بين اقطار الأرض، بما استحدث من التلغراف والتليفون أولاً، ثم بالراديو أخيراً. وصارت بلاد الاسلام كأنها بلد واحد في وصول الاخبار بإثبات الشهر ونفيه، ويرى الناس ان هذا الاضطراب في مسائل شرعية هامة مؤقتة بوقوت سنوية أو شهرية، مما لا يصبرون على بقائه. ويحاولون ان يخرجوا منه، ما وجدوا لتوحيد الكلمة فيها سبيلاً.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">واذكر انه جاء في العام الماضي أو قبله سؤال مفصل في هذا المعنى من الهند الى مشيخة الازهر الشريف، وارسلت المشيخة نسخاً منه الى جماعة كبار العلماء، ليجيب كل من حضراتهم بما يراه او يعلمه، وجاءت نسخته الى والد، ولا ادري ماذا كان من شأن السؤال بعد ذلك.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">أما والدي فقد حبسه المرض عن التصرف بالقول او بالكتابة، شفاه الله.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وقد ادرت هذا البحث في فكري طويلاً، بعد ان بدا لي فيه رأي، أرجو ان يكون صواباً، ثم جاء الخلاف في هذا العام في يوم عرفة، وهو يوم الحج الأكبر، وهو اعظم المواسم الاسلامية، وشهر ذي الحجة أخطر الشهور اثراً، اذ ان يوم عرفة، وهو اليوم التاسع منه: ظرف محدود لأداء ركن الحج، وهو الوقوف بعرفة، وهو لا يدور إلا مرة واحدة في السنة،وأكثر الحجاج لا يحجون الا مرة واحدة في العمر، فلعلهم ان اخطأهم الوقوف في يومه الحقيقي يخشون أن لا يكونوا قد أدوا الفريضة عن انفسهم.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">فكان هذا حافزاً لي على كتابة ما رأيته في اثبات الاهلة، لاعرضه على اهل العلم والنظر، من الفقهاء والمحدثين وغيرهم، في انحاء العالم الاسلامي.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">فمما لا شك فيه ان العرب قبل الاسلام وفي صدر الاسلام لم يكونوا يعرفوان العلوم الفلكية معرفة علمية جازمة، كانوا أمة اميين، لا يكتبون ولا يحسبون، ومن شدا منهم شيئاً من ذلك فإنما يعرف مبادئ أو قشوراً، عرفها بالملاحظة والتتبع، او بالسماع والخبر، لم تبن على قواعد رياضية، ولا على براهين قطعية ترجع الى مقدمات أولية يقينية، ولذلك جعل رسول الله صلى الله عليه وسلم مرجع اثبات الشهر في عبادتهم الى الامر القطعي المشاهد، الذي هو في مقدور كل واحد منهم، أو في مقدور أكثرهم، وهو رؤية الهلال بالعين المجردة، فإن هذا احكم واضبط لمواقيت شعائرهم وعباداتهم، وهو الذي يصل اليه اليقين والثقة مما في استطاعتهم. ولا يكلف الله نفساً الا وسعها.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ولم يكن مما يوافق حكمة الشارع ان يجعل مناط الاثبات في الأهلة الحساب والفلك، وهم لا يعرفون شيئاً من ذلك في حواضرهم، وكثير منهم بادون لا تصل اليهم انباء الحواضر، إلا في فترات متقاربة حيناً ومتباعدة أحياناً. فلو جعله لهم بالحساب والفلك لاعنتهم، ولم يعرفه منهم الا الشاذ والنادر في البوادي، عن سماع ان وصل اليهم، ولم يعرفه أهل الحواضر الا تقليداً لبعض أهل الحساب، وأكثرهم أو كلهم من أهل الكتاب.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ثم فتح المسلمون الدنيا. وملكوا زمام العلوم، وتوسعوا في كل أفنانها، وترجموا علوم الأوائل، ونبغوا فيها، وكشفوا كثيراً من خباياها، وحفظوا لمن بعدهم، ومنها علوم الفلك والهيئة وحساب النجوم[1.].</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. انظر كتاب (علم الفلك وتاريخه عند العرب للأستاذ نلينو) طبعة رومة سنة 1911.]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وكان أكثر الفقهاء والمحدثين لا يعرفون علوم الفلك، أوهم يعرفون بعض مبادئها، وكان بعضهم، أو كثير منهم لا يثق بمن يعرفها ولا يطمئن اليه، بل كان بعضهم يرمي المشتغل بها بالزيغ والابتداع، ظناً منه أن هذه العلوم يتوصل بها أهلها الى ادعاء العلم بالغيب ( التنجيم)، وكان بعضهم يدعي ذلك فعلاً، فأساء الى نفسه وإلى علمه، والفقهاء معذورون. ومن كان من الفقهاء والعلماء يعرف هذه العلوم لم يكن بمستطيع ان يحدد موقفها الصحيح بالنسبة الى الدين والفقه، بل كان يشير اليها على تخوّفٍ.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">فانظر – مثلاً – الى تقي الدين السبكي، يذكر في فتاويه [ج 1 ص 219 - 220] ان الحساب إذا دل بمقدمات قطعية على عدم امكان رؤية الهلال لم يقبل فيه شهادة الشهود، وتحمل على الكذب او الغلط، ثم يقول: &#8220;لأن الحساب قطعي، والشهادة والخبر ظنيان، والظن لا يعارض القطع، فضلاً عن أن يقدم عليه، والبينة شرطها أن يكون ما شهدت به ممكناً حساً وعقلاً وشرعاً، فإذا فرض دلالة الحساب قطعاً على عدم الامكان استحال القبول شرعاً، لاستحالة المشهود به، والشرع لا يأتي بالمستحيلات&#8221;. ثم يقول بعد ذلك: &#8220;واعلم انه ليس من مرادنا بالقطع ههنا الذي يحصل بالبرهان الذي مقدماته كلها عقلية، فإن الحال هنا ليس كذلك، وانما هو مبني على ارصاد وتجارب طويلة، وتسيير منازل الشمس والقمر، ومعرفة حصول الضوء الذي فيه. بحيث يتمكن الناس من رؤيته، والناس يختلفون في حدة البصر&#8221;. الى آخر كلامه.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وانظر الى الإمام الكبير تقي الدين بن دقيق العيد[1] يقول في شرح عمدة الاحكام (ج 2 ص 206): &#8220;والذي أقول به ان الحساب لا يجوز ان يعتمد عليه في الصوم بمفارقة القمر للشمس، على ما يراه المنجمون من تقدم الشهر بالحساب على الشهر بالرؤية بيوم او يومين، فإن ذلك احداث لسبب لم يشرعه الله تعالى، وأما اذا دل الحساب على ان الهلال قد طلع من الافق على وجه يرى لولا وجود المانع، كالغيم مثلاً -: فهذا يقتضي الوجوب، لوجود السبب الشرعي، وليس حقيقة الرؤية بمشروطةٍ في اللزوم، لأن الاتفاق على ان المحبوس في المطمورة اذا علم بالحساب باكمال العدة، أو بالاجتهاد بالأمارات، ان اليوم من رمضان: وجب عليه الصوم، وإن لم ير الهلال ولا أخبره من رآه&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. كان من أئمة المالكية والشافعية، وهو عمدة في المذهبين، ولد سنة 625 ومات بالقاهرة سنة 702، وله تراجم جيدة وافية، في الطالع السعيد (ص 317) وتذكرة الحفاظ (ج 4 ص 262) وفوات الوفيات (ج 2 ص 305) وطبقات الشافعية (ج 2 ص2).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">هكذا كان شأنهم، اذ كانت العلوم الكونية غير ذائعة ذيعان العلوم الدينية وما إليها، ولم تكن قواعدها قطعية الثبوت عند العلماء.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وهذه الشريعة الغراء السمحة، باقية على الدهر، الى ان يأذن الله بانتهاء هذه الحياة الدنيا. فهي تشريع لكل أمة، ولكل عصر، ولذلك نرى في نصوص الكتاب والسنة إشارات دقيقة لما يستحدث من الشؤون، فإذا جاء مصداقها فُسّرتْ وعلمت، وان فَسَرَهَا المتقدمون على غير حقيقتها.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وقد أشير في السنة الصحيحة الى ما نحن بصدده، فروى البخاري من حديث ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم انه قال: &#8221; إنا أمة أُميّة، لا نكتب ولا نحسب، الشهر هكذا وهكذا. يعني مرة تسعة وعشرين، ومرة ثلاثين&#8221;.[1] ورواه مالك في الموطأ [ج 1 ص 269] والبخاري ومسلم وغيرهما بلفظ: &#8221; الشهر تسعة وعشرون، فلا تصوموا حتى تروا الهلال، ولا تفطروا حتى تروه، فإن غمّ عليكم فاقدروا له&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. صحيح البخاري (ج 3 ص27 – 28 من الطبعة السلطانية) وصحيح مسلم (ج 1 ص 299 طبعة بولاق) وسنن أبي داود (ج 2 ص 266 – 267من شرح عون المعبود) وسنن الترمذي (ج 1 ص 302 – 303).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وقد أصاب علماؤنا المتقدمون رحمهم الله في تفسير معنى الحديث، واخطأوا في تأويله، ومن اجمع قول لهم في ذلك قول الحافظ ابن حجر[1]: &#8220;المراد بالحساب هنا حساب النجوم وتسييرها، ولم يكونوا يعرفون من ذلك الا النزر اليسير. فعلق الحكم بالصوم وغيره بالرؤية، لرفع الحرج عنهم في معاناة التسيير، واستمر الحكم في الصوم ولو حدث بعدهم من يعرف ذلك. بل ظاهر السياق ينفي تعليق الحكم بالحساب أصلاً. ويوضحه قوله في الحديث الماضي: فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين. ولم يقل فسلوا أهل الحساب. والحكمة فيه كون العدد عند الاغماء يستوي فيه المكلفون، فيرتفع الاختلاف والنزاع عنهم. وقد ذهب قوم الى الرجوع الى اهل التسيير في ذلك، وهم الروافض[2]، ونقل عن بعض الفقهاء موافقتهم. قال الباجي: واجماع السلف الصالح حجة عليهم. وقال ابن بزيزة: وهو مذهب باطل، فقد نهت الشرعية عن الخوض في علم النجوم، لأنها حدث وتخمين،ليس فيها قطع ولا ظن غالب، مع انه لو ارتبط الامر بها لضاق، اذ لا يعرفها إلا القليل&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. فتح الباري (ج 4 ص 107 – 109).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[2. لا ندري من ذا يريد الحافظ بالروافض؟ إن كان يريد الشيعة الإمامية فالذي نعرفه من مذهبهم أنه لا يجوز الأخذ بالحساب عندهم. وإن كان يريد ناسا آخرين فلا ندري من هم!]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">فهذا التفسير صواب، في أن العبرة بالرؤية لا بالحساب، والتأويل خطأ، في انه (لو حدث من يعرف ذلك استمر الحكم في الصوم)، لأن الأمر باعتماد الرؤية وحدها جاء معللاً بعلة منصوصة، وهو ان الأمة &#8221; أمية لا تكتب ولا تحسب&#8221;، والعلة تدور مع المعلول وجوداً وعدماً، فإذا خرجت الأمة عن اميتها، وصارت تكتب وتحسب، أني صارت في مجموعها ممن يعرف هذه العلوم، وأمكن الناس – عامتهم وخاصتهم – ان يصلوا الى اليقين والقطع في حساب أول الشهر، وامكن ان يثقوا بهذا الحساب ثقتهم بالرؤية أو أقوى، إذا صار هذا شأنهم في جماعتهم وزالت علة الأمية: وجب ان يرجعوا الى اليقين الثابت، وأن يأخذوا في اثبات الاهلة بالحساب وحده، وأن لا يرجعوا الى الرؤية إلا حين يستعصي عليهم العلم به، كما اذا كان ناس في بداية أو قرية، لا تصل اليهم الاخبار الصحيحة الثابتة عن أهل الحساب.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">واذا وجب الرجوع الى الحساب وحده بزوال علة منعه، وجب ايضاً الرجوع الى الحساب الحقيقي للأهلة، واطّراح امكان الرؤية وعدم امكانها، فيكون أول الشهر الحقيقي الليلة التي يغيب فيها الهلال بعد بعد غروب الشمس، ولو بلحظة واحدة.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">فهذه بلدنا – مصر – فيها مرصد من اعظم المراصد، وفيها علماء بالفلك والهيئة، من الازهريين وغيرهم، ممن يستطيعون ان يحسبوا حساب القمر حين يغيب بعد الشمس ولو بلحظة، في كل وقت وكل شهر، ويحكموا في ذلك الحكم القاطع الجازم، الموجب لليقين عند اهل العلم. فماذا علينا من بأس اذا رجعنا لقولهم وعلمهم، ووثقنا بحسابهم في ذلك، ثقتنا بحسابهم في مواقيت الصلاة وغيرها من العبادات؟ وثقتنا بأخبار التلغراف والتلفون والراديو في اثبات الهلال بالرؤية من أي بلد من بلدان مصر أو السودان أو غيرهما؟</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">لقد كان للاستاذ الأكبر الشيخ المراغي، منذ اكثر من عشر سنين، حين كان رئيس المحكمة العليا الشرعية &#8211; : رأي في رد شهادة الشهود، إذا كان الحساب يقطع بعدم امكان الرؤية، كالرأي الذي نقلته هنا عن تقي الدين السبكي، وأثار رأيه هذا جدالاً شديداً، وكان والدي وكنت انا وبعض اخواني ممن خالف الاستاذ الأكبر في رأيه. ولكني اصرح الآن بأنه كان على صواب، وازيد عليه وجوب اثبات الأهلة بالحساب، في كل الأحوال، الا لمن استعصى عليه العلم به.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وما كان قولي هذا بدعاً من الأقوال: ان يختلف الحكم باختلاف احوال المكلفين، فإن هذا في الشريعة كثير، يعرفه أهل العلم وغيرهم. ومن امثلة ذلك في مسألتنا هذه: ان الحديث &#8221; فإن غم عليكم فاقدروا له&#8221; ورد بالفاظ أخر، في بعضها &#8221; فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين&#8221;. ففسر العلماء الرواية المجملة &#8220;فاقدروا له&#8221; بالرواية المفسرة &#8220;فاكلموا العدة&#8221;، ولكن امام عظيماً من أئمة الشافعية، بل هو امامهم في وقته، وهو ابو العباس احمد بن عمر سريج[1]، جمع بين الروايتين في حالين مختلفين: أن قوله &#8221; فاقدروا له&#8221; معناه: قدروه بحسب المنازل، وانه خطاب لمن خصه الله بهذا العلم. وأن قوله &#8221; فأكملوا العدة&#8221;: خطاب للعامة[2].</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. (سريج) بالسين المهملة المضمومة وآخره جيم، ويكتب خطأ في كثير من الكتب المطبوعة (شريح) بالشين والحاء، وهو تصحيف. وأبو العباس هذا توفي سنة 306 وهو من تلاميذ أبي داود صاحب السنن. وقال في شأنه أبو إسحاق الشيرازي في طبقات الفقهاء(ص 89): "كان من عظماء الشافعيين وأئمة المسلمين، وكان يفضل على جميع أصحاب الشافعي، حتى على المزني." وله تراجم جيدة في تاريخ بغداد للخطيب (ج 4 ص 278 – 290) وابن خلكان (ج 1 ص 21) وطبقات الشافعية لابن السبكي (ج 2 ص 67 – 96).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[2. انظر شرح القاضي أبي بكر ابن العربي على الترمذي (ج 3 ص 207 – 208)، وطرح التثريب (ج 4 ص 111 – 113)، وفتح الباري (ج 4 ص104).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">فقولي هذا يكاد ينظر الى قول ابن سريج، الا انه جعله خاصاً بما اذا غم الشهر فلم يره الراؤون، وجعل حكم الاخذ بالحساب للاقلين، على ما كان في وقته من قلة عدد العارفين به، وعدم الثقة بقولهم وحسابهم، وبطء وصول الاخبار الى البلاد الأخرى، اذا ثبت الشهر في بعضها. واما قولي فإنه يقضي بعموم الاخذ بالحساب الدقيق الموثوق به، وعموم ذلك على الناس، بما يسر في هذه الأيام من سرعة وصول الاخبار وذيوعها. ويبقى الاعتماد على الرؤية للاقل النادر، ممن لا يصل اليه الاخبار، ولا يجد ما يثق به من معرفة الفلك ومنازل الشمس والقمر.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ولقد أرى ان قولي هذا اعدل الأقوال، واقربها الى الفقه السليم، والى الفهم الصحيح للأحاديث الواردة في هذا الباب.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">بقيت بعد ذلك مسألة دقيقة، تتفرع ايضاً على ما ذهبنا اليه، وقد اشرنا اليه في اول كلامنا، وهي مسألة اختلاف المطالع:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">فمن المعلوم ان المطالع تختلف باختلاف خطوط الطول وخطوط العرض، وكما يكون هذا في اعتبار الشهر بالرؤية يكون في اعتباره بالحساب. اما الفقهاء المتقدمون فقد اختلفوا في ذلك كما اوضحنا، بل الظاهر لنا من نقول بعض الناقلين ان اكثر الفقهاء لا يعتبرون اختلاف المطالع، كما نقل النووي عن ابن المنذر، مما يفهم منه انه قول الائمة الأربعة والليث بن سعد، وان اختلف اتباعهم فيه بعد ذلك. وكذلك قال القرافي في الفروق[1]: &#8221; ان المالكية جعلوا رؤية الهلال في بلد من البلاد سبباً لوجوب الصوم على جميع اقطار الارض، ووافقتهم الحنابلة&#8221;. ثم رجح القرافي ما يخالف مذهبه، وهو مالكي، فقال: &#8221; اذا تقرر الاتفاق على ان اوقات الصلوات تختلف باختلاف الآفاق، وان لكل قوم فجرهم وزوالهم وغير ذلك من الأوقات: فيلزم ذلك في الاهلة، بسبب ان البلاد المشرقية إذا كان الهلال فيها في الشعاع وبقيت الشمس تتحرك مع القمر إلى الجهة الغربية، فما تصل الشمس إلى افق المغرب الا وقد خرج الهلال من الشعاع، فيراه اهل المغرب، ولا يراه اهل المشرق. هذه احد أسباب اختلاف رؤية الهلال، وله أسباب اخرى مذكورة في علم الهيئة، لا يليق ذكرها هاهنا، انما ذكرت ما يقرب فهمه. وإذا كان الهلال يختلف باختلاف الافاق وجب ان يكون لكل قوم رؤيتهم في الاهلة، كما ان لكل قوم فجرهم وغير ذلك من أوقات الصلوات، وهذا حق ظاهر، وصواب متعين. اما وجوب الصوم على جميع الأقاليم برؤية الهلال في قطر منها فبعيد عن القواعد، والأدلة لم تقتض ذلك.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. (ج 2 ص 203 – 204 من طبعة تونس) و (ورقة 132 من نسختنا المخطوطة).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وقد سبقه إلى ذلك الحافظ أبو عمر بن عبدالبر، بل ادعى الاجماع على ذلك فيما إذا تباعدت البلاد جداً. والعلامة الشوكاني نقل اختلاف العلماء واقاويلهم في المسألة[1]، ثم قال: (والذي ينبغي اعتماده هو ما ذهب إليه المالكية وجماعة من الزيدية، واختاره المهدي منهم، وحكاه القرطبي عن شيوخه: انه اذا رآه اهل بلد لزم اهل البلاد كلها، ولا يلتفت إلى ما قاله ابن عبدالبر من ان هذا القول خلاف الاجماع، قال: لأنهم قد اجمعوا على انه لا تراعى الرؤية فيما بعد من البلدان، كخراسان والاندلس[2]، وذلك لان الاجماع لا يتم والمخالف مثل هؤلاء الجماعة.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. نيل الأوطار (ج 4 ص 267 – 269).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[2. انظر تفسير القرطبي (ج 2  ص 275) وفتح الباري (ج 4 ص 105).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">والبدهي الذي لا يحتاج إلى دليل: ان اوائل الشهور لا تختلف باختلاف الأقطار أو تباعدها، وان اختلفت مطالع القمر، فإذا غاب القمر بعد مغيب الشمس فقد دخل الشهر وبدأ، واما تعليق وجوب العبادات على الرؤية فقد اظهرنا وجه تعليله بعلة منصوصة في السنة الصحيحة، فهو يدور معها وجودا وعدماً.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">فالذين ذهبوا من العلماء إلى ان اختلاف المطالع معتبر، وان لكل بلد رؤيتهم فانما كانوا منطقيين جداً مع الحكم بالرؤية، لان هذا هو المستطاع إذ ذاك، ولان اعتبار اختلاف المطالع ليس مرجعه إلى اعتبارها في اوائل الشهور، حتى يكون لكل بلد شهرهم، كما لكل بلد رؤيتهم، وإنما هو -فيما نفهم- باعتبار تعلق خطاب التكليف بالمكلفين، فمن وصل إليه العلم بما كلف به، بالطريق الذي جعله الشارع سبباً للعلم، وهو الرؤية في امة امية تعلق به الخطاب، وصار مطلوباً منه العمل المؤقت بوقته.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">والذين اهدروا اختلاف المطالع، وحكموا بسريان الرؤية في بلد على جميع أقطار الأرض كانوا ناظرين إلى الحقيقة المجردة، ان أول الشهر يجب ان يكون في هذه الكرة الأرضية يوماً واحداً، وهو الحق الذي لا مرية فيه.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ثم ان هذا التفصيل لا يعقل مع الاخذ بالحساب، كما اخترنا ورجحنا، لان اليوم الأول من كل شهر هلالي يوم واحد في جميع أقطار الأرض، لا يختلف باختلاف المناطق، ولا يبعد الأقاليم بعضها عن بعض.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ولكن الامر الدقيق عندي: هل يجب اعتبار أول الشهر باية نقطة في الأرض غاب فيها القمر بعد الشمس؟ أو يجب ان يكون لذلك نقطة معينة يرجع اليها العالم كله في هذا النظر والاعتبار؟</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">الذي أراه وارجحه انه يجب الرجوع إلى نقطة واحدة معينة في ذلك، أشير اليها في أصلي الشريعة: الكتاب والسنة، وهي مكة.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">انظر إلى قوله تعالى: (يَسْأَلونَكَ عَنِ الأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ)، فالذي أراه ان تخصيص الحج بالذكر في هذا المقام بعد العموم، انما هو اشارة دقيقة إلى اعتبار أصل التوقيت الزماني متصلا بمكان واحد، مكان الحج، وهو مكة.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">واما السنة: فقد روى الترمذي في سننه[1] من طريق اسحق بن جعفر بن محمد بن الحسين -وهو زوج السيدة نفيسة بنت الحسن بن زيد بن الحسن- عن عبدالله بن جعفر المخرمي الزهري عن عثمان بن محمد الاخنسي عن المقبري عن ابي هريرة ان النبي صلى الله عليه وسلم قال: (الصوم يوم تصومون، والفطر يوم تفطرون، والاضحى يوم تضحون). قال الترمذي: (هذا حديث غريب حسن). ونقول: بل هو حديث صحيح، فقد صحح الترمذي حديثاً من رواية المعلي بن منصور عن عبدالله بن جعفر، بهذا الاسناد[2]. ثم ان اسحق بن جعفر لم ينفرد به، فقد رواه أيضاً أبو سعيد مولى بني هاشم، ومحمد بن عمر الواقدي، كلاهما عن عبدالله بن جعفر المخرمي بهذا الاسناد[3]. ثم ان عبدالله بن جعفر المخرمي لم ينفرد به أيضاً، فقد رواه الواقدي عن داود بن خالد وثابت بن قيس ومحمد بن مسلم، ثلاثتهم عن المقبري عن ابي هريرة[4]. ولذلك رجح القاضي أبو بكر بن العربي في شرحه على الترمذي انه حديث صحيح.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. سنن الترمذي بشرح تحفة الأحوذي (ج2 ص 37) وبشرح ابن العربي (ج 3 ص 216).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[2. تحفة الأحوذي (ج 1 ص 279) وشرح ابن العربي (ج 2 ص 141 - 142).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[3. روابة أبي سعيد في السنن الكبرى للبيهقي (ج 4 ص 252) ورواية الواقدي في سنن الدارقطني (ص 231)، والواقدي عندنا ثقة خلافا لمن ضعفه.]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[4. هذه الرواية أيضا في سنن الدارقطني]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ورواه أبو داود في سننه[1] من طريق حماد بن زيد عن أيوب عن محمد بن المنكدر عن ابي هريرة مرفوعاً: (فطركم يوم تفطرون، واضحاكم يوم تضحون، وكل عرفة موقف، وكل منى منحر، وكل فجاج مكة منحر، وكل جمع موقف).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. سنن أبي داود بشرح عون المعبود (ج 2  ص 169).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وكذلك رواه الدارقطني من هذا الطريق ومن طريق روح بن القاسم عن ابن المنكر، ورواه البيهقي في السنن الكبرى [ج 4 ص 251 - 252] من طريق عبدالوارث وروح بن القاسم عن ابن المنكدر، ورواه أيضاً من طريق حماد بن زيد كرواية ابي داود[1].</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. السنن الكبرى (ج 1 ص 175).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ورواه الدارقطني والبيهقي من طريق إسماعيل بن علية وعبدالوهاب الثقفي عن أيوب عن محمد بن المنكر عن ابي هريرة موقوفاً[1] قال: (انما الشهر تسع وعشرون فلا تصوموا حتى تروه، ولا تفطروا حتى تروه، فإن غم عليكم فأكملوا العدة ثلاثين. فطركم يوم تفطرون، وأضحاكم يوم تضحون، وكل عرفة موقف، وكل منى منحر، وكل فجاج مكة منحر).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. يعني من كلام أبي هريرة. وانظر السنن الكبرى (ج 4 ص251 – 252).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ورواه ابن ماجه في سننه [ج 1 ص 262] من طريق حماد بن زيد عن أيوب عن محمد بن سيرين عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (الفطر يوم تفطرون، والأضحى يوم تضحون).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">فهذه أسانيد كلهما صحاح، يشد بعضها بعضاً، ويؤيد بعضها بعضاً، وهي ترد على الترمذي استغرابه للحديث، فقد ورد من طرق صحيحة متعددة.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ولكن ما معنى هذا الحديث؟</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">أما المتقدمون من العلماء فقد ذهبوا في تفسيره إلى معنى قد يكون هو المعنى الظاهر من اللفظ، فقال الترمذي في السنن: (وفسر بعض أهل العلم هذا الحديث فقال: إنما معنى هذا: الصوم والفطر مع الجماعة وعظم الناس[1]) وقال الخطابي[2]: (معنى الحديث: أن الخطأ موضوع الناس فيما كان سبيله الاجتهاد، فلو أن قوماً اجتهدوا فلم يروا الهلال إلا بعد الثلاثين فلم يفطروا حتى استوفوا العدد، ثم ثبت عندهم ان الشهر كان تسعاً وعشرين، فإن صومهم وفطرهم ماض، فلا شيء عليهم من وزر أو عتب).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. (عظْم الناس) بضم العين أو فتحها مع سكون الظاء، أي معظهم.]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[2. معالم السنن (ج 2 ص 95 – 96).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وقال تقي الدين السبكي في فتاويه [ج 1 ص 225]: (المراد منه: إذا اتفقوا على ذلك، فالمسلمون لا يتفقون على ضلالة، والإجماع حجة).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وقد يكون لتفسيرهم هذا تأييد بما رواه الترمذي من حديث معمر بن محمد بن المنكدر عن عائشة[1] عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (الفطر يوم يفطر الناس، والأضحى يوم يضحى الناس) قال الترمذي: (هذا حديث حسن غريب صحيح من هذا الوجه).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. تحفة الأحوذي (ج 1 ص 71) وشرح ابن العربي (ج 4 ص 41) وروى البيهقي معناه من كلام عائشة بإسناد آجر (ج 4 ص353).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ولكنا نعرف أن كثيرا من الرواة يختصرون الأحاديث، ويروون بعضها بالمعنى، ولذلك كان حفاظ الحديث ونقاده يجمعون الروايات الممتدة، وكثيراً ما يكون الحديث المفسر المطول مبيناً لمعنى الحديث المختصر، فنجد حديث عائشة هذا رواه البيهقي [سنن الكبرى (ج 5  ص 175] من طريق سفيان الثورى عن محمد بن المنكدر عن عائشة قالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (عرفة يوم يُعَرِّف الإمام[1]، والأضحى يوم يضحي الإمام، والفطر يوم يفطر الإمام) وإسناده صحيح. فهذه الرواية المفسرة تعني أن المراد بـ (الناس) الإمام، وهو الذي يكون معه عظم الناس.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">[1. التعريف: الوقوف بعرفات، عرف القوم: وقفوا بعرفة.]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ثم إننا نجد في مجموع الروايات التي نقلنا، من حديث أبي هريرة وعائشة: شيئاً مشتركاً بين كثير من ألفاظها، يحتاج إلى نظر وتأمل، وهو ذكر (عرفة) يوماً أو مكاناً، وذكر مكة ومنى ومزدلفة: (كل عرفة موقف) (عرفة يوم يعرف الإمام) وفي رواية مرسلة من طريق الشافعي عند البيهقي (وعرفة يوم تعرفون) (وكل منى منحر، وكل فجاج مكة منحر، وكل جمع موقف).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">فذكر أماكن الحج وزمانه في كثير من روايات الحديث، بل في أكثرها، يرجح عندي أن هذا الحديث إنما كان في حجة الوداع، حين كان النبي صلى الله عليه وسلم يعلم الناس شعائر الحج، ويخطبهم في عرفة وفي منى وفي غيرهما، فلم يحفظ عنه أنه علم الناس شعائر الحج في غير حجة الوداع، ويؤيد ذلك أن جابر بن عبدالله وصف حجة الوداع في حديث طويل معروف عند المحدثين، وفيه ما يشبه بعض حديث أبي هريرة، فيذكر جابر أن النبي صلى الله عليه وسلم نحر الهدى وأكل منه ثم قال: قد نحرت هاهنا، ومنى كلها منحر، ووقف بعرفة فقال: وقفت هاهنا وعرفة كلها موقف، ووقف بالمزدلفة فقال: قد وقفت هاهنا، والمزدلفة كلها موقف. [انظر مسند الإمام أحمد (ج 3 ص 320 – 321) وصحيح مسلم (ج 1 ص 346 – 347) وعون المعبود (ج 2 ص 122 – 131) والبداية والنهاية لابن كثير (ج 5 ص 147 و 149).]</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">فيكون حديث أبي هريرة المرفوع (فطركم يوم تفطرون) الخ خطاباً لأهل الحج في مكان الحج، لما ذكر معه من شأن عرفة ومكة والمزدلفة، ويكون حديث الآخر المرفوع أيضاً (الصوم يوم تصومون) الخ من هذا الحديث نفسه، ويكون أيضاً خطاباً لأهل الحج في مكان الحج، وكذلك سائر الروايات، من حديث عائشة وغيرها، إنما تحمل على هذا المعنى: أنها كلها روايات عن حجة الوداع، وأن من روى بلفظ (يوم يفطر الناس) أو (يوم يفطر الإمام) إنما روى بالمعنى، وأن أصل الحديث خطاب لمن كان في أماكن الحج.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وبذلك نفهم من معنى هذه الأحاديث أن الصوم يوم يصوم أهل مكة وما حولها، وأن الفطر يوم يفطرون، وأن الأضحى يوم يضحون، وأن عرفة يوم يعرفون، فهذه الأماكن هي المعتمدة في إثبات الأهلة، وهي التي يكون على المسلمين في أقطار الأرض أن يتبعوا مطالع الأهلة فيها، ويكون في هذا إشارة دقيقة إلى وجه الحكمة والمعنى في تخصيص ذكر الحج بعد عموم المواقيت، في قوله تعالى: (هي مواقيت للناس والحج).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">فلو ذهبنا إلى ما رأيته وفهمته، توحدت كلمة المسلمين في إثبات الشهور القمرية، وكانت مكة، وهي منبع الإسلام ومهبط الوحي، وهي ملتقى المسلمين في كل عام كأنهم على ميعاد، يتعارفون فيها ويتوادون، وفيها بيت الله الذي نحوه يتوجهون في صلاتهم، كانت مكة هذه مركز الدائرة لهم في تحديد مواقيتهم.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وبعد: فهذا بحث لم أكتبه إلا بعد روية وفكر، وتدبر ونظر، على طريقة سلفنا الصالح من العلماء، في الأخذ بالكتاب والسنة، ونبذ التقليد والعصبية، لعلي أصبت فيه وجه الصواب، بعون الله وتوفيقه، أعرضه لأنظار العلماء والباحثين، متقبلاً النقد والتأييد بالشكر والثناء، لتتمحص الحقيقة ويكشف عن وجه الصواب، ولا أطلب إلا أن يكون أساس البحث الكتاب والسنة، والاستنباط منهما، والفقه فيهما.أما إلقاء القول على عواهنه بأقوال جوفاء، مبنية على الرأي والهوى، كما يفعل من يسمون أنفسهم (المجددين)، فإنه يخرج بالبحث عن حده العلمي الدقيق، ولا يحق حقاً، ولا يبطل باطلاً.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وأما الاستمساك بأقوال الفقهاء التي يسميها بعضهم (نصوصاً) ويزعمونها حجة علينا وعلى الناس، فإنها أو أكثرها في متناول أيدينا وتحت أنظارنا، فلا نجادل من يحتج بها.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">نعم، لا أستطيع ان امنع من شاء أن يقول ما شاء، ولكن أستطيع أن أمنع قلمي أن يخوض مع الخائضين.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">واسأل الله العصمة والتوفيق.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وكتب</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">أحمد محمد شاكر</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">القاضي الشرعي</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">24 ذو الحجة سنة 1357</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">13 فبراير سنة 1939</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2012/07/terjemah-awa-il-al-syuhur-al-arabiyyah-karya-syekh-ahmad-syakir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Metode Hisab dalam Penetapan Bulan Hijriah – Sebuah Pengantar Risalah&#8230;</title>
		<link>http://adniku.com/2012/07/tarjih-argumentasi-penggunaan-metode-hisab-dalam-penetapan-awal-bulan-hijriah/</link>
		<comments>http://adniku.com/2012/07/tarjih-argumentasi-penggunaan-metode-hisab-dalam-penetapan-awal-bulan-hijriah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jul 2012 09:57:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[10 Author's Choice]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Isu-isu Kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[hisab]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=793</guid>
		<description><![CDATA[Bismillāh, wash-shalātu was-salāmu `alā rasūlillāh, wa `alā ālihi wa shahbihi wa man tabi`ahum bi ihsān ilā yawmil qiyāmah, amma ba`d: Pada tahun ini, 1433 Hijriah atau 2012 Masehi, potensi perbedaan... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2012/07/tarjih-argumentasi-penggunaan-metode-hisab-dalam-penetapan-awal-bulan-hijriah/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2012/07/hilal_resize.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-794" title="rukyat_hisab_hilal" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2012/07/hilal_resize.jpg" alt="" width="250" height="231" /></a>Bismillāh, wash-shalātu was-salāmu `alā rasūlillāh, wa `alā ālihi wa sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>bihi wa man tabi`ahum bi ihsān ilā yawmil qiyāmah, amma ba`d</em>:</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun ini, 1433 Hijriah atau 2012 Masehi, potensi perbedaan penetapan awal Ramadhan dan `Idul Fithri kembali terjadi. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menetapkan bahwa awal Ramadhan jatuh hari Jumat, 20 Juli 2012, berdasarkan hisab hakiki wujud hilal. Sedangkan pemerintah baru akan menetapkannya melalui sidang <em>itsbāt</em> yang akan digelar pada Kamis malam, tanggal 19 Juli 2012.</p>
<p style="text-align: justify;">Termasuk hal yang sangat disesalkan sekiranya kaum Muslim di satu negeri tidak dapat melaksanakan awal puasa dan hari raya secara bersama-sama. <strong>Idealnya, kebersamaan itu terwujud bagi seluruh kaum Muslim di seluruh penjuru bumi dalam naungan satu kekhilafahan Islam. Namun, sekiranya kondisi ideal ini belum terwujudkan, minimal kebersamaan tersebut terealisasi untuk satu negeri Muslim.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kebersamaan dimaksud tidak dapat terwujudkan kecuali apabila para individu dan organisasi masyarakat Muslim mau merendahkan ego mereka dan berlapang dada untuk mengikuti keputusan pemerintahan Muslim dalam hal ini. Selama masih dalam ranah <em>ijtihād</em> yang diperkenankan, pendapat pribadi atau kelompok seharusnya dikalahkan dengan keputusan pemerintah Muslim. Hal ini sebagaimana kaidah fiqh yang menyatakan:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">حُكْمُ الْحَاكِم إِلْزَامٌ وَيَرْفَعُ الْخِلاَف</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Keputusan hakim (pemerintah Muslim) bersifat mengikat dan menyelesaikan perselisihan pendapat</em>.” [Lihat misalnya <em>al-Asybāh wa al-Nazhā-ir</em>, karya al-Suyūthi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, hlm. 755, dan berbagai literatur lainnya.]</p>
<p style="text-align: justify;">Kali ini saya tidak membahas tentang keharusan mengikuti pemerintah Muslim dalam penentuan awal Ramadhan dan hari raya. Artikel yang membahas hal tersebut secara detail sudah cukup banyak jumlahnya dan dapat dengan mudah ditemukan di dunia maya, <em>al<span style="text-decoration: underline;">h</span>amdulillāh</em>. Di sini saya justru akan mengangkat pendapat individual tentang bagaimana seharusnya penentuan awal bulan Hijriah dilaksanakan, termasuk untuk bulan Ramadhān. Tentu saja pendapat individual ini sama sekali bukan untuk menafikan atau keluar dari keputusan pemerintah Muslim. <strong>Saya pribadi pun akan melaksanakan puasa dan hari raya dengan mengikuti keputusan otoritas pemerintah Muslim, sekalipun mungkin keputusan pemerintah itu tidak sejalan dengan fiqh yang saya anut.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Terkait penetapan awal bulan Hijriah dengan metode hisab, beberapa waktu lalu terdapat diskusi cukup hangat antara saya dan beberapa teman di Facebook mengenai masalah ini, khususnya untuk penetapan awal Ramadhan. Sejumlah teman berpandangan bahwa penetapan awal bulan Ramadhan harus menggunakan metode rukyat, sebagaimana pendapat <em>mainstream</em> (kalau boleh disebut demikian), sementara saya cenderung kepada pendapat yang menguatkan penggunaan metode hisab pada zaman modern ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dahulu, saya juga mengikuti <em>mainstream</em>. Namun, seiring dengan penambahan pengetahuan dan referensi, pendapat saya pun berubah. Salah satu referensi yang mengubah pendirian saya adalah risalah ilmiah yang ditulis oleh Syaykh A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad Syākir <em>ra<span style="text-decoration: underline;">h</span>imahullāh</em>, seorang pakar hadits Mesir pada masanya, yang berjudul <strong><em>Awā-il al-Syuhūr al-`Arabiyyah, Hal Yajūzu Syar`an Itsbātuhā bi al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>isāb al-Falaki<span style="text-decoration: underline;">y</span>?</em></strong> [Permulaan Bulan-bulan Arab, Apakah dapat Ditetapkan dengan Hisab Falak?] Risalah ini ditulis pada bulan Dzul <span style="text-decoration: underline;">H</span>ijjah tahun 1357 H atau bulan Februari 1939, atau <strong>lebih dari 70 tahun lalu!</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hasil <em>scan</em> risalah tersebut, dengan versi cetakan ke-2 Maktabah Ibn Taymiyyah, tahun 1407 H, dapat diunduh antara lain di alamat: <a href="http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=91477">http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=91477</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Risalah tersebut telah saya alihbahasakan, dan <em>in syā-allāh</em> akan dimuat di blog saya setelah tulisan ini. Bahkan, <strong>maksud utama dari tulisan ini hanyalah sebagai pengantar dari risalah ilmiah tersebut</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Mirip kejadian yang saya alami, Syaykh A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad Syākir pada mulanya menentang penggunaan metode hisab untuk penentuan awal bulan Ramadhan dan semisalnya. Namun, beliau kemudian justru berada di garda depan kalangan yang berpendapat tentang keharusan penggunaan metode hisab di zaman modern ini. Beliau mempersenjatai pendapatnya dengan berbagai argumentasi ilmiah dan logis, dengan tetap menjadikan Quran dan Sunnah sebagai sandaran. <strong>Jika lebih dari 70 tahun lalu beliau sudah menegaskan demikian, maka dapat dibayangkan jika beliau hidup di era sekarang yang jauh modern. </strong>Demikianlah dinamika keilmuan, ia tidak mengenal kebekuan. <em>Al-&#8217;ilm la yaqbal al-jumūd</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum pembaca menikmati tulisan Syaykh A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad Syākir tersebut, mari kita bernostalgia ke masa lampau dan merenungkan beberapa hal.</p>
<p style="text-align: justify;">Bayangkan jika Anda hidup dalam masyarakat Arab daerah gurun pasir pada abad ke-6 dan 7 Masehi. Kondisi sains yang berkaitan dengan astronomi pada zaman itu yang tentu saja masih sederhana dan terbatas. Adapun kondisi masyarakat, maka jangankan mengetahui sains secara mumpuni, mayoritas bangsa Arab masa itu bahkan buta huruf dan tidak dapat berhitung. Sains merupakan sesuatu yang asing bagi mereka. Ucapan para ilmuan yang memang langka jumlahnya tentu menjadi hal yang aneh dan sulit dipercaya oleh masyarakat, selain kondisi sains yang memang sangat terbatas pada masa tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika demikian kondisinya, maka penentuan awal bulan berdasarkan pengamatan langsung (baca: rukyat) merupakan suatu yang niscaya, praktis dan maslahat pada masa itu. Penerapan metode hisab dalam kondisi demikian tentu bukan merupakan pilihan yang tepat, dan bahkan menyulitkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi r bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إِنَّا أُمَّة أُمِّيَّة، لاَ نْكُتْب وَلاَ نَحْسبُ، الشَّهْرُ هكَذَا وَهكَذَا</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Kami adalah umat yang ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, tidak dapat membaca dan berhitung (melakukan hisab). Bulan itu begini dan begini</em>.” Maksud beliau, terkadang satu bulan terdiri dari dua puluh sembilan hari atau tiga puluh hari. [HR al-Bukhāri<span style="text-decoration: underline;">y</span> II/675/1184, Muslim II/759/1080, dan lain-lain.]</p>
<p style="text-align: justify;">Zahir hadits tersebut jelas, bahwa <strong>Nabi </strong>r<strong> sangat memperhatikan kondisi masyarakat pada zamannya.</strong> Beliau adalah Nabi yang <em>ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, yang berada di tengah kaum yang <em>ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em> pula. Karena itulah diterapkanlah metode rukyat yang sejalan dengan kondisi masyarakat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Redaksi hadits: “<em>Kami adalah ummat yang ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>…” merupakan <em>`illat</em> bagi penetapan awal bulan dengan metode rukyat, atau dengan penyempurnaan bilangan bulan ketika rukyat terhalang untuk dilakukan.</strong> Telah umum diketahui dalam kaidah Ushūl Fiqh bahwa penetapan hukum berlangsung seiring dengan eksistensi <em>`illat</em>-nya. <strong>Jika <em>`illat</em>-nya hilang, maka hukum tersebut menjadi tidak berlaku</strong>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الْحُكْمُ إِذَا ثَبَتَ بِعِلَّةٍ زَالَ بِزَوَالِهَا</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Jika suatu hukum tertetapkan dengan `illat tertentu maka hukum itu menjadi tidak berlaku jika `illat-nya hilang</em>. [Lihat <em>al-Wajīz fī Īdlāh Qawā`id al-Fiqh al-Kulliyyah</em>, karya Dr. Muhammad Shidqī ibn Ahmad ibn Muhammad al-Būrnū, cet. V Mu-assasah al-Risālah, Beirut, 1419 H/1998 M, hlm. 80 – 81. Lihat pembahasan yang cukup detail tentang <em>`illat</em> dalam <em>Ushūl al-Fiqh al-Islāmi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, Prof. Dr. Wa<span style="text-decoration: underline;">h</span>bah al-Zu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ayli<span style="text-decoration: underline;">y</span>, cet. I Dār al-Fikr, Beirut, 1406 H/1986 M, vol. I, hlm. 652 – 695, dan berbagai literatur <em>ushūl fiqh</em> lainnya.]</p>
<p style="text-align: justify;">Hal ini sejalan pula dengan kaidah fiqh:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الْعِبرَةُ لِلْغَالِبِ الشَّائِعِ لاَ لِلنَّادِرِ</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Yang menjadi acuan adalah kondisi mayoritas yang tersebar, dan bukan kondisi yang langka.” </em>[Lihat misalnya <em>al-Qawā`id al-Fiqhiyyah</em>, karya Dr. `Abdul `Azīz Muhammad `Azzām, cet. Dār al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>adīts, Kairo, 1426 H/2005 M, hlm. 189 – 190, dan berbagai literatur lainnya.]</p>
<p style="text-align: justify;">Apa korelasi kaidah fiqh di atas dalam permasalahan ini? Kita tahu mayoritas masyarakat di zaman Nabi r adalah kaum <em>ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em> (buta tulis dan hitung). Karena itu, yang menjadi acuan dalam penetapan hukum adalah kaum <em>ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em> tersebut. Bagaimana dengan kondisi mayoritas masyarakat Muslim sekarang, apakah sama dengan dahulu? Tentu jawabannya tidak. Mayoritas kaum Muslim zaman ini merupakan bagian dari masyarakat sains dan teknologi. <em>Nah</em>, jika dahulu metode rukyat dipilih karena mengacu pada kondisi kaum <em>ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span>,</em>maka hisab adalah keniscayaan bagi masyarakat sains dan teknologi pada era modern.</p>
<p style="text-align: justify;">Hadits di atas juga seolah-olah memberikan isyarat yang halus bagi generasi sekarang bahwa mereka tidak harus mengikuti praktek generasi pendahulu. Hadits itu seolah mengisyaratkan pernyataan berikut: &#8220;Metode rukyat dan penyempurnaan bulan itu berlaku bagi kami, kaum yang didominasi oleh orang-orang yang <em>ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>. Pada dasarnya, kebanyakan kami memang tidak dapat menulis dan berhitung (melakukan hisab). Karena itu, jika di masa mendatang nanti muncul generasi baru yang bukan<em> ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, bahkan mereka mampu memperhitungkan posisi bulan secara pasti dan akurat (<em>qath`i</em><span style="text-decoration: underline;">y</span>), maka mereka dipersilakan meninggalkan metode rukyat dan beralih kepada hisab.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Coba kita bayangkan seandainya Nabi </strong>r<strong> hidup di era sains dan teknologi sekarang. </strong>Saat manusia mampu memprediksi posisi bulan hanya dengan perhitungan semata secara akurat dan pasti (<em>qath`i<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>). Tidak meleset sedikit pun. Bayangkan sekiranya beliau berada di tengah-tengah kondisi kita, apakah metode rukyat sebagaimana zaman dahulu tetap diberlakukan? Saya pribadi tidak meyakini kemungkinan tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenyataannya, <strong>saat ini kita menggunakan hisab dalam pelaksanaan ibadah sehari-hari. Kita menggunakan hisab dalam penentuan waktu shalat, dan kita memercayainya seratus persen</strong>. Dan, memang hal itu sama sekali tidak salah. Jika dahulu, posisi matahari untuk penentuan waktu shalat diamati dengan mata telanjang atau rukyat, maka sekarang kita cukup melihat jam sebagai alat konversi dan memperhatikan jadwal shalat yang telah diperhitungkan jauh-jauh hari sebelumnya secara tepat (baca: hisab). <strong>Jika kita dapat menggunakan hisab untuk penentuan waktu shalat, maka demikian pula seharusnya untuk penentuan awal bulan. Tidak ada bedanya. </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalangan yang tidak sependapat mungkin akan bersikeras mengatakan bahwa hisab tidak dapat digunakan karena bertentangan dengan praktek Nabi r dan dalil-dalil tekstual yang memerintahkan rukyat. Kami telah menjawabnya, bahwa kondisi yang melatarbelakangi praktek rukyat di zaman Nabi r jauh berbeda dengan kondisi zaman kita. Di sisi lain, dalil-dalil tekstual dalam hal ini memiliki <em>`illat</em>, yaitu bahwa Nabi r berada pada kaum yang <em>ummi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, dan <em>`illat</em> tersebut menjadi tidak berlaku untuk zaman ini.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>P</strong><strong>ada kenyataannya, perbedaan pendapat yang terjadi dalam penentuan awal bulan bukan disebabkan oleh perbedaan terhadap validitas hasil hisab atas realitas posisi bulan.</strong> Perbedaan pendapat yang ada justru tentang apakah hisab dapat menjadi sarana yang dibenarkan oleh syariah untuk menghukumi realitas tersebut. Faktanya, <strong>perbedaan pendapat bukan terjadi di kalangan para astronom atau ahli sains, atau atas realitas ilmiah. Perbedaan justru terjadi di kalangan yang menisbatkan dirinya kepada syariah! </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Saya kira kita semua sepakat bahwa baik hisab maupun rukyat hanyalah merupakan sarana (<em>wasā-il</em>), dan bukan tujuan. </strong>Adapun tujuannya, adalah untuk menentukan bahwa awal bulan baru telah terealisasi secara meyakinkan dan pasti. Karena itulah, pada zaman dahulu, dalam kondisi mendung yang meragukan, hadits-hadits memerintahkan untuk menyempurnakan bulan sebelumnya menjadi 30 hari. Hal ini sesuai dengan kaidah fiqh:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الْيَقِيْنُ لاَ يَزُوْلُ بِالشَّكِّ</span></p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Suatu yang yakin tidak dapat hilang/digantikan dengan suatu yang meragukan</em>.&#8221; [Lihat misalnya <em>al-Qawā`id al-Fiqhiyyah</em>, karya Dr. `Abdul `Azīz Muhammad `Azzām, cet. Dār al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>adīts, Kairo, 1426 H/2005 M, hlm. 95 – 100, dan berbagai literatur lainnya.]</p>
<p style="text-align: justify;">Kaidah fiqh juga menyatakan:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إِذَا تَعَارَضَتْ الْمَقَاصِدُ وَالْوَسَائِلُ تَعَيَّنَ تَقْدِيْمُ الْمَقَاصِدِ عَلَى الْوَسَائِلِ</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Jika terjadi kontradiksi antara sarana dan tujuan, maka dipastikan tujuan lebih dikedepankan dibandingkan sarana.” </em>[Lihat misalnya <em>al-Wajīz fī Īdlāh Qawā`id al-Fiqh al-Kulliyyah</em>, karya Dr. Muhammad Shidqī ibn Ahmad ibn Muhammad al-Būrnū, cet. V Mu-assasah al-Risālah, Beirut, 1419 H/1998 M, hlm. 80 – 81 dan literatur lainnya.]</p>
<p style="text-align: justify;"><strong style="text-align: justify;">Dengan demikian, jika metode hisab (sarana) pada saat ini telah memberikan derajat keyakinan dan <strong>kepastian (<em>qath`i<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>)</strong> terhadap penentuan awal bulan (tujuan), bahkan ia juga mendatangkan kemudahan dan kemaslahatan, maka berdasarkan kaidah fiqh tersebut, ia memiliki implikasi hukum yang valid. </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kalangan yang tidak sependapat sekali lagi akan menyatakan keberatannya dengan menggunakan alasan sebelumnya, bahwa meskipun hisab adalah sarana dan bukan tujuan, namun mereka bersikeras bahwa hisab adalah sarana yang dinafikan oleh Nabi r. Jawaban kami masih sama, bahwa penafian tersebut memiliki <em>`illat</em> dan latar belakang kondisi yang berbeda.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sekiranya kita bisa mengompromikan serta mengharmonisasikan antara dalil dan realitas (juga sains), bukankah itu yang lebih utama untuk ditempuh?</strong> <em>Toh</em> semuanya berasal sumber yang satu: Dzat yang Maha Esa, Allah <em>`Azza wa Jalla</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kita bersikeras agar metode rukyat diterapkan pada zaman ini, saya khawatir orang-orang yang tidak suka dengan Islam akan mendapat amunisi untuk melakukan propaganda negatif dan stigmatisasi terhadap Islam. Bisa jadi mereka akan menyatakan bahwa Islam merupakan agama yang teralienasi dari sains, ilmu pengetahuan dan teknologi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami sebagai fitnah </em><em>(sasaran) </em><em>bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana</em>.” [QS al-Mumta<span style="text-decoration: underline;">h</span>anah/60: 5.]</p>
<p style="text-align: justify;">Baik, sebelum pembaca menikmati sendiri tulisan Syaykh A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad Syākir <em>ra<span style="text-decoration: underline;">h</span>imahullāh,</em> untuk mempermudah pembaca ada baiknya saya sampaikan enam poin kesimpulan dari risalah beliau, yang <strong>saya pada umumnya setuju dengan pendapat-pendapat beliau tersebut</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>: Penggunaan metode hisab dalam penentuan awal bulan Hijriah pada masa sekarang merupakan suatu keniscayaan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>: Metode rukyat masih berlaku bagi komunitas orang yang tidak sampai kepadanya informasi tentang penetapan awal bulan berdasarkan hisab, sementara di kalangan tersebut tidak terdapat individu yang kompeten untuk melakukan hisab. Misalnya kaum Muslim yang hidup di pedalaman atau pegunungan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>: Metode hisab yang diberlakukan adalah hisab hakiki terhadap wujud hilal (sebagaimana halnya yang digunakan oleh organisasi Muhammadiyah di Indonesia).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Keempat</em>: Lokasi acuan untuk penentuan awal bulan dengan metode hisab adalah kawasan Mekah, sebagaimana halnya Ka`bah menjadi kiblat bagi kaum Muslim. (Beliau memaparkan argumentasi yang sangat menarik untuk menjelaskan hal ini, dengan merujuk pada teks Quran dan Sunnah.)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kelima</em>: Penetapan awal bulan dimaksud berlaku untuk seluruh negeri Muslim.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Keenam</em>: Kriteria <em>imkān al-ru`yah</em> (kriteria visibilitas rukyat; sebagaimana yang saat ini banyak didengungkan) adalah kriteria yang tidak perlu dianggap dalam metode hisab. Sebab, bulan baru terealisasi dengan semata wujud hilal, dengan tanpa memperdulikan kemungkinan apakah hilal itu terlihat atau tidak. (Menurut saya, penambahan kriteria <em>imkān al-ru`yah</em>, sebagai bentuk penggabungan metode rukyat dan hisab, justru merupakan paradoks. Kriteria <em>imkān al-ru`yah</em> juga berkorelasi erat dengan pendapat yang menyatakan bahwa metode hisab dapat digunakan hanya untuk penafian, dan bukan untuk penetapan, sebagaimana dianut oleh sejumlah ulama kontemporer. Ini juga paradoks. <em>Wallāhu a`lam</em>.)</p>
<p style="text-align: justify;">Argumentasi dan paparan beliau untuk poin-poin di atas dapat dilihat langsung pada risalah beliau.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Sekiranya saja pendapat Syaykh A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad Syākir <em>ra<span style="text-decoration: underline;">h</span>imahullāh</em> dalam masalah ini dapat diterima oleh umat Islam, niscaya setiap Muslim di seluruh penjuru bumi akan bersatu padu dalam penetapan waktu Ramadhan, hari raya, dan lain sebagainya. </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Demikian, saya juga berharap sekiranya saja ada penerbit buku-buku Islam yang bersedia menerjemahkan dan menerbitkan risalah ilmiah karya beliau untuk dapat dinikmati oleh khalayak ramai dan menjadi kekayaan khazanah literatur Islam di Indonesia.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; line-height: 125%; text-align: justify;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ وَمَا تَوْفِيقِي إِلاَّ بِاللّهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan sesuai kesanggupanku. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” </em>[QS Hūd/11: 88.]</p>
<p style="text-align: justify;">Bekasi, Kamis sore menjelang Maghrib, 29 Sya`bān 1433 H, bertepatan dengan 19 Juli 2012,</p>
<p style="text-align: justify;">~adni kurniawan <a href="http://adniku.com">http://adniku.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">****************************************</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #993300;">[Risalah ilmiah Syaykh A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad Syākir <em>ra<span style="text-decoration: underline;">h</span>imahullāh</em>:<strong> </strong><strong><em>Awā-il al-Syuhūr al-`Arabiyyah...</em></strong> telah kami <em>upload</em> melalui artikel yang terpisah<em>, </em>beberapa saat setelah artikel ini terbit<em>.</em> Rencana awalnya, risalah tersebut kami jadikan satu dengan pengantar di atas. Namun dikarenakan panjangnya artikel, kami memilih untuk menyendirikan risalah beliau pada artikel yang terpisah.]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2012/07/tarjih-argumentasi-penggunaan-metode-hisab-dalam-penetapan-awal-bulan-hijriah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ingin Bahagia? Buang Kebencian</title>
		<link>http://adniku.com/2012/04/ingin-bahagia-buang-kebencian/</link>
		<comments>http://adniku.com/2012/04/ingin-bahagia-buang-kebencian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Apr 2012 00:15:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[10 Author's Choice]]></category>
		<category><![CDATA[In Search of Happiness]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Mutiara]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan -- Kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyah Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[happiness]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=755</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa sering dijumpai ketidakbahagiaan di dunia ini? Mungkin jawabnya sederhana: karena banyaknya kebencian yang bertaburan di muka bumi. Kebencian kepada kompetitor, atasan, bawahan, tetangga, rekan sekerja, bahkan tak jarang keluarga,... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2012/04/ingin-bahagia-buang-kebencian/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2012/04/ingin-bahagia2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-761" title="ingin bahagia" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2012/04/ingin-bahagia2-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Kenapa sering dijumpai ketidakbahagiaan di dunia ini? Mungkin jawabnya sederhana: karena banyaknya kebencian yang bertaburan di muka bumi. Kebencian kepada kompetitor, atasan, bawahan, tetangga, rekan sekerja, bahkan tak jarang keluarga, berserakan di mana saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebencian dan kebahagiaan ibarat api dan air, tidak mungkin berpadu di tempat yang satu. Keduanya saling berlawanan dan berseberangan secara diametral. Kebahagiaan tidak mungkin tumbuh dari benih kebenciaan.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Ketika tidak ada lagi cara untuk mencari kebahagiaan maka kita hanya memiliki satu pilihan, yaitu mengorbankan apa yang kita sebut kebencian. Sebab, hanya dengan itulah kebahagiaan akan terlahir di samping kita</em>.” [Agnes Davonar, dikutip dari Kompasiana.Com.]</p>
<p style="text-align: justify;">Orang yang hatinya tidak dihinggapi kebencian maka hidupnya berbahagia dan ia seolah berada di surga dunia. Sedangkan, ulama berkata bahwa siapa yang mendapatkan surga dunia maka ia akan mendapatkan surga akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn al-Qayyim menukil ucapan Ibn Taimiyyah,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُل جَنَّة الآخِرَة</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Sesungguhnya di dunia terdapat surga. Siapa yang tidak/belum memasuki surga dunia tersebut niscaya ia tidak akan memasuki surga akhirat</em>.” [<em>Ad-Dā` wad Dawā`</em>, hlm. 186; dan <em>Madārij as-Sālikīn</em> vol. I, hlm. 454]</p>
<p style="text-align: justify;">Kebahagiaan dunia bisa jadi merupakan representasi dari kebahagiaan akhirat. Ulama menetapkan satu kaidah yang berbunyi:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الْجَزَاءُ مِنْ جِنْسِ الْعَمَل</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Ganjaran/balasan adalah sesuai dengan jenis tindakannya</em>.” [Lihat misalnya: <em>Tafsīr Ibn Katsīr</em>, vol. I, hlm. 77, <em>Rūh al-Ma`āni<span style="text-decoration: underline;">y</span></em> vol, XVI, hlm. 256, <em>Syar<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-`Aqīdah al-Thahawiyyah</em>, hlm. 379, <em>Fat-<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-Bārī</em>, vol. X, hlm. 177, dan lain-lain.]</p>
<p style="text-align: justify;">Mari kita perhatikan riwayat Anas ibn Mālik tentang seorang pria calon ahli Surga[1]:</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Sahabat sedang duduk bersama Nabi, tiba-tiba beliau bersabda, “Sebentar lagi akan datang seorang penghuni surga kepada kalian.” Tak lama kemudian datanglah seorang pria dari Anshar yang jenggotnya basah karena air wudhu. Ia datang sambil menjinjing kedua sendalnya dengan tangan kirinya. Hal yang sama berulang sampai tiga kali dalam tiga hari berturut-turut.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada hari ketiga, `Abdullāh ibn `Amr ibn al-`Āsh menghampiri pria tersebut dan berkata, “Aku sedang bermasalah dengan ayahku, hingga aku bersumpah untuk menghindarinya selama tiga hari. Jika diizinkan,aku ingin menginap di tempat Anda selama masa tiga hari tersebut.”</p>
<p style="text-align: justify;">Pria Anshar tersebut pun mengizinkan `Abdullāh ibn `Amr untuk menginap di rumahnya. Selama tiga malam bersama dengan pria Anshar itu, `Abdullāh ibn `Amr tidak pernah melihat ia melaksanakan shalat malam. Kecuali ketika terjaga dan mengubah posisinya, ia berdzikir dan bertakbir, sehingga ia bangun untuk melakukan shalat Subuh. Hanya saja, `Abdullāh ibn `Amr tidak pernah mendengar ucapan yang keluar dari pria tersebut melainkan kebaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">`Abdullāh ibn `Amr berkata, “Setelah tiga hari hampir usai dan aku hampir merendahkan amalannya, aku pun berterus terang kepadanya, ‘Hai hamba Allah, sesungguhnya tidak ada permusuhan ataupun pertengkaran antara aku dan ayahku. Hanya saja aku telah mendengar sabda  Nabi sebanyak tiga kali bahwa kami akan didatangi oleh seorang ahi Surga, dan kau pun muncul sebanyak tiga kali itu. Karena itu, aku ingin melihat amal ibadahmu agar aku dapat meneladaninya. Namun, aku tidak melihat engkau banyak melakukan amal ibadah. Jika demikian, apakah yang menyebabkan engkau disebut Nabi sebagai ahli Surga?’”</p>
<p style="text-align: justify;">Pria itu menjawab, “Amal ibadahku hanyalah sebatas yang kau lihat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika `Abdullāh ibn `Amr meninggalkannya, pria itu memanggil. “Hanya saja, aku tidak memiliki hasrat untuk berbuat curang kepada seorang pun, dan aku tidak merasa dengki dengan kebaikan yang Allah berikan kepada orang lain.”</p>
<p style="text-align: justify;">`Abdullāh ibn `Amr menjawab, “Inilah yang menyebabkan engkau mencapai posisi tersebut, dan itulah yang kami belum mampu lakukan.” [Lihat: <em>Musnad A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad</em>, vol. III, hlm. 166, no. 12720.]</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi, dengan membuang kedengkian dan kebencian kepada orang lain, pria calon ahli surga itu memeroleh kebahagiaan (baca: Surga) di dunia. Dan, sebagai lanjutan ganjaran, ia juga kemudian mendapatkan Surga di akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Surga tidak akan ada kebencian. Sebab, Surga adalah tempat kebahagiaan sejati. Sedangkan, kebahagiaan sejati tidak mungkin bersanding dengan kebencian.</p>
<p style="text-align: justify;">Allah <em>`Azza wa Jalla</em> berfirman,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَاناً عَلَى سُرُرٍ مُّتَقَابِلِينَ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam dalam dada para penghuni Surga, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan</em>.” [QS al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>ijr/15: 47.]</p>
<p style="text-align: justify;">Kita ingin memeroleh kebahagiaan serta surga di dunia dan akhirat? Membuang kebencian adalah salah satu kuncinya. Ini sama sekali bukan hal yang mudah, tentunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebencian yang dimaksud oleh tulisan ini adalah yang dilatarbelakangi oleh buruknya hubungan antar sesama, hawa nafsu dan <em>vested interest</em>; dan tentu saja bukan untuk menafikan kebencian yang memang diperintahkan oleh agama, seperti kebencian terhadap tindakan kekufuran, kemaksiatan, dan lain sebagainya, sebagaimana yang dimaksud oleh sabda Nabi:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِسْلاَمِ: أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ وَ تُبْغِضُ فِي الله</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Sesungguhnya simpul Islam yang paling kuat adalah engkau mencintai dan membenci karena Allah.</em>”  [Lihat misalnya: <em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-Jāmi` al-Shaghīr</em> no. 2009.]</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah yang sementara dapat saya tuliskan. Semoga bermanfaat. <em>Wallāhu a`lam bish-shawāb</em>. ~adni kurniawan, <a href="../">http://adniku.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<div style="text-align: justify;">
<p>*Gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://2.bp.blogspot.com/-jgQPVL81xgo/Te4lnz11XcI/AAAAAAAAAEE/d7FA686ULNQ/s1600/hate.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
</div>
<p style="text-align: justify;">[1] Teks riwayat Anas ibn Mālik:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">كنا جلوسا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : يطلع عليكم الآن رجل من أهل الجنة فطلع رجل من الأنصار تنطف لحيته من وضوئه قد تعلق نعليه في يده الشمال فلما كان الغد قال النبي صلى الله عليه وسلم مثل ذلك فطلع ذلك الرجل مثل المرة الأولى فلما كان اليوم الثالث قال النبي صلى الله عليه وسلم مثل مقالته أيضا فطلع ذلك الرجل على مثل حاله الأولى فلما قام النبي صلى الله عليه وسلم تبعه عبد الله بن عمرو بن العاص فقال اني لاحيت أبي فأقسمت أن لا أدخل عليه ثلاثا فان رأيت ان تؤويني إليك حتى تمضي فعلت قال نعم قال أنس وكان عبد الله يحدث انه بات معه تلك الليالي الثلاث فلم يره يقوم من الليل شيئا غير انه إذا تعار وتقلب على فراشه ذكر الله عز وجل وكبر حتى يقوم لصلاة الفجر قال عبد الله غير اني لم أسمعه يقول الا خيرا فلما مضت الثلاث ليال وكدت ان احتقر عمله قلت يا عبد الله اني لم يكن بيني وبين أبي غضب ولا هجر ثم ولكن سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لك ثلاث مرار يطلع عليكم الآن رجل من أهل الجنة فطلعت أنت الثلاث مرار فأردت ان آوي إليك لأنظر ما عملك فاقتدى به فلم أرك تعمل كثير عمل فما الذي بلغ بك ما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال ما هو الا ما رأيت قال فلما وليت دعاني فقال ما هو الا ما رأيت غير اني لا أجد في نفسي لأحد من المسلمين غشا ولا أحسد أحدا على خير أعطاه الله إياه فقال عبد الله هذه التي بلغت بك وهى التي لا نطيق.  (رواه أحمد في المسند جـ3 صـ166 ر2009)</span></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2012/04/ingin-bahagia-buang-kebencian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Segelas Susu Dokter Howard Kelly</title>
		<link>http://adniku.com/2011/12/segelas-susu-dokter-howard-kelly/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/12/segelas-susu-dokter-howard-kelly/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 23:47:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Nyata]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=781</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang kelaparan dan tak memiliki uang memberanikan diri untuk mengetuk pintu sebuah rumah untuk meminta makanan. Keberaniannya lenyap saat pintu itu dibuka oleh seorang... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/12/segelas-susu-dokter-howard-kelly/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2012/04/segelas-susu-Howard-Kelly12.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-784" title="segelas susu Howard Kelly1" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2012/04/segelas-susu-Howard-Kelly12.jpg" alt="" width="200" height="200" /></a>Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang kelaparan dan tak memiliki uang memberanikan diri untuk mengetuk pintu sebuah rumah untuk meminta makanan. Keberaniannya lenyap saat pintu itu dibuka oleh seorang gadis muda. Ia tidak jadi meminta makanan dan hanya meminta segelas air.</p>
<p style="text-align: justify;">Gadis itu tahu bahwa anak lelaki tersebut sebenarnya kelaparan, maka ia membawakan susu hangat segelas besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak<em> </em>lelaki itu meminum susu itu secara perlahan lalu bertanya, “Berapa harga susu yang menjadi hutangku?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kau tidak berhutang apapun,” jawab gadis itu. &#8220;Ibu mengajarkan kami untuk tidak meminta bayaran atas perbuatan baik kami.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau begitu, aku sangat berterimakasih dari lubuk hatiku yang terdalam.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tahun demi tahun berlalu, gadis itu telah tumbuh menjadi wanita dewasa, namun ia menderita penyakit kronis yang para dokter di kotanya telah angkat tangan terhadap penyakitnya. Ia pun dibawa ke rumah sakit di kota besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dokter Howard Kelly dipanggil untuk melakukan pemeriksaan medis. Howard Kelly mengenali wanita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melalui perjuangan panjang, wanita itu sembuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat menerima amplop tagihan dari rumah sakit, wanita itu ketakutan. Ia tahu tidak akan mampu membayar biayanya meskipun dengan mencicilnya seumur hidup. Dengan tangan bergetar ia  membuka amplop itu, dan menemukan catatan di pojok tagihan:</p>
<p style="text-align: justify;">“Telah dibayar lunas dengan segelas susu.” [Tertanda] Dokter Howard Kelly.</p>
<p style="text-align: justify;">Wanita itu akhirnya ingat peristiwa hampir ia lupakan. Ia akhirnya menyadari bahwa dokter yang menolongnya adalah anak lelaki miskin yang pernah diberinya segelas susu hangat. Ia tidak menyangka bahwa suatu hari ia ditolong karena segelas susu yang pernah diberikannya sekian tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Siapakah Dokter Howard Kelly? <a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2012/04/segelas-susu-Howard-Kelly2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-785" title="segelas susu Howard Kelly2" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2012/04/segelas-susu-Howard-Kelly2-197x300.jpg" alt="" width="197" height="300" /></a></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Ia adalah dokter yang sangat dihormati, salah satu dari empat profesor pendiri John Hopkins Hospital. Pada tahun 1895 ia mendirikan departemen Gynecology and Obstetrics. Tentang Howard Kelly dan kisah di atas dapat dilihat antara lain di: <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Howard_Atwood_Kelly" target="_blank">wikipedia</a> dan <a href="http://www.snopes.com/glurge/milk.asp">http://www.snopes.com/glurge/milk.asp</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Kisah di atas memberikan motivasi untuk senantiasa menebarkan kebaikan, karena kebaikan itu akan dipanen oleh orang yang menanamnya. ~adni kurniawan, <a href="http://adniku.com" target="_blank">http://adniku.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">*Gambar dari <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/File:Howard_Atwood_Kelly2.jpg" target="_blank">wikipedia</a> dan hasil pencarian Google di <a href="http://www.cdc.gov/foodsafety/images/rawmilk/milk_home.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/12/segelas-susu-dokter-howard-kelly/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hikmah Petani Jagung</title>
		<link>http://adniku.com/2011/12/hikmah-petani-jagung/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/12/hikmah-petani-jagung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 00:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[In Search of Happiness]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=746</guid>
		<description><![CDATA[James Bender dalam bukunya, “How to Talk Well” [New York; McGray-Hill Book Company,Inc., 1994], menyebutkan sebuah cerita tentang seorang petani yang menanam jagung unggulan dan sering kali memenangkan penghargaan. Suatu... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/12/hikmah-petani-jagung/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/12/Sweetcorn-jagung.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-747" title="hikmah jagung" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/12/Sweetcorn-jagung-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>James Bender dalam bukunya, “<em>How to Talk Well</em>” [New York; McGray-Hill Book Company,Inc., 1994], menyebutkan sebuah cerita tentang seorang petani yang menanam jagung unggulan dan sering kali memenangkan penghargaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, seorang wartawan dari koran lokal melakukan wawancara dan menggali rahasia kesuksesan petani tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Wartawan itu menemukan bahwa petani itu membagikan benih jagungnya kepada para tetangganya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda, lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama setiap tahunnya?” tanya wartawan, dengan penuh rasa heran dan takjub.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidakkah Anda mengetahui bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula,” jawab petani.</p>
<p style="text-align: justify;">Petani ini sangat menyadari hukum keterhubungan dalam kehidupan. Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya, jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan, mereka yang ingin menikmati kebaikan, harus memulai dengan menabur kebaikan pada orang-orang di sekitarnya. Jika Anda ingin bahagia, Anda harus menabur kebahagiaan untuk orang lain. Jika Anda ingin hidup dengan kemakmuran, maka Anda harus berusaha meningkatkan taraf hidup orang-orang di sekitar Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda tidak akan mungkin menjadi ketua tim yang hebat, jika Anda tidak berhasil meng-<em>upgrade</em> masing-masing anggota tim Anda. KUALITAS ANDA DITENTUKAN OLEH ORANG-ORANG DI SEKITAR ANDA.</p>
<p style="text-align: justify;">[Sumber tulisan dari BlackBerry Messanger seorang kawan, dengan sedikit editing dan tambahan.]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">Dahulu, Nabi r bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِل</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>(Kualitas agama) seseorang itu tergantung dari kualitas agama teman dekatnya. Karena itu, hendaklah masing-masing orang memperhatikan siapa yang menjadi temannya</em>.”<em> </em>[HR Abū Dāwūd dalam <em>Sunan</em>-nya II/675/4833, dan lain-lain, dengan sanad yang <em><span style="text-decoration: underline;">h</span>asan</em>.]</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكيرِ. فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يحذيْكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعُ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدُ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً. وَنَافِخُ الْكيرِ إِمَّا أَنْ يَحْرِقُ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدُ رِيْحًا خَبِيْثَةً.</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Perumpamaan teman yang saleh dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi dia menghadiahkan parfumnya kepadamu, atau kamu membeli darinya, atau kamu akan mendapatkan bau wangi darinya. Sedangkan pandai besi, jika apinya tidak membakar bajumu, maka kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” </em><em>[HR al-Bukhāriy dalam </em><em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span></em><em>-nya V/2104/5214; Muslim dalam </em><em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span></em><em>-nya IV/2026/2628, dan lain-lain.]</em></p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, PERHATIKANLAH SEKELILING ANDA DAN BERBAGILAH. <em>Jika Anda hanya memikirkan diri sendiri, segala yang Anda miliki akan sia-sia</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">ازْرَعْ جَمِيلاً وَلَوْ فِي غَيْرِمَوْضِعِه</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">_____________  فَلَنْ يَضِيْعَ جَمِيْل أَيْنَمَا زُرِعَا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إِنَّ الْجَمِيْلَ وَإِنْ طَال الزَّمَانُ بِهِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">_____________  فَلَيْسَ يَحْصُدُهُ إِلاَّ الَِّذِي زَرَعَا</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tanam kebaikan, meski bukan pada yang semestinya</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>karena di mana pun ditanamkan, ia tak akan sirna</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kebaikan, meski melewati panjangnya masa </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>tak akan dipetik kecuali oleh penanamnya<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">[Syair hikmah Arab]</p>
<p style="text-align: justify;">Salam,</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="../">http://adniku.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://1.bp.blogspot.com/_P7I8IYxBfKw/TKvsurC4xHI/AAAAAAAAAUk/by9yLoI3mVM/s1600/Sweetcorn+jagung.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/12/hikmah-petani-jagung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Secangkir Coklat Panas</title>
		<link>http://adniku.com/2011/12/secangkir-coklat-panas/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/12/secangkir-coklat-panas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 07:38:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[In Search of Happiness]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perumpamaan -- Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=734</guid>
		<description><![CDATA[Sekelompok alumni melakukan reuni, dan kemudian memutuskan untuk pergi mengunjungi profesor favorit mereka yang sudah pensiun. Saat berkunjung, pembicaraan mereka berubah menjadi keluhan mengenai stres pada kehidupan dan pekerjaan mereka.... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/12/secangkir-coklat-panas/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/12/hot-chocolate-ck-1687649-l1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-736" title="coklat panas" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/12/hot-chocolate-ck-1687649-l1.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Sekelompok alumni melakukan reuni, dan kemudian memutuskan untuk pergi mengunjungi profesor favorit mereka yang sudah pensiun. Saat berkunjung, pembicaraan mereka berubah menjadi keluhan mengenai stres pada kehidupan dan pekerjaan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Profesor itu menyajikan coklat panas pada tamu-tamunya. Ia pergi ke dapur dan kembali dengan coklat panas di teko yang besar dan berbagai macam cangkir: porselen, gelas, kristal, dan lain-lain; sebagiannya bagus dan berharga mahal, akan tetapi sebagian lagi bentuknya biasa saja harganya murah. Ia mengatakan kepada mereka untuk mengambil sendiri coklat panas tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika mereka semua memegang secangkir coklat panas di tangan mereka, profesor yang bijak berkata, &#8220;Perhatikan, semua cangkir yang bagus dan mahal telah diambil. Yang tersisa, hanyalah cangkir yang biasa dan murah. Memang, adalah normal bagi kalian untuk menginginkan yang terbaik. Namun, itu adalah sumber dari masalah dan stres kalian.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Cangkir tidak menambahkan kualitas dari coklat panas. Pada kebanyakan kasus, itu hanya menambah mahal, dan bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah coklat panas, bukan cangkirnya. Tetapi secara tidak sadar kalian  menginginkan cangkir yang terbaik. Lalu, <em>kalian mulai saling melihat dan membandingkan cangkir kalian masing-masing</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Para alumni terdiam, menyimak nasehat dari profesor.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang pikirkan ini: Kehidupan adalah coklat panas. Pekerjaan, Uang, dan Kedudukan adalah cangkirnya. Itu hanyalah alat untuk memegang dan memuaskan kehidupan. Cangkir yang kau miliki tidak akan menggambarkan, atau mengubah kualitas kehidupan yang kalian miliki.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Terkadang, dengan memusatkan perhatian kita hanya pada cangkirnya, kita gagal untuk menikmati coklat panas yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Tuhan membuat coklat panasnya, tetapi manusia memilih cangkirnya. Orang-orang yang paling bahagia tidak memiliki semua yang terbaik. Mereka hanya berbuat yang terbaik dari apa yang mereka miliki.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Profesor itu berhenti sejenak, menghela nafas, lalu melanjutkan, &#8220;Hiduplah dengan sederhana. Bermurah hatilah. Perhatikanlah sesama dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya, silakan nikmati coklat panas kalian.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salam,</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com" target="_blank">http://adniku.com<br />
</a></p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://img4.myrecipes.com/i/recipes/ck/07/12/hot-chocolate-ck-1687649-l.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/12/secangkir-coklat-panas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Shalat Hātim al-Ashamm</title>
		<link>http://adniku.com/2011/11/tata-cara-shalat-hatim-al-ashamm/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/11/tata-cara-shalat-hatim-al-ashamm/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 07:01:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Saleh -- Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyah Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=728</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan bahwa `Ishām ibn Yūsuf mendatangi majelis Hātim al-Ashamm untuk berdiskusi. `Ishām bertanya, “Wahai Abū `Abd al-Rahmān, bagaimana cara engkau shalat?” Hātim menatap `Ishām, lalu menjawab, “Jika tiba waktu shalat,... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/11/tata-cara-shalat-hatim-al-ashamm/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/11/shalat.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-729" title="shalat" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/11/shalat-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Dikisahkan bahwa `Ishām ibn Yūsuf mendatangi majelis <span style="text-decoration: underline;">H</span>ātim al-Ashamm untuk berdiskusi.</p>
<p style="text-align: justify;">`Ishām bertanya, “Wahai Abū `Abd al-Ra<span style="text-decoration: underline;">h</span>mān, bagaimana cara engkau shalat?”</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">H</span>ātim menatap `Ishām, lalu menjawab, “Jika tiba waktu shalat, aku berdiri kemudian melakukan wudhu, baik secara zahir maupun batin.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa yang engkau maksud dengan wudhu secara batin?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Wudhu yang zahir adalah aku membasuh anggota tubuhku dengan air (sebagaimana yang umum diketahui). Sementara, wudhu secara batin adalah aku membersihkan anggota tubuhku dengan taubat, penyesalan, serta melepaskan kecintaan kepada dunia, pujian makhluk, jabatan dan kedengkian.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Selanjutnya, aku melangkahkan kakiku ke masjid. Saat shalat ditegakkan, aku bentangkan seluruh anggota tubuhku, aku saksikan Ka`bah sambil berdiri antara kebutuhanku dan kecemasanku, sementara Allah melihatku. Surga di kananku, Neraka di kiriku, malaikat maut di belakang punggungku, aku letakkan kakiku di atas al-Shirāth (Titian Akhirat), dan aku jadikan shalat itu adalah shalat terakhirku.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu aku berniat dan bertakbir dengan <em>i<span style="text-decoration: underline;">h</span>sān</em>, aku baca Quran dengan perlahan dan penghayatan, aku ruku` dengan <em>tawādhu`</em>, aku sujud dengan ketundukan, aku ber-<em>tasyahhud</em> dengan pengharapan, dan aku mengucapkan salam dengan keikhlasan. (Selanjutnya, aku tidak tahu apakah shalatku itu diterima atau tidak.) Ini adalah shalatku sejak tiga puluh tahun.”</p>
<p style="text-align: justify;">`Ishām berkata, “Ini adalah hal yang tidak sanggup dilakukan oleh selain dirimu.” Lalu ia menangis sejadi-jadinya.</p>
<p style="text-align: justify;">[Referensi: <em>al-Nawādir</em>, al-Qalyūbi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, hlm. 3; dan sumber lainnya.]</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh, betapa jauhnya shalat kita dengan shalat orang-orang saleh tersebut. Semoga kelak kita mampu meneladani mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam,</p>
<p style="text-align: justify;">~adni kurniawan</p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://1.bp.blogspot.com/-PCR9IIkRyfQ/Tgq4IIFU8LI/AAAAAAAAALA/aOuWLyj70HE/s1600/shalat.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">حكي: أن عصام بن يوسف أتى مجلس حاتم الأصم فأراد الاعتراض عليه. فقال: يا أبا عبد الرحمن كيف تصلي؟ فحول حاتم وجهه إلى عصام، وقال اله: إذا جاء وقت الصلاة قمت فأتوضأ وضوءاً ظاهراً وباطناً. فقال عصام: كيف الوضوء الباطن؟ فقال: أما الوضوء الظاهر فأغسل الأعضاء بالماء؛ وأما الوضوء الباطن فأغسل بسبحة أشياء بالتوبة والندامة وترك حب الدنيا وثناء الخلق والرياسة والغل والحسد؛ ثم أذهب إلى المسجد فأبسط الأعضاء فأرى الكعبة فأقوم بين حاجتي وحذري والله ناظري والجنة عن يميني والنار عن شمالي وملك الموت خلف ظهري، وكأني واضع قدمي على الصراط، وأظن أن هذه الصلاة آخر صلاة أصليها؛ ثم أنوي وأكبر بالإحسان وأقرأ بالتفكر وأركع التواضع وأسجد بالتضرع، وأتشهد بالرجاء وأسلم بالإخلاص. فهذه صلاتي منذ ثلاثين سنة. فقال له عصام: هذا شيء لا يقدر عليه غيرك. وبكى بكاء شديداً.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/11/tata-cara-shalat-hatim-al-ashamm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesabaran al-Hiriy</title>
		<link>http://adniku.com/2011/10/kisah-kesabaran-abu-utsman/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/10/kisah-kesabaran-abu-utsman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 15:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[In Search of Happiness]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Saleh -- Islami]]></category>
		<category><![CDATA[kisah islami]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Ibn Khallikān dalam Wafayāt al-A`yān (vol. II, hlm. 369) menyebutkan tentang kisah menakjubkan tentang kesabaran Sa`īd ibn Ismā`īl Abū `Utsmān al-Hīriy (w. 298 H). Beliau adalah salah seorang Imam pada... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/10/kisah-kesabaran-abu-utsman/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/10/Kesabaran-Abu-Utsman-2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-694" title="Kesabaran Abu Utsman-2" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/10/Kesabaran-Abu-Utsman-2.jpg" alt="" width="256" height="198" /></a>Ibn Khallikān dalam <em>Wafayāt al-A`yān</em> (vol. II, hlm. 369) menyebutkan tentang kisah menakjubkan tentang kesabaran Sa`īd ibn Ismā`īl Abū `Utsmān al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>īri<span style="text-decoration: underline;">y</span> (w. 298 H). Beliau adalah salah seorang Imam pada masanya yang doanya segera diijabahi oleh Allah (<em>mujāb al-da`wah</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika Maryam, istri Abū `Utsmān bertanya kepada suaminya, &#8220;Wahai suamiku, amal apa yang paling kau harapkan di sisimu kelak?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abū `Utsmān menjawab, “Istriku, dulu saat aku masih muda belia, ketika orang-orang di sekitarku membujukku untuk segera menikah sementara aku masih menolak untuk melakukan hal itu, tiba-tiba ada seorang wanita yang mendatangiku dan berkata, ‘Wahai Abū `Utsmān, aku mencintaimu dengan kecintaan yang melenyapkan rasa kantuk dan ketenanganku. Karena itu, aku meminta kepadamu, demi Yang Maha Membolak-balikkan Qalbu, agar kau bersedia untuk menikahiku.’”</p>
<p style="text-align: justify;">’Apakah ayahmu masih hidup?’</p>
<p style="text-align: justify;">‘Ya, ayahku berprofesi sebagai tukang jahit.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Singkat kata, aku pun menikahinya. Saat malam pertama, ternyata aku mendapatinya sebagai orang yang buta sebelah, pincang, serta buruk rupa dan perangainya. Aku berkata dalam hati, ‘Ya Allah, bagi-Mu segala puji atas apa yang telah Kau takdirkan untukku.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Keluargaku lalu mencelaku atas pernikahan tersebut. Tetapi aku justru semakin memuliakan dan bersikap baik kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ia kemudian tidak membiarkanku untuk pergi dari sisinya. Aku tinggalkan majelis orang-orang saleh untuk keridhaannya serta untuk menjaga perasaannya. Kondisi tersebut berlangsung selama lima belas tahun lamanya. Sering kali aku merasa seolah-olah sedang menggenggam bara api. Tetapi hal itu tidak pernah kutunjukkan kepadanya. Aku tetap bersikap baik kepadanya sampai akhirnya ia wafat.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Nah</em>, tidak ada amal kebaikan yang paling aku harapkan di sisiku kelak selain dari usaha kerasku untuk menjaga perasaannya selama kurun waktu tersebut.”</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah. Semoga kesabaran beliau bisa menjadi teladan bagi kita. Biografi Abū `Utsmān al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>īri<span style="text-decoration: underline;">y</span> juga dapat dilihat pada <em>magnum opus</em> Imam al-Dzahabi<span style="text-decoration: underline;">y</span>: <em>Siyar al-A`lām al-Nubalā’</em> (vol. XIV, hlm. 62 – 66).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Warm regards</em>,</p>
<p style="text-align: justify;">~adni kurniawan</p>
<p style="text-align: justify;">Teks asal:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">قالت مريم امرأة أبي عثمان :صادفت من أبي عثمان خلوة فاغتنمتها ؛وقلت: يا أبا عثمان؛ أي عملك أرجى عندك؟ فقال: يا مريم؛ لما ترعرعت وأنا بالري وكانوا يراودونني على التزوج فأمتنع جاءتني امرأة فقالت :يا أبا عثمان؛ قد أحببتك حباً ذهب بنومي وقراري ؛وأنا أسألك بمقلب القلوب أن تتزوج بي ؛فقلت ألكِ والد؟ قالت نعم ؛فلان الخياط في موضع كذا؛ فراسلْتُه ؛فأجاب؛ فتزوجت بها ؛فلما دخلت وجدتها عوراء عرجاء سيئة الخلق؛ فقلت: اللهم لك الحمد على ما قدّرته لي؛ وكان أهل بيتي يلومونني على ذلك؛ فأزيدها برا ًوإكراماً؛ إلى أن صارت لا تدعني أخرج من عندها؛ فتركت حضور المجلس إيثاراً لرضاها وحفظاً لقلبها؛ وبقيت معها على هذه الحالة خمس عشرة سنة؛ وكنت معها في بعض أوقاتي كأني قابض على الجمر ولا أبدي لها شيئا من ذلك؛ إلى أن ماتت ؛ فما شيء عندي أرجى من حفظي عليها ما كان في قلبها من جهتي .</span></p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://alkisah.web.id/wp-content/uploads/2010/11/sabar1.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/10/kisah-kesabaran-abu-utsman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
