<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>in between...</title>
	<atom:link href="http://adniku.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://adniku.com</link>
	<description>blog adni kurniawan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 17 Dec 2011 01:06:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Hikmah Petani Jagung</title>
		<link>http://adniku.com/2011/12/hikmah-petani-jagung/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/12/hikmah-petani-jagung/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 00:55:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[10 Author's Choice]]></category>
		<category><![CDATA[In Search of Happiness]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=746</guid>
		<description><![CDATA[James Bender dalam bukunya, “How to Talk Well” [New York; McGray-Hill Book Company,Inc., 1994], menyebutkan sebuah cerita tentang seorang petani yang menanam jagung unggulan dan sering kali memenangkan penghargaan. Suatu... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/12/hikmah-petani-jagung/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/12/Sweetcorn-jagung.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-747" title="hikmah jagung" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/12/Sweetcorn-jagung-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>James Bender dalam bukunya, “<em>How to Talk Well</em>” [New York; McGray-Hill Book Company,Inc., 1994], menyebutkan sebuah cerita tentang seorang petani yang menanam jagung unggulan dan sering kali memenangkan penghargaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu hari, seorang wartawan dari koran lokal melakukan wawancara dan menggali rahasia kesuksesan petani tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Wartawan itu menemukan bahwa petani itu membagikan benih jagungnya kepada para tetangganya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagaimana Anda bisa berbagi benih jagung dengan tetangga Anda, lalu bersaing dengannya dalam kompetisi yang sama setiap tahunnya?” tanya wartawan, dengan penuh rasa heran dan takjub.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidakkah Anda mengetahui bahwa angin menerbangkan serbuk sari dari jagung yang akan berbuah dan membawanya dari satu ladang ke ladang yang lain. Jika tetangga saya menanam jagung yang jelek, maka kualitas jagung saya akan menurun ketika terjadi serbuk silang. Jika saya ingin menghasilkan jagung kualitas unggul, saya harus membantu tetangga saya untuk menanam jagung yang bagus pula,” jawab petani.</p>
<p style="text-align: justify;">Petani ini sangat menyadari hukum keterhubungan dalam kehidupan. Dia tidak dapat meningkatkan kualitas jagungnya, jika dia tidak membantu tetangganya untuk melakukan hal yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan, mereka yang ingin menikmati kebaikan, harus memulai dengan menabur kebaikan pada orang-orang di sekitarnya. Jika Anda ingin bahagia, Anda harus menabur kebahagiaan untuk orang lain. Jika Anda ingin hidup dengan kemakmuran, maka Anda harus berusaha meningkatkan taraf hidup orang-orang di sekitar Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Anda tidak akan mungkin menjadi ketua tim yang hebat, jika Anda tidak berhasil meng-<em>upgrade</em> masing-masing anggota tim Anda. KUALITAS ANDA DITENTUKAN OLEH ORANG-ORANG DI SEKITAR ANDA.</p>
<p style="text-align: justify;">[Sumber tulisan dari BlackBerry Messanger seorang kawan, dengan sedikit editing dan tambahan.]</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">Dahulu, Nabi r bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِل</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>(Kualitas agama) seseorang itu tergantung dari kualitas agama teman dekatnya. Karena itu, hendaklah masing-masing orang memperhatikan siapa yang menjadi temannya</em>.”<em> </em>[HR Abū Dāwūd dalam <em>Sunan</em>-nya II/675/4833, dan lain-lain, dengan sanad yang <em><span style="text-decoration: underline;">h</span>asan</em>.]</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau juga bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالسُّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكيرِ. فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يحذيْكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعُ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدُ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً. وَنَافِخُ الْكيرِ إِمَّا أَنْ يَحْرِقُ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدُ رِيْحًا خَبِيْثَةً.</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Perumpamaan teman yang saleh dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi dia menghadiahkan parfumnya kepadamu, atau kamu membeli darinya, atau kamu akan mendapatkan bau wangi darinya. Sedangkan pandai besi, jika apinya tidak membakar bajumu, maka kamu akan mendapatkan bau yang tidak sedap darinya.” </em><em>[HR al-Bukhāriy dalam </em><em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span></em><em>-nya V/2104/5214; Muslim dalam </em><em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span></em><em>-nya IV/2026/2628, dan lain-lain.]</em></p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, PERHATIKANLAH SEKELILING ANDA DAN BERBAGILAH. <em>Jika Anda hanya memikirkan diri sendiri, segala yang Anda miliki akan sia-sia</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">ازْرَعْ جَمِيلاً وَلَوْ فِي غَيْرِمَوْضِعِه</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">_____________  فَلَنْ يَضِيْعَ جَمِيْل أَيْنَمَا زُرِعَا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إِنَّ الْجَمِيْلَ وَإِنْ طَال الزَّمَانُ بِهِ</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">_____________  فَلَيْسَ يَحْصُدُهُ إِلاَّ الَِّذِي زَرَعَا</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tanam kebaikan, meski bukan pada yang semestinya</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>karena di mana pun ditanamkan, ia tak akan sirna</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kebaikan, meski melewati panjangnya masa </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>tak akan dipetik kecuali oleh penanamnya<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">[Syair hikmah Arab]</p>
<p style="text-align: justify;">Salam,</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="../">http://adniku.com</a></p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://1.bp.blogspot.com/_P7I8IYxBfKw/TKvsurC4xHI/AAAAAAAAAUk/by9yLoI3mVM/s1600/Sweetcorn+jagung.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/12/hikmah-petani-jagung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Secangkir Coklat Panas</title>
		<link>http://adniku.com/2011/12/secangkir-coklat-panas/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/12/secangkir-coklat-panas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 07:38:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[10 Author's Choice]]></category>
		<category><![CDATA[In Search of Happiness]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perumpamaan -- Fiksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=734</guid>
		<description><![CDATA[Sekelompok alumni melakukan reuni, dan kemudian memutuskan untuk pergi mengunjungi profesor favorit mereka yang sudah pensiun. Saat berkunjung, pembicaraan mereka berubah menjadi keluhan mengenai stres pada kehidupan dan pekerjaan mereka.... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/12/secangkir-coklat-panas/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/12/hot-chocolate-ck-1687649-l1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-736" title="coklat panas" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/12/hot-chocolate-ck-1687649-l1.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Sekelompok alumni melakukan reuni, dan kemudian memutuskan untuk pergi mengunjungi profesor favorit mereka yang sudah pensiun. Saat berkunjung, pembicaraan mereka berubah menjadi keluhan mengenai stres pada kehidupan dan pekerjaan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Profesor itu menyajikan coklat panas pada tamu-tamunya. Ia pergi ke dapur dan kembali dengan coklat panas di teko yang besar dan berbagai macam cangkir: porselen, gelas, kristal, dan lain-lain; sebagiannya bagus dan berharga mahal, akan tetapi sebagian lagi bentuknya biasa saja harganya murah. Ia mengatakan kepada mereka untuk mengambil sendiri coklat panas tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika mereka semua memegang secangkir coklat panas di tangan mereka, profesor yang bijak berkata, &#8220;Perhatikan, semua cangkir yang bagus dan mahal telah diambil. Yang tersisa, hanyalah cangkir yang biasa dan murah. Memang, adalah normal bagi kalian untuk menginginkan yang terbaik. Namun, itu adalah sumber dari masalah dan stres kalian.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Cangkir tidak menambahkan kualitas dari coklat panas. Pada kebanyakan kasus, itu hanya menambah mahal, dan bahkan menyembunyikan apa yang kita minum. Apa yang kalian inginkan sebenarnya adalah coklat panas, bukan cangkirnya. Tetapi secara tidak sadar kalian  menginginkan cangkir yang terbaik. Lalu, <em>kalian mulai saling melihat dan membandingkan cangkir kalian masing-masing</em>.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Para alumni terdiam, menyimak nasehat dari profesor.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Sekarang pikirkan ini: Kehidupan adalah coklat panas. Pekerjaan, Uang, dan Kedudukan adalah cangkirnya. Itu hanyalah alat untuk memegang dan memuaskan kehidupan. Cangkir yang kau miliki tidak akan menggambarkan, atau mengubah kualitas kehidupan yang kalian miliki.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Terkadang, dengan memusatkan perhatian kita hanya pada cangkirnya, kita gagal untuk menikmati coklat panas yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Tuhan membuat coklat panasnya, tetapi manusia memilih cangkirnya. Orang-orang yang paling bahagia tidak memiliki semua yang terbaik. Mereka hanya berbuat yang terbaik dari apa yang mereka miliki.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Profesor itu berhenti sejenak, menghela nafas, lalu melanjutkan, &#8220;Hiduplah dengan sederhana. Bermurah hatilah. Perhatikanlah sesama dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya, silakan nikmati coklat panas kalian.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Salam,</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com" target="_blank">http://adniku.com<br />
</a></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://img4.myrecipes.com/i/recipes/ck/07/12/hot-chocolate-ck-1687649-l.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/12/secangkir-coklat-panas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tata Cara Shalat Hātim al-Ashamm</title>
		<link>http://adniku.com/2011/11/tata-cara-shalat-hatim-al-ashamm/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/11/tata-cara-shalat-hatim-al-ashamm/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 07:01:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[10 Author's Choice]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Saleh -- Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Tazkiyah Nafs]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=728</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan bahwa `Ishām ibn Yūsuf mendatangi majelis Hātim al-Ashamm untuk berdiskusi. `Ishām bertanya, “Wahai Abū `Abd al-Rahmān, bagaimana cara engkau shalat?” Hātim menatap `Ishām, lalu menjawab, “Jika tiba waktu shalat,... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/11/tata-cara-shalat-hatim-al-ashamm/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/11/shalat.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-729" title="shalat" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/11/shalat-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Dikisahkan bahwa `Ishām ibn Yūsuf mendatangi majelis <span style="text-decoration: underline;">H</span>ātim al-Ashamm untuk berdiskusi.</p>
<p style="text-align: justify;">`Ishām bertanya, “Wahai Abū `Abd al-Ra<span style="text-decoration: underline;">h</span>mān, bagaimana cara engkau shalat?”</p>
<p style="text-align: justify;"><span style="text-decoration: underline;">H</span>ātim menatap `Ishām, lalu menjawab, “Jika tiba waktu shalat, aku berdiri kemudian melakukan wudhu, baik secara zahir maupun batin.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa yang engkau maksud dengan wudhu secara batin?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Wudhu yang zahir adalah aku membasuh anggota tubuhku dengan air (sebagaimana yang umum diketahui). Sementara, wudhu secara batin adalah aku membersihkan anggota tubuhku dengan taubat, penyesalan, serta melepaskan kecintaan kepada dunia, pujian makhluk, jabatan dan kedengkian.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Selanjutnya, aku melangkahkan kakiku ke masjid. Saat shalat ditegakkan, aku bentangkan seluruh anggota tubuhku, aku saksikan Ka`bah sambil berdiri antara kebutuhanku dan kecemasanku, sementara Allah melihatku. Surga di kananku, Neraka di kiriku, malaikat maut di belakang punggungku, aku letakkan kakiku di atas al-Shirāth (Titian Akhirat), dan aku jadikan shalat itu adalah shalat terakhirku.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu aku berniat dan bertakbir dengan <em>i<span style="text-decoration: underline;">h</span>sān</em>, aku baca Quran dengan perlahan dan penghayatan, aku ruku` dengan <em>tawādhu`</em>, aku sujud dengan ketundukan, aku ber-<em>tasyahhud</em> dengan pengharapan, dan aku mengucapkan salam dengan keikhlasan. (Selanjutnya, aku tidak tahu apakah shalatku itu diterima atau tidak.) Ini adalah shalatku sejak tiga puluh tahun.”</p>
<p style="text-align: justify;">`Ishām berkata, “Ini adalah hal yang tidak sanggup dilakukan oleh selain dirimu.” Lalu ia menangis sejadi-jadinya.</p>
<p style="text-align: justify;">[Referensi: <em>al-Nawādir</em>, al-Qalyūbi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, hlm. 3; dan sumber lainnya.]</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh, betapa jauhnya shalat kita dengan shalat orang-orang saleh tersebut. Semoga kelak kita mampu meneladani mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam,</p>
<p style="text-align: justify;">~adni kurniawan</p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://1.bp.blogspot.com/-PCR9IIkRyfQ/Tgq4IIFU8LI/AAAAAAAAALA/aOuWLyj70HE/s1600/shalat.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">حكي: أن عصام بن يوسف أتى مجلس حاتم الأصم فأراد الاعتراض عليه. فقال: يا أبا عبد الرحمن كيف تصلي؟ فحول حاتم وجهه إلى عصام، وقال اله: إذا جاء وقت الصلاة قمت فأتوضأ وضوءاً ظاهراً وباطناً. فقال عصام: كيف الوضوء الباطن؟ فقال: أما الوضوء الظاهر فأغسل الأعضاء بالماء؛ وأما الوضوء الباطن فأغسل بسبحة أشياء بالتوبة والندامة وترك حب الدنيا وثناء الخلق والرياسة والغل والحسد؛ ثم أذهب إلى المسجد فأبسط الأعضاء فأرى الكعبة فأقوم بين حاجتي وحذري والله ناظري والجنة عن يميني والنار عن شمالي وملك الموت خلف ظهري، وكأني واضع قدمي على الصراط، وأظن أن هذه الصلاة آخر صلاة أصليها؛ ثم أنوي وأكبر بالإحسان وأقرأ بالتفكر وأركع التواضع وأسجد بالتضرع، وأتشهد بالرجاء وأسلم بالإخلاص. فهذه صلاتي منذ ثلاثين سنة. فقال له عصام: هذا شيء لا يقدر عليه غيرك. وبكى بكاء شديداً.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/11/tata-cara-shalat-hatim-al-ashamm/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesabaran al-Hiriy</title>
		<link>http://adniku.com/2011/10/kisah-kesabaran-abu-utsman/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/10/kisah-kesabaran-abu-utsman/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 15:42:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[10 Author's Choice]]></category>
		<category><![CDATA[In Search of Happiness]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Saleh -- Islami]]></category>
		<category><![CDATA[kisah islami]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nyata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Ibn Khallikān dalam Wafayāt al-A`yān (vol. II, hlm. 369) menyebutkan tentang kisah menakjubkan tentang kesabaran Sa`īd ibn Ismā`īl Abū `Utsmān al-Hīriy (w. 298 H). Beliau adalah salah seorang Imam pada... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/10/kisah-kesabaran-abu-utsman/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/10/Kesabaran-Abu-Utsman-2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-694" title="Kesabaran Abu Utsman-2" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/10/Kesabaran-Abu-Utsman-2.jpg" alt="" width="256" height="198" /></a>Ibn Khallikān dalam <em>Wafayāt al-A`yān</em> (vol. II, hlm. 369) menyebutkan tentang kisah menakjubkan tentang kesabaran Sa`īd ibn Ismā`īl Abū `Utsmān al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>īri<span style="text-decoration: underline;">y</span> (w. 298 H). Beliau adalah salah seorang Imam pada masanya yang doanya segera diijabahi oleh Allah (<em>mujāb al-da`wah</em>).</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika Maryam, istri Abū `Utsmān bertanya kepada suaminya, &#8220;Wahai suamiku, amal apa yang paling kau harapkan di sisimu kelak?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Abū `Utsmān menjawab, “Istriku, dulu saat aku masih muda belia, ketika orang-orang di sekitarku membujukku untuk segera menikah sementara aku masih menolak untuk melakukan hal itu, tiba-tiba ada seorang wanita yang mendatangiku dan berkata, ‘Wahai Abū `Utsmān, aku mencintaimu dengan kecintaan yang melenyapkan rasa kantuk dan ketenanganku. Karena itu, aku meminta kepadamu, demi Yang Maha Membolak-balikkan Qalbu, agar kau bersedia untuk menikahiku.’”</p>
<p style="text-align: justify;">’Apakah ayahmu masih hidup?’</p>
<p style="text-align: justify;">‘Ya, ayahku berprofesi sebagai tukang jahit.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Singkat kata, aku pun menikahinya. Saat malam pertama, ternyata aku mendapatinya sebagai orang yang buta sebelah, pincang, serta buruk rupa dan perangainya. Aku berkata dalam hati, ‘Ya Allah, bagi-Mu segala puji atas apa yang telah Kau takdirkan untukku.’</p>
<p style="text-align: justify;">“Keluargaku lalu mencelaku atas pernikahan tersebut. Tetapi aku justru semakin memuliakan dan bersikap baik kepadanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ia kemudian tidak membiarkanku untuk pergi dari sisinya. Aku tinggalkan majelis orang-orang saleh untuk keridhaannya serta untuk menjaga perasaannya. Kondisi tersebut berlangsung selama lima belas tahun lamanya. Sering kali aku merasa seolah-olah sedang menggenggam bara api. Tetapi hal itu tidak pernah kutunjukkan kepadanya. Aku tetap bersikap baik kepadanya sampai akhirnya ia wafat.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Nah</em>, tidak ada amal kebaikan yang paling aku harapkan di sisiku kelak selain dari usaha kerasku untuk menjaga perasaannya selama kurun waktu tersebut.”</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah. Semoga kesabaran beliau bisa menjadi teladan bagi kita. Biografi Abū `Utsmān al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>īri<span style="text-decoration: underline;">y</span> juga dapat dilihat pada <em>magnum opus</em> Imam al-Dzahabi<span style="text-decoration: underline;">y</span>: <em>Siyar al-A`lām al-Nubalā’</em> (vol. XIV, hlm. 62 – 66).</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Warm regards</em>,</p>
<p style="text-align: justify;">~adni kurniawan</p>
<p style="text-align: justify;">Teks asal:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">قالت مريم امرأة أبي عثمان :صادفت من أبي عثمان خلوة فاغتنمتها ؛وقلت: يا أبا عثمان؛ أي عملك أرجى عندك؟ فقال: يا مريم؛ لما ترعرعت وأنا بالري وكانوا يراودونني على التزوج فأمتنع جاءتني امرأة فقالت :يا أبا عثمان؛ قد أحببتك حباً ذهب بنومي وقراري ؛وأنا أسألك بمقلب القلوب أن تتزوج بي ؛فقلت ألكِ والد؟ قالت نعم ؛فلان الخياط في موضع كذا؛ فراسلْتُه ؛فأجاب؛ فتزوجت بها ؛فلما دخلت وجدتها عوراء عرجاء سيئة الخلق؛ فقلت: اللهم لك الحمد على ما قدّرته لي؛ وكان أهل بيتي يلومونني على ذلك؛ فأزيدها برا ًوإكراماً؛ إلى أن صارت لا تدعني أخرج من عندها؛ فتركت حضور المجلس إيثاراً لرضاها وحفظاً لقلبها؛ وبقيت معها على هذه الحالة خمس عشرة سنة؛ وكنت معها في بعض أوقاتي كأني قابض على الجمر ولا أبدي لها شيئا من ذلك؛ إلى أن ماتت ؛ فما شيء عندي أرجى من حفظي عليها ما كان في قلبها من جهتي .</span></p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://alkisah.web.id/wp-content/uploads/2010/11/sabar1.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/10/kisah-kesabaran-abu-utsman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengemis yang Dulu Itu&#8230;</title>
		<link>http://adniku.com/2011/10/pengemis-pertama/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/10/pengemis-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 05:27:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Adab -- Akhlak Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Saleh -- Islami]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=595</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, tersebutlah sepasang suami istri yang tengah bersiap menikmati hidangan ayam panggang di meja makan. Mereka hidup dengan berkecukupan. Tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk oleh seorang pengemis. Sang istri ingin... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/10/pengemis-pertama/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/10/sedekah-2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-599" title="sedekah-2" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/10/sedekah-2-300x222.jpg" alt="" width="300" height="222" /></a>Alkisah, tersebutlah sepasang suami istri yang tengah bersiap menikmati hidangan ayam panggang di meja makan. Mereka hidup dengan berkecukupan. Tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk oleh seorang pengemis. Sang istri ingin memberinya makanan, akan tetapi suaminya kemudian menghardik dan mengusir pengemis itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak berapa lama kemudian, usaha si suami mengalami kebangkrutan. Kekayaannya sirna. Selain itu, Karena perangainya yang buruk, ia juga bercerai dengan istrinya. Sang wanita kemudian menikah lagi dengan seorang pria yang baik perangainya lagi hidup berkecukupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika, wanita itu tengah bersiap menikmati hidangan ayam panggang di meja makan bersama suami barunya. Tiba-tiba pintu rumahnya diketuk oleh seorang pengemis.<span id="more-595"></span></p>
<p style="text-align: justify;">“Tolong berikan makanan kita kepadanya,” pinta si pria kepada istrinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Wanita itu mematuhi kata suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika kembali, wanita itu menangis tersedu-sedu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa yang membuatmu menangis?” tanya suaminya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Pengemis tadi ternyata adalah suamiku. Dahulu, kami juga pernah didatangi oleh pengemis ketika tengah menikmati hidangan, lalu ia menghardik dan mengusir pengemis itu. Sekarang, ternyata ia justru menjadi pengemis.”</p>
<p style="text-align: justify;">Suaminya berkata lembut, “Tahukah engkau, pengemis yang dulu diusirnya itu adalah aku.”</p>
<p style="text-align: justify;">…</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber kisah: <em>al-Mustathraf fi Kull[i] Fann Mustazhraf</em>, vol. I, hlm. 27.</p>
<p style="text-align: justify;">*******</p>
<p style="text-align: justify;">Allah <em>`Azza wa Jalla</em> berfirman:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، تُولِجُ اللَّيْلَ فِي الْنَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الَمَيَّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَن تَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ</span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Katakanlah: &#8220;Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).&#8221;</em> [QS Āli `Imrān/3: 26-27.]</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga kisah bermanfaat bagi kita semua.</p>
<p style="text-align: justify;">~adni kurniawan</p>
<p style="text-align: justify;">http://adniku.com/2011/10/27/pengemis-pertama/</p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasi pencarian Google di <a href="http://sedekahmassal.org/wp-content/uploads/2011/08/sedekah-2.jpg" target="_blank">sini</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Teks asal:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">وحكي أن رجلا جلس يوما يأكل هو وزوجته وبين أيديهما دجاجة مشوية فوقف سائل ببابه فخرج إليه وانتهره فذهب فاتفق بعد ذلك أن الرجل افتقر وزالت نعمته وطلق زوجته وتزوجت بعده برجل آخر فجلس يأكل معها في بعض الأيام وبين أيديهما دجاجة مشوية وإذا بسائل يطرق الباب فقال الرجل لزوجته ادفعي إليه هذه الدجاجة فخرجت بها إليه فإذا هو زوجها الأول فدفعت إليه الدجاجة ورجعت وهي باكية فسألها زوجها عن بكائها فأخبرته أن السائل كان زوجها وذكرت له قصتها مع ذلك السائل الذي انتهره زوجها الأول فقال لها زوجها أنا والله ذلك السائل</span></p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/10/pengemis-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dialog al-Hafizh Ibn Hajar dan Yahudi Miskin</title>
		<link>http://adniku.com/2011/10/dialog-al-hafizh-ibn-hajar-dan-yahudi-miskin/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/10/dialog-al-hafizh-ibn-hajar-dan-yahudi-miskin/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Oct 2011 09:40:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Orang Saleh -- Islami]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=536</guid>
		<description><![CDATA[Imam al-Munāwiy menukil kisah menarik dalam Faydl al-Qadīr (vol. III, hlm. 546) tentang al-Hāfizh Ibn Hajar al-`Asqalāniy: Suatu ketika Ibn Hajar, yang kala itu menjabat sebagai Hakim Agung, berjalan di... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/10/dialog-al-hafizh-ibn-hajar-dan-yahudi-miskin/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/10/prison.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-539" title="prison" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/10/prison.jpg" alt="" width="356" height="268" /></a>Imam al-Munāwi<span style="text-decoration: underline;">y</span> menukil kisah menarik dalam <em>Faydl al-Qadīr</em> (vol. III, hlm. 546) tentang al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>āfizh Ibn <span style="text-decoration: underline;">H</span>ajar al-`Asqalāni<span style="text-decoration: underline;">y</span>:</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika Ibn <span style="text-decoration: underline;">H</span>ajar, yang kala itu menjabat sebagai Hakim Agung, berjalan di pasar. Penampilan beliau sangat mewah dan menarik. Seorang Yahudi penjual minyak dengan kondisi dekil, lusuh dan compang-camping lantas menghampiri beliau, dan berkata, “Hai Syaykh al-Islam, kau mengklaim bahwa Nabimu berkata,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ</span></p>
<p style="text-align: justify;">‘<em>Dunia adalah penjara bagi orang Mukmin dan surga bagi orang kafir</em>.’ [HR Muslim dalam Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span>-nya IV/2272/2956, dan lain-lain.]</p>
<p style="text-align: justify;">“Dengan kondisi kita yang demikian ini, maka bagaimana mungkin kau sedang terpenjara sementara aku di surga?!”</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn <span style="text-decoration: underline;">H</span>ajar menjawab, “Begini, kondisiku saat ini dibandingkan dengan apa yang Allah persiapkan untukku (sebagai orang Mukmin), berupa kenikmatan di Surga nanti, adalah bagaikan sedang berada dalam penjara. Sedangkan dirimu, dibandingkan dengan apa yang persiapkan untukmu (sebagai orang kafir) berupa azab yang pedih di akhirat nanti, kau saat ini bagaikan sedang di surga.”</p>
<p style="text-align: justify;">Yahudi itu pun langsung masuk Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://themollymoon.files.wordpress.com/2011/03/prison.jpg">sini</a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">قال المناوي في فيض القدير (3/546): ذكروا أن الحافظ ابن حجر لما كان قاضي القضاة مر يوما بالسوق في موكب عظيم وهيئة جميلة فهجم عليه يهودي يبيع الزيت الحار وأثوابه ملطخة بالزيت وهو في غاية الرثاثة والشناعة فقبض على لجام بغلته وقال: يا شيخ الإسلام تزعم أن نبيكم قال: الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر، فأي سجن أنت فيه وأي جنة أنا فيها.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">فقال: أنا بالنسبة لما أعد الله لي في الآخرة من النعيم كأني الآن في السجن وأنت بالنسبة لما أعد لك في الآخرة من العذاب الأليم كأنك في جنة، فأسلم.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/10/dialog-al-hafizh-ibn-hajar-dan-yahudi-miskin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpuasa Sunnah Sebelum Meng-qadha Ramadhan</title>
		<link>http://adniku.com/2011/09/berpuasa-sunnah-sebelum-meng-qadha-ramadhan/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/09/berpuasa-sunnah-sebelum-meng-qadha-ramadhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 00:10:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa -- Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=518</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Bolehkah seseorang berpuasa sunnah, sementara ia belum meng-qadhā puasa Ramadhan? Jawaban: Hukumnya BOLEH, insya Allah. Seseorang dapat berpuasa sunnah, meskipun ia belum meng-qadhā puasa Ramadhan. Ini adalah pendapat dari... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/09/berpuasa-sunnah-sebelum-meng-qadha-ramadhan/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;"><strong>Pertanyaan: <a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/09/Bepuasa-Sunnah-sebelum-..._resize2.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-524" title="Bepuasa Sunnah sebelum ..._resize" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/09/Bepuasa-Sunnah-sebelum-..._resize2.jpg" alt="" width="350" height="175" /></a></strong></span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Bolehkah seseorang berpuasa sunnah, sementara ia belum meng-<em>qadhā</em> puasa Ramadhan?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawaban: </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;"><strong>Hukumnya BOLEH</strong></span>, insya Allah. Seseorang dapat berpuasa sunnah, meskipun ia belum meng-<em>qadhā</em> puasa Ramadhan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah pendapat dari madzhab <span style="text-decoration: underline;">H</span>anafi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, Syāfi`i<span style="text-decoration: underline;">y</span>, dan juga satu riwayat dari Imam A<span style="text-decoration: underline;">h</span>mad. [Lihat: <em>al-`Ināyah `alā al-Hidāyah</em> I/355, <em>al-Muhadzdzab</em> I/252, <em>al-Mantsūr fī al-Qawā`id</em> III/278, dan <em>al-Mughniy</em> III/145-146.]</p>
<p style="text-align: justify;">Allah <em>Ta`ālā</em> berfirman:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">مَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَن كَانَ مَرِيضاً أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Maka, siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, <span style="text-decoration: underline;">pada hari-hari yang lain</span>. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur</em>.” [QS al-Baqarah/2: 185.]</p>
<p style="text-align: justify;">Ayat di atas, khususnya frasa: “pada hari-hari yang lain”, menunjukkan bahwa kewajiban untuk meng-<em>qadhā</em> puasa Ramadhan itu tidak harus disegerakan, atau yang dalam disiplin <em>ushūl fiqh</em> disebut <em>wājib muwassa`</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, pelaksanaan puasa sunnah sebelum meng-<em>qadhā</em> puasa Ramadhan agar memperhatikan catatan sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>: Pada prinsipnya seorang Muslim berusaha untuk menyegerakan penyelesaian hal-hal yang diwajibkan kepadanya. Sebuah hadits qudsiy menyebutkan bahwa Allah <em>Ta`ālā</em> berkata,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya</em>.” [HR al-Bukhari<span style="text-decoration: underline;">y</span> dalam <em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span></em>-nya no. 6502.]</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>: Jika dikhawatirkan suatu ibadah terlewatkan batas waktunya dan/atau dikhawatirkan kondisi seseorang akan memburuk sehingga ia tidak mampu melaksanakan ibadah tersebut, pelaksanaan <em>qadhā</em> menjadi wajib disegerakan.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>: Puasa sunnah enam hari Syawwāl dilaksanakan setelah puasa Ramadhan, dikarenakan hadits:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Siapa yang berpuasa Ramadhan lalu mengikutkannya (melanjutkannya) dengan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka itu senilai puasa setahun penuh</em>.” [HR Muslim dalam <em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span></em>-nya no. 1164.]</p>
<p style="text-align: justify;">[Pembahasan lain tentang puasa Syawwāl dapat dilihat di <a href="../2011/09/18/puasa-syawwal-di-luar-bulan-syawwal/">sini</a>.]</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan pendapat bahwa orang yang masih berkewajiban meng-<em>qadhā</em> Ramadhan diperkenankan untuk berpuasa sunnah, dengan memperhatikan hal-hal di atas, adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>: Tidak ada dalil/teks dari Pembuat Syariat (<em>Syāri`</em>) yang melarang hal tersebut;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>: Untuk hal yang bersifat <em>wajib muwassa`</em> (kewajiban yang tidak harus disegerakan), seorang hamba diperkenankan melaksanakan ibadah sunnah dengan jenis yang sama, sebelum pelaksanaan kewajiban itu. Contohnya, seseorang yang melaksanakan shalat Zhuhur satu jam sebelum waktu Zhuhur berakhir, misalnya, tetap dapat melaksanakan shalat sunnah Qabliyyah Zhuhur.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun demikian, Sa`īd ibn al-Musayyib berkata tentang puasa sunnah pada sepuluh hari Dzul Hijjah,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">لا يصلح حتى يبدأ برمضان</span></p>
<p style="text-align: justify;">“Tidaklah baik (untuk dilakukan), kecuali setelah ia menunaikan kewajiban puasa Ramadhan.” [Ucapan ini diriwayatkan oleh al-Bukhariy dalam <em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span></em>-nya II/688, secara <em>mu`allaq</em>.]</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn <span style="text-decoration: underline;">H</span>ajar berkata,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">وظاهر قوله جواز التطوع بالصوم لمن عليه دين من رمضان الا أن الأولى له أن يصوم الدين أولا لقوله لا يصلح فإنه ظاهر في الإرشاد إلى البداءة بالاهم والآكد</span></p>
<p style="text-align: justify;">“Zahir dari ucapan beliau adalah bolehnya berpuasa sunnah bagi orang yang masih memiliki hutang puasa Ramadhan. Namun, yang lebih utama adalah menyelesaikan hutang puasanya terlebih dulu. Ucapan beliau: ‘tidaklah baik (untuk dilakukan)’, zahirnya adalah untuk memberikan arahan agar seseorang mulai dengan hal yang lebih urgen dan prioritas.” [<em>Fat-<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-Bāriy</em> IV/189.]</p>
<p style="text-align: justify;">Secara zahir, apa yang dikatakan oleh Ibn al-Musayyib juga merupakan pilihan fiqh Imam al-Bukhari<span style="text-decoration: underline;">y</span>. Sebab, di dalam kitab <em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>ī<span style="text-decoration: underline;">h</span></em>-nya, beliau memasukkan kutipan itu ke dalam bab yang diberi judul: <em>Matā yuqdhā qadhā-[u] Ramadhān?</em> (Kapan puasa <em>qadhā</em> Ramadhan dilakukan?). Demikian yang dapat disampaikan. <em>Wallāh[u] a`lam</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>~adni kurniawan</strong>, semoga Allah merahmatinya</p>
<p style="text-align: justify;">Referensi: <em>Al-Tarjī<span style="text-decoration: underline;">h</span> fī Masā-il al-Shawm wa al-Zakāh</em>, karya Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad ibn `Umar Bāzmūl, hlm. 85 – 87, dengan perubahan.</p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://www.wathakker.net/designs/images/fating.jpg">sini</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/09/berpuasa-sunnah-sebelum-meng-qadha-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>QS 53: 48 &#8211; DIA yang Memberikan Kekayaan dan &#8230;</title>
		<link>http://adniku.com/2011/09/qs-53-48-dia-yang-memberikan-kekayaan-dan/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/09/qs-53-48-dia-yang-memberikan-kekayaan-dan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 15:57:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Quran]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=498</guid>
		<description><![CDATA[Allah `Azza wa Jalla berfirman: وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى {43} وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا {44} وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنثَى {45} مِن نُّطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى {46} وَأَنَّ عَلَيْهِ النَّشْأَةَ الْأُخْرَى... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/09/qs-53-48-dia-yang-memberikan-kekayaan-dan/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/09/QS-53-48-Dia-yang-Memberikan-Kekayaan.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-499" title="QS 53 - 48 - Dia yang Memberikan Kekayaan" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/09/QS-53-48-Dia-yang-Memberikan-Kekayaan.jpg" alt="" width="368" height="294" /></a>Allah <em>`Azza wa Jalla</em> berfirman:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى {43} وَأَنَّهُ هُوَ أَمَاتَ وَأَحْيَا {44} وَأَنَّهُ خَلَقَ الزَّوْجَيْنِ الذَّكَرَ وَالْأُنثَى {45} مِن نُّطْفَةٍ إِذَا تُمْنَى {46} وَأَنَّ عَلَيْهِ النَّشْأَةَ الْأُخْرَى {47} وَأَنَّهُ هُوَ أَغْنَى وَأَقْنَى {48}</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Dan bahwa Dia yang menjadikan tertawa dan menangis, dan bahwa Dia yang mematikan dan menghidupkan, dan bahwa Dia yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita. dari air mani, apabila dipancarkan; dan bahwa Dia yang menetapkan kejadian yang lain (kebangkitan sesudah mati), dan bahwa <span style="color: #800000;"><strong><span style="text-decoration: underline;">Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan</span></strong></span></em><span style="color: #800000;">.</span>” (QS al-Najm/53: 43 -48.)</p>
<p style="text-align: justify;">Allah <em>Ta`ālā</em> memberikan <strong>KEKAYAAN</strong> dan <strong>KECUKUPAN</strong>. Ya, bukan <span style="color: #800000;"><strong>KEMISKINAN</strong></span>. Jika kita perhatikan, ayat di atas berbicara tentang hal yang berlawanan: tertawa-menangis, kematian-kehidupan, pria-wanita. Namun, ketika menyebut tentang kekayaan, ternyata lawannya adalah kecukupan, dan bukan kemiskinan.</p>
<p style="text-align: justify;">Benarkah penerjemahan ayat di atas? Benar, insya Allah. Meski tidak dipungkiri adanya perbedaan tafsir dalam hal ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara harfiah, kata “<em>aqnā</em>” dalam ayat tersebut memiliki akar kata yang sama dengan <em>qin-yah</em>, yang bermakna apa yang dikumpulkan (lihat <em>Lisān al-`Arab</em>, vol. ke-42, hlm. 3760), atau dari kata <em>qaniy[a]</em>, yang berarti ridha (lihat <em>al-Mu`jam al-Wasīth</em>, hlm. 763).</p>
<p style="text-align: justify;">Terkait ayat dimaksud, penulis kitab <em>Mufradāt al-Qur-ān</em> berkata,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">قوله تعالى: {أغنى وأقنى} [النجم / 48] أي: أعطى ما فيه الغنى وما فيه القنية أي:  المال المدخر؛ وقيل: (أقنى): أرضى.</span></p>
<p style="text-align: justify;">“Maknanya, Dia memberikan apa-apa yang mengandung kekayaan dan memberikan <em>qin-yah</em>, yakni harta yang disimpan. Ada juga yang berpendapat bahwa makna kata <em>aqnā</em> adalah membuat ridha.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Katsīr berkata ketika menafsirkan ayat tersebut,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">{أنه هو أغنى وأقنى} أي ملك عباده المال وجعله لهم قِنْيَة مقيما عندهم لا يحتاجون إلى بيعه فهذا تمام النعمة عليهم وعلى هذا يدور كلام كثير من المفسرين منهم أبو صالح وابن جرير وغيرهما</span></p>
<p style="text-align: justify;">“Maknanya adalah Dia memberikan kepemilikan harta kepada para hamba-Nya dan menjadikan harta itu sebagai <em>qin-yah</em> (sesuatu yang dikumpulkan) yang tetap di sisi mereka, sehingga mereka tidak perlu menjualnya. Ini adalah kesempurnaan nikmat kepada para hamba-Nya. Seputar inilah berkisar pendapat banyak ahli tafsir, antara lain Abū Shālih, Ibn Jarīr (al-Thabari<span style="text-decoration: underline;">y</span>) dan selain keduanya.” (Lihat <em>Tafsīr Ibn Katsīr</em>, vol. IV, hlm. 330.)</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn al-Jauzi<span style="text-decoration: underline;">y</span> berkata ketika menjelaskan makna kata <em>aqnā</em>,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">وفي قوله أقنى ثلاثة أقوال: أحدها: أرضى بما أعطى، قاله ابن عباس. والثاني: أخدم، قاله الحسن وقتادة وعن مجاهد كالقولين. والثالث: جعل للإنسان قنية، وهو أصل مال، قاله أبو عبيدة.</span></p>
<p style="text-align: justify;">“Dalam memaknai kata <em>aqnā</em>, terdapat tiga pendapat (di kalangan ahli tafsir). <em>Pendapat Pertama</em>: (Makna <em>aqnā</em> adalah) menjadikan ridha (<em>ardhā</em>) terhadap apa yang Dia berikan, ini adalah pendapat Ibn `Abbās. <em>Pendapat Kedua</em>: Maknanya adalah menjadikan (kekayaan itu) sebagai pelayan (<em>akhdam[a]</em>). Ini adalah pendapat al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>asan dan Qatādah. Adapun dari Mujāhid, maka pendapatnya adalah seperti dua pendapat tersebut. <em>Pendapat Ketiga</em>: Dia menjadikan <em>qin-yah</em> bagi manusia, yakni <strong>pokok harta</strong>. Ini adalah pendapat Abū `Ubaydah.” (Lihat <em>Zād al-Masīr fī `Ilm al-Tafsīr</em>, vol. VIII, hlm. 83.)</p>
<p style="text-align: justify;">Memang ada juga pendapat yang memaknai <em>aqnā</em> dengan <em>afqar[a]</em> (menjadikan kefakiran), sebagaimana pendapat Ibn Zayd, al-Akhfasy, dan demikian pula al-Hadlrami<span style="text-decoration: underline;">y</span>, yang disebutkan oleh al-Alūsi<span style="text-decoration: underline;">y</span> (Lihat <em>Rūh al-Ma`ānī</em>, vol. XXVII, hlm. 69).</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan mereka adalah ayat-ayat sebelumnya menyebutkan kata-kata yang berlawanan: tertawa-menangis, kematian-kehidupan, pria-wanita. Mereka kemudian berpendapat bahwa padanan dari kekayaan adalah kefakiran. Namun, secara kebahasaan, pendapat ini tampaknya sulit diterima, karena asal kata <em>aqnā</em> berbeda dengan fakir. Mungkin karena lemahnya pendapat ini, Ibn al-Jawzi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, tidak menyebutkannya ketika membahas ayat dimaksud, sebagaimana kutipan di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah, Allah <em>`Azza wa Jalla</em> tidak menjanjikan kefakiran bagi para hamba-Nya. Adalah setan yang menjanjikan demikian. Allah berfirman,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَاء وَاللّهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keburukan; sementara Allah menjadikan untukmu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui</em>.” (QS al-Baqarah/2: 268.)</p>
<p style="text-align: justify;">Karena itu, tidak ada yang patut disalahkan dari kefakiran selain diri kita sendiri, atau sistem yang rusak karena menyimpang dari jalan Ilahi dan sejalan dengan propaganda setan. <em>Wallāh[u] a`lam</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Salam,</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>~adni kurniawan</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/09/qs-53-48-dia-yang-memberikan-kekayaan-dan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyempurnakan Puasa &#8216;Syawwal&#8217; di Luar Bulan Syawwal?</title>
		<link>http://adniku.com/2011/09/puasa-syawwal-di-luar-bulan-syawwal/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/09/puasa-syawwal-di-luar-bulan-syawwal/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 14:51:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa -- Konsultasi]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Puasa]]></category>
		<category><![CDATA[fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[fiqh]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan: Seorang wanita telah berpuasa empat hari dari enam hari puasa sunnah Syawwāl. Tapi kemudian datanglah haid di akhir Syawwāl. Sementara ia belum menyempurnakan puasa enam hari tersebut. Masih tersisa... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/09/puasa-syawwal-di-luar-bulan-syawwal/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/09/aku-ingin-bertanya.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-492" title="aku ingin bertanya" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/09/aku-ingin-bertanya-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Pertanyaan: </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Seorang wanita telah berpuasa empat hari dari enam hari puasa sunnah Syawwāl. Tapi kemudian datanglah haid di akhir Syawwāl. Sementara ia belum menyempurnakan puasa enam hari tersebut. Masih tersisa dua hari. Apakah ia dapat menyempurnakan puasa itu setelah Syawwāl?</span></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Jawab: </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Al<span style="text-decoration: underline;">h</span>amdulillāh</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Imam Muslim meriwayatkan dalam <em>Sha<span style="text-decoration: underline;">h</span>i<span style="text-decoration: underline;">h</span></em>-nya (no. 1164), dari Abū Ayyūb al-Anshari<span style="text-decoration: underline;">y</span> RA, bahwa Nabi SAW bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ</span></p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Siapa yang berpuasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan (puasa) enam hari dari Syawwāl, maka ia seperti berpuasa setahun penuh</em>.”</p>
<p style="text-align: justify;">Zahir hadits menunjukkan bahwa pahala tersebut dikhususkan bagi orang yang berpuasa enam hari di bulan Syawwāl.</p>
<p style="text-align: justify;">Ulama berbeda pendapat tentang orang yang berpuasa enam hari dimaksud di luar bulan Syawwāl, baik karena adanya suatu udzur atau selainnya, apakah ia mendapatkan <em>fadhīlah</em> puasa seperti halnya pelaksanaannya di bulan Syawwāl? Dalam hal ini, ada beberapa pendapat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Pendapat Pertama</em></strong><strong>: </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sekelompok ulama madzhab Mālikiy dan sebagian <span style="text-decoration: underline;">H</span>anbali<span style="text-decoration: underline;">y</span> berpendapat bahwa <em>fadhīlah</em> tersebut didapatkan oleh seseorang yang berpuasa enam di bulan Syawwāl maupun setelahnya. Menurut mereka, penyebutan kata “Syawwāl” dalam hadits di atas adalah dalam konteks memberikan keringanan (<em>taysīr</em>). Sebab, pelaksanaan puasa enam hari setelah bulan Ramadhān (Syawwāl) lebih mudah ketimbang berpuasa setelah Syawwāl.</p>
<p style="text-align: justify;">Al-`Adawi<span style="text-decoration: underline;">y</span> berkata dalam <em><span style="text-decoration: underline;">H</span>asyiyah</em>-nya terhadap <em>Syar<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-Khurasyi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em> (vol. II, hlm. 243), “Sesungguhnya Pembuat Syariat mengatakan ‘dari Syawwāl’ untuk memberi keringanan dalam puasa, dan bukan untuk mengkhususkan hukumnya dengan waktu tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tidak diragukan lagi bahwa berpuasa enam hari di sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah adalah lebih baik, dengan mempertimbangkan apa yang diriwayatkan tentang keutamaan puasa pada waktu itu. Sebab, maksudnya telah tercapai dengan seiring keutamaan hari-hari tersebut. Bahkan, pelaksanaan puasa enam hari di bulan Dzul Qa`dah juga baik. Intinya, segala sesuatu yang semakin lama waktu pelaksanaannya maka semakin banyak pula pahalanya, karena semakin tinggi tingkat kesulitannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Dikutip dalam <em>Tahdzīb Furūq al-Qarāfi<span style="text-decoration: underline;">y</span></em>, karya Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad ibn `Ali<span style="text-decoration: underline;">y</span> ibn <span style="text-decoration: underline;">H</span>usayn, mufti madzhab Māliki<span style="text-decoration: underline;">y</span> di Makkah, yang dicetak bersama kitab <em>al-Furūq</em> (vol. II, hlm. 191), dari Ibn `Arabi<span style="text-decoration: underline;">y</span> al-Māliki<span style="text-decoration: underline;">y</span>, bahwa sabda Nabi SAW: “dari Syawwāl” adalah dalam konteks permisalan. Maksudnya adalah, puasa Ramadhān setara dengan sepuluh bulan (300 hari, sepuluh kali lipatnya), sementara puasa enam hari setara dengan dua bulan (60 hari, sepuluh kali lipatnya). Ini adalah madzhab (Imam Mālik). Sekiranya puasa itu dilakukan di luar Syawwāl, maka hukumnya juga sama. Beliau berkata, “Ini adalah perspektif yang mengagumkan, maka ketahuilah.” Selesai kutipan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn Mufli<span style="text-decoration: underline;">h</span> berkata dalam <em>al-Furū`</em> (vol. III, hlm. 108), “Terdapat kemungkinan mendapatkan <em>fadhīlah</em> dengan berpuasa enam hari di luar Syawwal, sejalan dengan pendapat sebagian ulama, sebagaimana disebutkan oleh al-Qurthubi<span style="text-decoration: underline;">y</span>. Sebab, keutamaan puasa tersebut adalah karena <em>al-<span style="text-decoration: underline;">h</span>asanah bi `asyr amtsālihaā</em> (satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya), sebagaimana dalam riwayat Tsaubān. Dengan demikian, penyebutannya dengan Syawwāl adalah sebagai <em>rukhshah</em> (kemudahan), karena orang-orang terbiasa dan merasa mudah berpuasa di dalamnya. Dan, <em>rukhshah</em> tersebut lebih utama (untuk dilaksanakan).”</p>
<p style="text-align: justify;">Pernyataan di atas juga dikutip oleh penulis kitab <em>al-Inshāf</em>, lalu ia menyanggah, “Ini adalah pendapat yang lemah dan menyelisihi hadits. Dikaitkan keutamaan puasa enam hari Syawwāl dengan puasa Ramadhan adalah karena ia merupakan pasangannya, dan bukan karena ‘satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya’. Sebab, puasa enam hari Syawwal setara dengan puasa Ramadhan dari sisi (mendapatkan) keutamaan (<em>fadhīlah</em>) puasa wajib.”  Selesai kutipan dari <em>al-Inshāf</em> (vol. III, hlm. 344).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Pendapat Kedua:   </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sekelompok ulama bermadzhab Syāfi`i<span style="text-decoration: underline;">y</span> berpendapat bahwa orang yang terlewatkan puasa enam hari Syawwāl maka ia meng-<em>qadhā</em> di bulan Dzul Qa`dah.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, pahalanya kurang apabila dibandingkan ia berpuasa pada bulan Syawwāl. Orang yang berpuasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan puasa enam hari Syawwāl maka ia mendapat pahala puasa <span style="text-decoration: underline;">wajib</span> setahun. Berbeda halnya dengan ia berpuasa Ramadhān dan enam hari di luar Syawwāl, ia mendapatkan pahala Ramadhan, dan pahala enam hari puasa sunnah.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibn <span style="text-decoration: underline;">H</span>ajar al-Makki<span style="text-decoration: underline;">y</span> berkata dalam <em>Tu<span style="text-decoration: underline;">h</span>fah al-Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>tāj</em> (vol. III, hlm. 456), “Siapa yang berpuasa enam hari Syawwāl bersama puasa Ramadhan tiap tahun maka ia seperti berpuasa wajib sepanjang tahun, dengan tanpa pelipatgandaan. Siapa yang berpuasa enam hari di luar Syawwāl maka puasanya adalah puasa sunnah (juga) dengan tanpa pelipatgandaan.”</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><em>Pendapat Ketiga: </em></strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak memperoleh keutamaan puasa tersebut, kecuali apabila seseorang itu berpuasa enam hari di bulan Syawwāl. Ini adalah madzhab <span style="text-decoration: underline;">H</span>anbali<span style="text-decoration: underline;">y</span>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dikatakan dalam <em>Kasysyāf al-Qinā`</em> (vol. II, hlm. 338), “Tidak memperoleh keutamaan puasa dimaksud dengan berpuasa enam hari di luar Syawwāl, berdasarkan zahir riwayat-riwayat dalam hal ini.” Selesai kutipan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun demikian, diharapkan orang yang berpuasa sebagiannya di bulan Syawwāl dan belum menyempurnakannya karena udzur tertentu, ia tetap mendapat pahala dan keutamaannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Syaikh Ibn Bāz berkata, “Tidak disyariatkan meng-<em>qadhā</em>-nya (menggantinya) setelah habisnya bulan Syawwal, karena ia adalah ibadah sunnah yang telah terlewatkan waktunya, baik ditinggalkan karena udzur maupun tanpa udzur.”</p>
<p style="text-align: justify;">Tentang wanita yang berpuasa empat hari di bulan Syawwal, dan belum sempurna puasanya karena kondisi-kondisi tertentu, beliau juga menyatakan, “Puasa enam hari Syawwal adalah ibadah sunnah, bukan wajib. Engkau mendapatkan pahala dari puasamu terhadap sebagian dari hari-hari tersebut. Diharapkan engkau mendapatkan pahalanya secara sempurna, jika penghalang dari pelaksanaannya secara utuh adalah karena udzur syar`i. Nabi SAW bersabda,</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">إذا مرض العبد أو سافر كتب الله له ما كان يعمل مقيماً صحيحاً</span></p>
<p style="text-align: justify;">“Jika seorang hamba sakit atau dalam kondisi musafir, Allah mencatat baginya apa yang biasanya ia amalkan pada kondisi sehat dan bermukim.” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari<span style="text-decoration: underline;">y</span> dalam <em>S<span style="text-decoration: underline;">h</span>ahi<span style="text-decoration: underline;">h</span></em>-nya. Engkau tidak harus meng-<em>qadhā</em> (mengganti) apa yang terlewatkan darinya. <em>Wallāhul-muwaffiq</em>. Selesai kutipan dari <em>Majmū` Fatāwā al-Syaykh Ibn Bāz</em> (XV/389, 395).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan: </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Terkait pelaksanaan puasa enam hari di luar bulan Syawwāl, sekelompok ulama berpendapat untuk (tetap dianjurkan) berpuasa seperti halnya pelaksanaannya pada bulan Syawwāl. Namun, sebagian mereka menyatakan bahwa keutamaannya masih di bawah puasa enam hari Syawwāl. Ada juga yang mengharapkan (kesempurnaan) pahalanya bagi orang yang tidak dapat menyempurnakan puasa Syawwāl karena adanya udzur.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Keutamaan Allah sangat luas. Pemberian-Nya tiada batasnya.</span></p>
<p style="text-align: justify;"><span style="color: #800000;">Sekiranya wanita penanya tersebut berpuasa dua hari kekurangannya di bulan Dzul Qa`dah sebagai ganti dari yang terlewatkan pada bulan Syawwāl, maka hal itu baik, dan semoga ia mendapatkan ganjaran dan pahala, insya Allah. <em>Wallāh[u] a`lam</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">الإسلام سؤال وجواب</span></p>
<p style="text-align: justify;">Alih bahasa: <strong>Adni Kurniawan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber artikel: situs resmi Syaikh Mu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ammad Shali<span style="text-decoration: underline;">h</span> al-Munajjid: Fatwa no. 83292: <a href="http://islamqa.com/ar/ref/83292">http://islamqa.com/ar/ref/83292</a></p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://penajariku.files.wordpress.com/2010/07/pertanyaan21.jpg">sini</a>.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify; line-height: 125%;" dir="rtl"><span style="font-size: 14pt; line-height: 125%;" lang="AR-SA">من فاته صيام الست من شوال هل يصومها في ذي القعدة؟<strong></strong></span></p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL"><strong>امرأة صامت أربعة من الأيام الست في شوال ثم جاءها الحيض في نهاية شوال ولم تكمل الست ، ولم يبق لها سوى يومين ، هل تستطيع أن تكمل الست من شوال بعد شوال أم لا ؟</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">الحمد لله</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">روى مسلم في صحيحه (1164) عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ ).<br />
وظاهر الحديث أن تحصيل هذا الأجر إنما يكون لمن صام الست في شوال .</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">واختلف أهل العلم فيمن صام الست في غير شوال ، لعذر أو غيره ، هل يحصل له فضيلة صومها في شوال ، على أقوال :</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">القول الأول :</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ذهب جماعة من المالكية وبعض الحنابلة إلى أن الفضيلة تحصل لمن صام ستة أيام في شوال أو بعده، وأن الحديث إنما ذكر شوال من باب التيسير على المكلف ، لأن صومها بعد رمضان أسهل من صومها بعد ذلك .</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">قال العدوي في حاشيته على شرح الخرشي : (2/243) : &#8221; وإنما قال الشارع : ( من شوال ) للتخفيف باعتبار الصوم ، لا تخصيص حكمها بذلك الوقت ، فلا جرم أن فعلها في عشر ذي الحجة مع ما روي في فضل الصيام فيه أحسن ؛ لحصول المقصود مع حيازة فضل الأيام المذكورة , بل فعلها في ذي القعدة حسن أيضا , والحاصل : أن كل ما بعد زمنه كثر ثوابه لشدة المشقة &#8221; انتهى.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ونقل في &#8220;تهذيب فروق القرافي&#8221; لمحمد بن علي بن حسين مفتي المالكية بمكة ، المطبوع مع الفروق (2/191) عن ابن العربي المالكي أن قوله صلى الله عليه وسلم : (من شوال) &#8220;على جهة التمثيل ، والمراد : أن صيام رمضان بعشرة أشهر ، وصيام ستة أيام بشهرين ، وذلك المذهب [يعني مذهب الإمام مالك] ، فلو كانت من غير شوال لكان الحكم فيها كذلك ، قال : وهذا من بديع النظر فاعلموه&#8221; انتهى.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وقال ابن مفلح رحمه الله في &#8220;الفروع&#8221; (3/108) : &#8221; ويتوجه احتمال : تحصل الفضيلة بصومها في غير شوال , وفاقا لبعض العلماء , ذكره القرطبي , لأن فضيلتها كون الحسنة بعشر أمثالها , كما في خبر ثوبان , ويكون تقييده بشوال لسهولة الصوم لاعتياده رخصة , والرخصة أولى&#8221; انتهى .</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ونقله صاحب الإنصاف وتعقبه بقوله : &#8221; قلت : وهذا ضعيف مخالف للحديث , وإنما ألحق بفضيلة رمضان لكونه حريمه , لا لكون الحسنة بعشر أمثالها ; ولأن الصوم فيه يساوي رمضان في فضيلة الواجب &#8221; انتهى من &#8220;الإنصاف&#8221; (3/344).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">القول الثاني :</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">ذهب جماعة من الشافعية إلى أن من فاته صيام ست من شوال قضاها في ذي القعدة .</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">لكن ثوابها يكون دون ثواب من صامها في شوال ، فمن صام رمضان وأتبعه بست من شوال كان له ثواب صيام سنةٍ فرضا ، بخلاف من صام رمضان وستة من غير شوال ، فهذا له ثواب رمضان وثواب ستة أيام نفلا.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">قال ابن حجر المكي في &#8220;تحفة المحتاج&#8221; (3/456) : &#8221; من صامها مع رمضان كل سنة تكون كصيام الدهر فرضا بلا مضاعفة ، ومن صام ستةً غيرها كذلك تكون كصيامه نفلا بلا مضاعفة&#8221; انتهى.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">القول الثالث:</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">أنه لا تحصل فضيلتها إلا بصومها في شوال ، وهو مذهب الحنابلة.</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">قال في &#8220;كشاف القناع&#8221; (2/338) : &#8221; ولا تحصل الفضيلة بصيامها أي : الستة أيام في غير شوال ، لظاهر الأخبار&#8221; انتهى .</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">لكن يرجى لمن صام بعضها ولم يكملها لعذر أن ينال أجرها وفضيلتها .</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">قال الشيخ ابن باز رحمه الله : &#8221; ولا يشرع قضاؤها بعد انسلاخ شوال ؛ لأنها سنة فات محلها ، سواء تركت لعذر أو لغير عذر &#8221; .</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">وقال فيمن صامت أربعة أيام من شوال ولم تكمل الست لبعض الظروف : &#8221; صيام الأيام الستة من شوال عبادة مستحبة غير واجبة ، فلك أجر ما صمت منها ، ويرجى لك أجرها كاملة إذا كان المانع لك من إكمالها عذراً شرعياً ؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ( إذا مرض العبد أو سافر كتب الله له ما كان يعمل مقيماً صحيحاً ) رواه البخاري في صحيحه . وليس عليك قضاء لما تركت منها . والله الموفق &#8221; انتهى من &#8220;مجموع فتاوى الشيخ ابن باز&#8221; (15/389 ، 395).</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">والحاصل :</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">أن صيام الست من غير شوال ، من أهل العلم من رآه كصيامها في شوال ، ومنهم من أثبت لها فضلا لكن دون فضل الست في شوال . ومنهم من رجي الثواب لمن لم يكملها لعذر ، وفضل الله واسع ، وعطاؤه لا منتهى له ، فلو أن هذه الأخت صامت يومين من ذي القعدة عوضا عما فاتها من شوال ، كان ذلك حسنا ، ويرجى لها الثواب والأجر إن شاء الله .</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">والله أعلم .</p>
<p style="text-align: justify;" dir="RTL">الإسلام سؤال وجواب</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/09/puasa-syawwal-di-luar-bulan-syawwal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mukjizat Jumlah Kata dalam Quran</title>
		<link>http://adniku.com/2011/09/mukjizat-jumlah-kata-kata-yang-serasi-dalam-quran/</link>
		<comments>http://adniku.com/2011/09/mukjizat-jumlah-kata-kata-yang-serasi-dalam-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 09:53:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adni</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan Keislaman]]></category>
		<category><![CDATA[Quran]]></category>
		<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[quran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://adniku.com/?p=466</guid>
		<description><![CDATA[Ada buku menarik yang ditulis oleh seorang peneliti Quran bernama `Abd al-Razzāq Nawfal. Judul buku itu adalah al-I`jāz al-`Adadiy li al-Qur-ān al-Karīm (Mukjizat Bilangan dalam Quran). Buku ini membahas keserasian... <span class="meta-more"><a href="http://adniku.com/2011/09/mukjizat-jumlah-kata-kata-yang-serasi-dalam-quran/">Read more &#187;</a></span>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/09/numbers_resize_resize1.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-468" title="numbers_resize_resize" src="http://adniku.com/wp-content/uploads/2011/09/numbers_resize_resize1.jpg" alt="" width="250" height="241" /></a>Ada buku menarik yang ditulis oleh seorang peneliti Quran bernama `Abd al-Razzāq Nawfal. Judul buku itu adalah <em>al-I`jāz al-`Adadi<span style="text-decoration: underline;">y</span> li al-Qur-ān al-Karīm</em> (Mukjizat Bilangan dalam Quran). Buku ini membahas keserasian jumlah kata-kata yang berpadanan atau berkaitan dalam Quran, misalnya: dunia &#8211; akhirat, malaikat &#8211; setan, dan seterusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketertarikan penulis untuk menyusun buku ini diawali oleh ketidaksengajaan. Ketika menyusun buku <em>al-Islām dīn wa dun-yā</em> (Islam: Agama dan Dunia, yang dicetak pertama kali pada tahun 1959), penulis mendapati bahwa kata “dunia” dan “akhirat” diulang dalam Quran dalam jumlah yang sama, yakni sebanyak 115 kali. Begitu pula ketika penulis menyusun buku <em>`Ālam al-Jinn wa al-Malāi-kah</em> (Alam Jin dan Malaikat, yang dicetak pertama kali pada tahun 1968), penulis mendapatkan bahwa kata “setan” dan “malaikat” diulang dalam jumlah yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Temuan itu kemudian mendorong penulis untuk meneliti lebih dalam tentang keserasian jumlah kata-kata yang berpadanan dalam Quran, sehingga akhirnya lahirlah buku dimaksud.  Data-data yang disebutkan dalam buku ini semakin menegaskan bukti bahwa Quran adalah Firman Allah <em>`Azza wa Jalla</em>, dan bukan produk manusia.</p>
<p style="text-align: justify;">Keserasian jumlah perulangan padanan kata dalam Quran yang disebutkan oleh penulis antara lain:</p>
<ul>
<li>Kata “dunia” dan “akhirat” sebanyak 115 kali;</li>
<li>Kata “setan” dan “malaikat” berikut derivatnya sebanyak 88 kali;</li>
<li>Kata “kematian” dan “kehidupan” berikut derivatnya, yang terkait dengan kehidupan/kematian makhluk, sebanyak 145 kali;</li>
<li>Kata “manfaat” (<em>naf`[u]</em>) dan “kerusakan” (<em>fasād</em>) berikut derivatnya, sebanyak 50 kali;</li>
<li>Kata “dingin –musim dingin” (<em>bard-syitā-[un]</em>) dan “panas-musim panas”  (<em>harr</em>-<em>shayf</em>), total masing-masing terulang sebanyak 5 kali;</li>
<li>Kata “kebaikan” (<em>shālihāt</em>) dan “keburukan” (<em>sayyi-āt</em>) berikut derivatnya, sebanyak 167 kali;</li>
<li>Kata “kekufuran” dan “keimanan” sebanyak 25 kali;</li>
<li>Kata “<em>Rahmān</em>” (Maha Pengasih) sebanyak 57 kali, sementara kata “<em>Rahīm</em>” (Maha Penyayang) yang berkaitan dengan Allah <em>`Azza wa Jalla</em> sebanyak 114 kali (dua kali lipat);</li>
<li>Kata “iblis” dan “<em>isti`adzah</em>” sebanyak 11 kali;</li>
<li>Kata “musibah”, “sedikit” dan “syukur”, berikut derivatnya, sebanyak 75 kali;</li>
<li>Kata “zakat” dan “berkah” berikut derivatnya sebanyak 32 kali;</li>
<li>Kata “lisan” dan nasehat” (<em>maw`izhah</em>) berikut derivatnya, sebanyak 25 kali;</li>
<li>Kata “cinta” (<em>mahabbah</em>) dan “ketaatan” berikut derivatnya, sebanyak 83 kali;</li>
<li>Kata “kebajikan” (<em>birr</em>) dan “ganjaran” (<em>tsawāb</em>) berikut derivatnya, sebanyak 20 kali;</li>
<li>Kata “<em>raghbah</em>” (harapan) dan “<em>rahbah</em>” (kecemasan) sebanyak 8 kali;</li>
<li>Kata “balasan” (<em>jazā’</em>) sebanyak 117, sementara “ampunan” (<em>maghfirah</em>), berikut derivatnya sebanyak 234 kali (dua kali lipat);</li>
<li>Kata “bulan” (<em>syahr</em>) terulang sebanyak 12 kali, sama dengan jumlah bulan dalam setahun;</li>
<li>Kata “hari” (<em>yawm</em>) total perulangannya sebanyak 365 kali, sama dengan jumlah hari dalam setahun, dan perulangan kata tersebut dalam bentuk plural sebanyak 30 kali, atau setara dengan jumlah hari dalam sebulan.</li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Masih banyak lagi data hasil penelitian dalam buku dimaksud yang tidak kami cantumkan di sini. Untuk hasil penelitian selengkapnya berikut detail penjelasannya, silakan merujuk kepada literatur aslinya, yang <em>e-book</em>-nya (format PDF) dapat diunduh di: <a href="http://waqfeya.com/book.php?bid=5607">http://waqfeya.com/book.php?bid=5607</a></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan adanya data-data tersebut, kita semakin meyakini kebenaran dan otentisitas Quran sebagai Kalam Ilahi, bukan sebagai buatan manusia atau produk sejarah, sebagaimana digaungkan oleh orang-orang kafir serta kalangan liberal. <em>Wallāhu a`lam bish-shawāb</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber: <em>al-I`jāz al-`Adadi<span style="text-decoration: underline;">y</span> li al-Qur-ān al-Karīm</em>, `Abd al-Razzāq Nawfal, Dār al-Kitāb al-`Arabi<span style="text-decoration: underline;">y</span>, Beirut, cet. ke-5, 1407 H/1987.</p>
<p style="text-align: justify;">*Sumber gambar dari hasil pencarian Google di <a href="http://getbetterhealth.com/wp-content/uploads/2011/03/numbers.jpg">sini</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://adniku.com/2011/09/mukjizat-jumlah-kata-kata-yang-serasi-dalam-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

